
batampos.co.id – Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto turut menyampaikan apresiasi kepada Center For Strategic and International Studies (CSIS) melalui Pidato Kebangsaan yang bertema ‘Demokrasi, Kebangsaan, dan Kesejahteraan, di Jakarta, Selasa (10/8). Pidato itu disampaikan menjelang Hari Jadi CSIS yang ke-50 tahun yang jatuh pada 1 September 2021 mendatang,
Menko Bidang Perekonomian tersebut mengatakan hasil riset CSIS telah terbukti mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam pengambilan keputusan strategis bangsa ini. Demikian pula, para pendiri, pembina dan para peneliti dikenal memiliki kiprah dan kontribusinya bagi Negara. Termasuk dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan hubungan internasional
Airlangga Hartarto mengatakan saat ini dunia tengah dihadapkan pada persaingan baru antara Barat dan Timur dalam hal geopolitik di bidang vaksin virus corona (Covid-19). “Dunia saat ini dihadapkan pada persaingan barat dan timur yang baru. Sesudah perang dagang, ini berlanjut pada geo-vaksin-politik,” kata Airlangga.
Persaingan itu, kata dia, terejawantahkan dalam persyaratan mobilitas perjalanan seseorang yang diatur berdasar vaksin. Ia menilai Amerika Serikat (AS) dan sekutunya saat ini tengah mengesampingkan aturan yang diatur oleh WHO, WTO dan sekutunya soal vaksin.
“Demikian pula dengan Timur, China melakukan retaliasi dengan syarat perjalanan dengan vaksin dari China,” kata dia.
Dengan kondisi tersebut, Airlangga menilai Indonesia perlu merespons dengan cepat di dalam negeri. Salah satunya dengan mempercepat pembuatan vaksin secara mandiri di dalam negeri. “Maka Indonesia perlu di respons cepat dengan mendorong membuat vaksin mandiri,” kata dia.
Di sisi lain, Airlangga juga menyinggung bahwa pemerintah Indonesia saat ini telah mengeluarkan kebijakan untuk menahan laju persebaran Covid-19. Salah satunya dengan digenjotnya program vaksinasi nasional hingga ke pelosok-pelosok daerah.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah akan melakukan intensifikasi vaksinasi dalam waktu dekat. Dari rata-rata 1 juta pada bulan Juli menjadi rata-rata 2,5 juta per-hari pada bulan Agustus dan September 2021.
“Sehingga kita sudah akan dapat menyuntikkan sekitar 220 juta dosis vaksin sampai dengan September 2021,” kata Airlangga.
Pandemi Pengaruhi Kualitas Demokrasi
Tentang praktek demokrasi di Indonesia, baru-baru ini, The Economist Intellegence Unit (EUI) merilis tentang Democracy Indeks 2020. Penilaian ini dilihat dari lima indikator, yaitu proses elektoral dan pluralisme (electoral process and pluralism), fungsi pemerintahan (functioning of government), partisipasi politik (political participation), kebebasan sipil (civil liberties) dan budaya politik (political culture).
Pandemi Covid-19, imbuhnya, mempengaruhi kualitas demokrasi secara global tak terkecuali Indonesia. Indonesia berada dalam kategori negara demokrasi yang belum sempurna (flawed democracy). Dalam kategori fungsi pemerintahan (Functioning of Government), Indonesia dengan skor 7.5 menunjukan kinerja lebih baik daripada kebanyakan negara di dunia (median 5.0). Untuk indikator proses elektoral dan pluralisme Indonesia menempatkan skor 7,85 yang menunjukan nilai yang baik.
Demikian juga dalam hal partisipasi politik pada skor 6,11. Terdapat penurunan dalam hal budaya politik (political culture) dan kebebasan sipil (civil liberties). Budaya politik sangat penting untuk menopang bagi tumbuhnya demokrasi berkualitas.
Masih ada dalam penilaian masyarakat kita yang kurang percaya dan bahkan tidak percaya terhadap efektivitas sistem demokrasi. Oleh karena itu, pendidikan politik secara mendalam harus terus menerus kita kembangkan, dari mulai tingkat elit hingga ke akar rumput. Sementara, soal kebebasan sipil (civil liberties) harus terus ditingkatkan penghormatan atas kemajemukan, meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama, dan penghargaan terhadap HAM.
“Untuk itu, sekali lagi kami mengucapkan selamat kepada CSIS. Semoga terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” kata Airlangga.(*/jpg)
