batampos.co.id – Pandemi Covid-19 yang bekepanjangan membuat banyak sektor usaha di Batam terdampak. Itu sebabnya, pelaku usaha sangat membutuhkan insentif, baik dari pemerintah maupun dari pelaku usaha lain terkait, yang memiliki ketergantungan pasokan sumber daya dari sektor usaha lain.

Contohnya sektor bisnis pariwisata, restoran, industri. Mereka sangat berharap bright PLN Batam memberikan diskon tarif listrik, sebagaimana yang dinikmati pengusaha di luar Batam selama ini.

”Memang sudah ada insentif dari PLN Batam pelanggan industri dan bisnis, berupa Turun Daya Sementara (TDS). Kami apresiasi itu karena meringankan beban pelaku usaha terdampak Covid-19 di Batam, tapi itu belum cukup karena yang berkurang hanya biaya beban, bukan tarif,” ujar Ketua Asosias Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, Rabu (28/7).

Maksud dari TDS adalah memberi keringanan tagihan listrik berupa penurunan daya sampai level terendah pada kelompok daya listriknya, sehingga tagihan biaya beban yang dibayarkan pelanggan akan berkurang setiap bulannya. Dengan kemudahan tersebut, pengusaha khususnya hotel dan restoran yang terkena dampak paling besar dapat menurunkan daya sementara serta pembebasan biaya penambahan daya kembali ke daya semula, setelah kondisi ekonomi nanti membaik.

Menurut Rafki, jika dilihat dari skema turun daya sementara yang diberikan PLN Batam itu, tidak begitu signifikan meringankan beban pelanggan PLN Batam dari kalangan industri dan bisnis. ”Itu tadi, hanya biaya beban yang turun, bukan tarif,” ujar Rafki lagi.

Yang paling diharapkan dunia usaha saat ini pada PLN Batam adalah diskon besaran tarif listrik. Supaya pelaku usaha yang terdampak Covid-19 dapat bertahan di masa sulit ini. ”Untuk penagihan, baiknya juga bisa diberikan kelonggaran pembayaran. Misalnya dengan mencicil atau kemudahan lainnya,” harapnya.

Hal senada dikatakan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansur. Jauh lebih baik jika PLN Batam juga memberikan diskon tarif listrik, supaya lebih signifikan dampaknya. Ia juga berharap, stimulus berupa TDS bersifat tulus.

”Dunia perhotelan memang butuh insentif agar bisa bertahan di tengah pandemi. Bantuan PLN kami apresiasi, tapi jangan sampai ada ujung-ujungnya saat mau kembali ke daya normal, harus bayar uang jaminan listrik. Saya berharap yang terbaik dari PLN,” tuturnya.

Mansur juga mengatakan bahwa sektor pariwisata, khususnya perhotelan salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19. Sehingga bertahan saja termasuk sudah luar biasa.

Citramas Group yang membawahi dua resort, yakni Nongsa Point Marina (NPM) dan Turi Beach juga merasakan dampak luar biasa. ”(Kondisi) saat ini sangat buruk,” kata Naradewa kepada Harian Batam Pos, kemarin.

Ia menceritakan, awal pandemi memang memberikan dampak yang berat terhadap NPM dan Turi Beach. Tapi, turis lokal masih banyak yang menginap, sehingga masih ada pendapatan yang masuk. Walaupun harga yang ditawarkan, jauh di bawah harga standarnya.

”Resort ini notabene hotel kelas mahal. Tamunya biasanya dari turis asing, sehingga begitu tak ada yang masuk, mereka sangat menderita sekali. Tak hanya NPM atau Turi, bisa lihat juga resort-resort di Lagoi atau daerah Bintan lainnya,” ungkapnya.

Naradewa mengaku terus berkoordinasi dengan para pengelola resort di kawasan Lagoi, yang kebanyakan merupakan investasi dari Singapura. ”Sampai sekarang, juga tak buka-buka, mereka menderita juga akibat pandemi ini,” ujarnya.

Para pemilik resort, kata dia, tidak dapat berbuat banyak. Karena situasi pandemi Covid semakin parah dan telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, kondisi ini semakin parah dua bulan terakhir. Begitu kasus naik, jumlah turis lokal yang menginap pun langsung turun drastis.

”Minus sejak tahun lalu, dan sangat minus sekali sejak lepas Idulfitri. Kami sudah kena besi 2 ton di atas dada, napas pun susah,” ucapnya, memberi ilustrasi. (*/jpg)