batampos.co.id – Angka ketersediaan tempat tidur RS (BOR) diklaim mulai menurun dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan dilanjut Level 4. Hal itu juga terlihat dari data kasus Covid-19 yang stabil di angka 30 ribuan kasus setiap hari. Kasus aktif pun turun, dan kasus sembuh melonjak. Hanya saja, angka kematian masih tinggi yakni rata-rata di angka 1.500 jiwa tiap hari.

Terkait hal itu, Ahli Spesialis Penyakit Dalam dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam meminta pemerintah untuk bisa menekan angka kematian. Dia mengaku baru saja kehilangan rekan-rekan sejawatnya, para dokter yang terus berguguran. Dia pun berharap kematian para dokter jangan sampai terjadi lagi.

“Kami rekan seangkatan kehilangan, universitas kehilangan alumni-alumni terbaiknya, Indonesia kehilangan dokter-dokter terbaiknya, apakah hal ini akan terus terjadi. Semestinya tidak boleh terjadi lagi,” tegas Prof Ari kepada JawaPos.com, Senin (9/8).

Prof Ari mendesak pemerintah memang harus mengambil langkah-langkah signifikan dari hulu sampai hilir sehingga bisa menekan angka kematian. Dia menyebut saat ini jumlah kasus baru sudah menurun, BOR untuk ruang isolasi sudah mulai nenurun, tetapi BOR ICU masih tinggi.

Apagi pasien yang datang sudah dalam kondisi sedang dan berat sehingga segera membutuhkan ICU. Kenyataannya, ruang ICU masih sulit didapat. Hal itu memicu tingginya angka kematian.

“BOR ICU masih banyak kasus-kasus yang memang dalam kondisi berat dan hanya tergantung pada ventilator,” jelasnya.

Dia menyebutkan kejadian krisis di Juli 2021 semestinya tidak boleh berulang. Ada 30 persen kasus kematian pada dokter dari total dokter meninggal selama 16 bulan ini terjadi pada Juli 2021.

“Karena dengan tidak terkendalinya kasus, intalansi gawat darurat (IGD) akan dipenuhi oleh pasien-pasien dan dan ini akan berdampak juga buat para tenaga kesehatan termasuk para dokter,” tuturnya. “Tidak boleh terulang ratusan dokter meninggal di bulan Juli 2021,” ungkapnya.

Prof Ari meminta pemerintah menegakkan hukum (law enforcement) tanpa tebang pilih untuk pelanggar protokol kesehatan. Lalu untuk masyarakat, kata dia, jangan pernah lagi berpikir Covid-19 ini konspirasi.

“Jangan menuduh kami para dokter meng-Covid-19-kan. Penyakit ini nyata di depan mata, bantu kami untuk tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan,” pungkasnya.(jpg)