batampos.co.id – Kasus Covid-19 di Provinsi Kepri, khususnya di Kota Batam, mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Biasanya kasus baru di Batam 200 hingga mendekati 500-an sehari, kini sudah di bawah 200.

Tak hanya jumlah kasus baru harian yang turun, tapi jumlah pasien sembuh juga terus bertambah banyak. Contohnya, data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri per 30 Juli, ada 545 pasien sembuh se-Kepri. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kasus positif di tanggal yang sama, yakni hanya 497 orang.

Hanya saja, jumlah kematian akibat Covid-19 masih tinggi. Terutama di dua daerah di Kepri, yakni Batam dan Tanjungpinang. Sehingga penurunan kasus harian dan meningkatnya angka kesembuhan belum bisa dijadikan patokan bahwa Kepri sudah aman dari Covid-19.

”Inilah yang perlu diwaspadai, angka kasus kematian sekarang ini menjadi 2,6 persen. Dibandingkan awal Juli, hanya 2,2 persen saja,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri, dr Rusdani, Minggu (1/8).

Rusdani mengatakan, pasien Covid-19 yang meninggal, umumnya akibat telat mendapatkan penanganan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjalani isolasi mandiri (isoman). ”Ada yang malas ke rumah sakit atau tertahan di rumah. Tapi kini, ada juga yang mengalami happy hypoxia,” ucapnya.

Happy hypoxia banyak dialami pasien Covid-19 yang menjalani isoman. Dia menjelaskan, happy hypoxia adalah kondisi saat kadar oksigen dalam tubuh rendah, tapi penderita tidak menunjukkan gejala kekurangan oksigen seperti sesak napas.

”Biasa, mereka terbiasa dengan sesak napasnya. Jadi, seolah-olah tidak mengalami sesak napas. Tapi begitu sudah berat baru terasa dan dibawa ke rumah sakit. Di sinilah kadang terlambatnya penanganan. Kejadian seperti ini semakin sering terjadi,” ujarnya.

Rusdani mengatakan, saat ini banyak masyarakat yang sudah memiliki oximeter. Tapi, belum tentu alat dimiliki masyarakat itu, benar-benar valid menghitung saturasi oksigen dalam tubuh.

”Kadang ada yang palsu atau abal-abal. Ada contoh kasusnya, ada pasien saat cek saturasi oksigen di rumah angkanya 98. Tapi beberapa jam kemudian dibawa ke rumah sakit, dicek saturasi oksigennya 88. Jadi, tidak mungkin saturasi itu menurun sedrastis itu, hati-hati terhadap alat yang tidak valid,” jelasnya.

Ia meminta kepada masyarakat yang sudah merasa sesak napas, agar segera datang ke rumah sakit. ”Setidaknya mereka dapat analisa dokter, apa mereka perlu perawatan rumah sakit atau di rumah saja. Jangan tunggu berat dulu,” tuturnya.

Kepada masyarakat, Rusdani juga berpesan agar tidak terbawa euforia, akibat adanya penurunan angka kasus Covid-19. Ancaman adanya peningkatan itu, masih mengintai Batam maupun Kepri. ”Tetap patuhi protokol kesehatan yang ada,” ucapnya.

Dia menyebutkan, peningkatan kasus beberapa waktu lalu, harus jadi pembelajaran bagi masyarakat. Karena, apabila masyarakat masih abai protkes, kemungkinan kasus kembali naik. ”Jangan kebablasan lagi, lost control. Jangan berpikiran, eh, sudah turun, jadi bisa happy-happy gitu tanpa penerapan protkes. Apalagi sekarang sudah boleh makan di tempat makan,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Rusdani, makan bersama itu, sangat meningkatkan potensi penyebaran Covid-19. Karena sudah pasti membuka masker dan bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama. ”Sekali lagi, jangan lengah, tetap waspada. Jaga dan disiplin terapkan protkes, supaya kasus ini benar-benar bisa terus turun,” pintanya.(*/jpg)