batampos.co.id – Provinsi Kepri tidak hanya menjadi zona merah dalam hal tingkat penyebaran Covid-19, tapi juga zona merah dalam jumlah pengangguran.

Kepri tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia.

Pada Februari 2021 contohnya. TPT Kepri mencapai 10,12 persen,
jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 7,07 persen. Posisi kedua ditempati Jawa Barat.

Pada Februari 2021, Jawa Barat mencatatkan TPT sebesar 8,92 persen. Sementara TPT terendah di Indonesia dipegang Provinsi Sulawesi Barat, yakni hanya 3,28 persen.

Jauh di bawah rerata nasional. Di Provinsi Kepri, penduduk
terbesar ada di Kota Batam. Batam memberi kontribusi
besar angka pengangguran di Kepri.

Pada Agustus 2020 lalu saja, sudah mencapai 11,79 persen. Angka ini mengalami kenaikan 3,48 poin persen jika dibandingkan TPT Agustus 2019 yang hanya 8,31 persen.

”Benar, ada kenaikan TPT 3,48 persen pada Agustus 2020 dibandingkan TPT Agustus 2019,” ujar Kepala BPS Kota Batam, Rahmad Iswanto, Kamis (29/7). seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ilustrasi. Puluhan pencaker memadati bagian depan PT Panasonic Batam Centre beberapa waktu lalu. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Rahmad menyebutkan, secara angka, Agustus 2019 angka pengangguran di Batam hanya 57.602 orang.

Lalu meningkat tajam pada Agustus 2020 menjadi 87.903 orang.

”Peningkatannya sekitar 30.301 orang,” sebutnya.

TPT ini merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap di pasar kerja.

Berdasarkan data BPS, angkatan kerja Kota Batam pada Agustus 2020 sebanyak 745.545 orang.

Bertambah 52.427 orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2019. Sedangkan penduduk yang bekerja di Batam pada Agustus 2020 sebanyak 657.642 orang.

Bertambah 22.126 orang dibanding penduduk yang bekerja pada Agustus 2019.

Rahmad juga mengungkapkan, berdasarkan pendidikan yang
ditamatkan pada Agustus 2020, TPT cukup besar terdapat pada kelompok penduduk dengan tingkat pendidikan menengah (SMA Umum dan SMA Kejuruan) dan pendidikan tinggi.

Pada Agustus 2020, TPT untuk kelompok pendidikan menengah menjadi urutan tertinggi pertama, sebesar 14,09 persen.

Selanjutnya diikuti kelompok pendidikan tinggi dengan TPT sebesar 9,60 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa ada penawaran tenaga kerja yang berlebih, terutama pada tingkat pendidikan menengah dan tinggi, yang tidak terserap di pasar kerja.

Lalu apa yang menjadi pemicu tingginya angka pengangguran di Kepri, khususnya Batam? Rahmad mengungkapkan, hal ini tidak lepas dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia secara umum.

Sehingga menyebabkan banyak pekerja dirumahkan atau berhenti bekerja, kemudian statusnya berubah menjadi pengangguran.

”Pandemi ini berdampak besar pada banyak sektor usaha yang pada akhirnya banyak kehilangan pekerjaan dan masuk kategori pengangguran. Dan ini tidak terelakkan, karena kondisinya seperti itu,”ujarnya.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan angka pengangguran ini terus meningkat lebih tinggi di 2021 ini, sebab pandemi Covid masih terus berlangsung.

Bahkan lebih parah dari 2020. Sejumlah perusahaan yang melakukan rasionalisasi makin kesulitan, sehingga bisa saja melakukan pengurangan karyawan.

Paling tidak merumahkan karyawan, khususnya sektor pariwisata.

”Insya Allah, TPT tahun 2021 di Batam akan kita publikasikan pada akhir tahun ini,” ucapnya.

Rahmad menyarankan pemerintah daerah untuk mengurangi angka pengangguran.

Selain upaya lebih cepat mengatasi pandemi Covid-19, juga harus menciptakan lapangan kerja lebih banyak.

”Saya kira, berbagai kebijakan pemerintah perlu dioptimalkan untuk menciptakan lapangan kerja baru guna mengatasi pengangguran yang absolut di Batam,” ujarnya.(jpg)