batampos.co.id – Upaya pemerintah melakukan testing massal masih jauh dari harapan. Batam ditargetkan tiga ribu lebih pengambilan sampel, guna menemukan warga yang terpapar virus corona.

Kepala Puskesmas Tiban Baru, Ana Hasina, mengatakan, kendala di lapangan adalah warga banyak yang menolak untuk dites antigen.

Dalam satu hari capaian tertinggi hanya 55 sampel. Padahal
setiap puskesmas ditarget seribu sampel setiap harinya.

”Kami sudah turun ke pasar, bahkan perumahan untuk mengajak warga ikut tes antigen massal ini,” ujarnya, Kamis (29/7).

Ada beberapa faktor yang membuat kebijakan mengenai target tersebut tidak dapat dilakukan, salah satunya adalah kekurangan tenaga kesehatan (nakes).

Selain itu, warga juga berminat untuk tes antigen, berbeda dengan vaksin, karena merupakan suatu keharusan, karena sudah menjadi syarat hampir dalam semua aktivitas.

Untuk melakukan antigen, satu titik pihaknya menurunkan 5-6 tenaga medis saja.

Karena pelayanan di puskesmas juga harus tetap berjalan, belum lagi yang turun dalam pelaksanaan vaksinasi.

”Ada yang standby di satu titik dan ada yang mobile. Target juga tak dapat. Karena kami juga memikirkan untuk dokter yang harus ada di puskesmas,” jelasnya.

Faktor lain adalah rendahnya keinginan masyarakat dalam mengikuti tes antigen yang diselenggarakan gratis oleh pihak puskesmas.

”Beberapa bahkan ada yang menolak langsung. Kami juga tidak bisa memaksa, karena kami diminta untuk menjalankan antigen dengan sistem yang humanis,” tuturnya.

Hal senada juga diakui Kepala Puskesmas Seipanas, Anggie. Ia mengatakan, rendahnya angka testing lantaran kendala di lapangan yang dihadapi petugas.

Masyarakat dinilai masih takut sehingga enggan saat diminta tes antigen.

”Kontak erat menjadi prioritas kami dalam melakukan testing antigen ini, tetapi beberapa orang menolak karena merasa masih sehat. Sehingga diperlukan pendekatan dan komunikasi persuasif untuk menghadapi keadaan seperti itu,” katanya.

Untuk mencapai target, pihaknya menerapkan sistem jika ada satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, maka pemeriksaan akan dilakukan kepada minimal 15 orang dan maksimal 30 orang
kontak erat.

Anggie mengakui pihaknya bahkan kesulitan untuk mencapai angka 100 orang per hari.

Ia hanya berharap tidak ada temuan positif Covid-19 lagi di Kecamatan Bengkong, dan secara umum di Kota Batam.

”Targetnya tentu bisa zero kasus. Makanya kami berharap dari hasil testing ini pengendalian Covid-19 makin baik ke depannya,” katanya.(jpg)