batampos.co.id – Hingga kini, capaian testing dengan metode antigen massal belum mencapai hasil maksimal.

Batam ditargetkan seribu sampel setiap harinya, namun hasil
di lapangan tidak sesuai dengan harapan.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengatakan, pihaknya sudah meminta kepada petugas di puskesmas untuk memperluas ruang lingkup warga yang harus ikut antigen.

Bahkan menurutnya, petugas kesehatan sudah turun ke peruma-
han, pasar, tempat makan dan lainnya.

Hal ini bertujuan untuk menggesa capaian tes antigen.

”Tim sudah maksimal, namun warganya masih takut-takut untuk tes ini. Makanya kami gerakkan petugas untuk maksimalkan target ini,” ujarnya, Rabu (4/8/2021).

Mengenai usulan untuk menggelar kegiatan vaksinasi dan tes antigen dalam waktu bersamaan, Rudi khawatir hal ini menyebabkan kekeliruan sehingga terjadi kondisi yang tidak diinginkan.

Hal ini melihat antrean vaksinasi yang sampai saat ini masih terus ramai.

”Nanti malah kacau. Dua kegiatan dijadikan satu, nanti malah terjadi kekeliruan. Sehingga apa yang kami rencanakan dan sudah buat ini tidak berjalan baik, hanya karena untuk menggesa testing, terjadi keributan akibat penggabungan dua kegiatan
tersebut,” terangnya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, pemberitaan akhir-akhir ini terkait pelaksanaan vaksinasi juga menjadi alasan, pihaknya enggan menyatukan dua kegiatan.

”Nanti kalau semua sudah (tes) antigen, terus vaksin habis. Ini akan jadi kegaduhan. Untuk itu saya tidak mau warga saya ribut. Jadi, (tes) antigen dan vaksinasi tetap digelar terpisah, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” bebernya.

Rudi berharap, langkah testing bisa membantu petugas kesehatan mengidentifikasi warga yang terpapar virus Covid-19.

Jika ditemukan warga yang positif, akan dilanjutkan penanganan di masing-masing puskesmas.

Jika memang dibutuhkan, mereka akan diminta untuk ikut tes PCR di Asrama Haji untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Rudi menambahkan, selama diberlakukan PPKM sudah terjadi penurunan kasus, meskipun jumlahnya masih rendah.

Kendati demikian pengetatan yang dilakukan ini cukup memberikan dampak bagi perkembangan kasus Covid-19.

”Angka yang dirawat masih tiga ribuan. Kami berharap dalam waktu satu minggu ini capaian kesembuhan meningkat, sehingga BOR turun. Otomatis hal ini bisa berpengaruh terhadap kebijakan pengetatan yang akan diterapkan ke depannya,” ujarnya.

Masih ada waktu hingga 9 Agustus mendatang. Diharapkan semakin banyak warga yang sembuh, dan ada penurunan grafik untuk jumlah kasus positif yang ditemukan.

”Kami hanya menjalankan kebijakan pusat saja. Data sudah kami kirim, sekarang tinggal menunggu kebijakan berikutnya. Mudah-mudahan ada penurunan level, sehingga aturan ini bisa dilonggarkan, demi mendongkrak perekonomian jelang akhir tahun ini,” tutupnya.(jpg)