batampos.co.id – Perekonomian Kepri yang tumbuh 6,9 persen di kuartal (triwulan) kedua 2021 ini memang menimbulkan banyak pertanyaan. Apalagi di periode yang sama tahun lalu, ekonomi Kepri mengalami kontraksi -6,66 persen.

Ada yang menilai tumbuh 6,9 persen itu lahir hanya dari kalkulasi data tanpa melihat fakta di lapangan. Sebab, kondisi yang dirasakan masyarakat jauh lebih sulit periode yang sama tahun sebelumya. Apalagi dampak pandemi Covid-19 di 2021 dinilai jauh lebih berat ketimbang 2020. Belum lagi Kepri tercatat sebagai provinsi dengan angka pengangguran tertinggi di Indonesia.

Pandangan serupa juga muncul pada saat pemerintah mengumumkan perekonomian Indonesia tumbuh 7,07 persen pada kuartal II 2021 secara tahunan (year on year/yoy). Melonjak tinggi dari kuartal II/2020 yang saat itu mengalami kontraksi -5,32 persen.

Terkait fenomena ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri memiliki catatan khusus. BPS Kepri menyebut kondisi tersebut dikategorikan sebagai fenomena perekonomian Kepri. Sebab, ekonomi Kepri memang ditopang banyak faktor yang mendorong
tumbuhnya perekonomian 6,9 persen tersebut.

Faktor pertama, terjadinya peningkatan pada kategori industri pengolahan. Meningkatnya kategori ini terutama disebabkan meningkatnya nilai tambah sub-kategori industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik. Kemudian sub- kategori industri mesin dan perlengkapan.

”Kemudian, realisasi pengadaan semen secara year on year mengalami pertumbuhan sebesar 6,15 persen. Proyek peningkatan dan pembangunan beberapa ruas jalan di Batam, pembuatan IPAL, konstruksi BTS, dan renovasi Taman Rusa Sekupang di antaranya turut memberikan andil pada triwulan ini,” kata Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo, Rabu (11/8).

Selanjutnya, datang dari sektor transportasi. Secara kumulatif, kategori transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan year on year yang cukup tinggi pada triwulan kedua 2021. Hal ini dilatarbelakangi kebijakan persyaratan berpergian yang lebih longgar yang mengizinkan pemakaian GeNose sebagai syarat berpergian.

Harga GeNose yang jauh lebih murah tidak lagi menghambat masyarakat yang hendak berpergian. Sehingga jumlah penumpang angkutan udara yang berangkat selama triwulan II ini meningkat hingga 3 kali lipat dibanding triwulan II tahun lalu. Peningkatan ini didominasi penumpang penerbangan domestik.

”Iya, peningkatan year on year yang sangat tinggi ini disebabkan relaksasi pembatasan dan aturan penerbangan saat itu dibandingkan dengan awal-awal pandemi,” ungkapnya.

Faktor berikutnya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Dibandingkan triwulan yang sama pada tahun lalu, PMTB mengalami peningkatan. Hal ini, antara lain disebabkan output kategori konstruksi yang meningkat 5,82 persen dan impor barang modal yang juga mengalami peningkatan 0,41 persen.

Berikutnya, tingkat inflasi terkendali yang didukung konsumsi rumah tangga yang baik dan juga belanja pemerintah yang meningkat. ”Tingkat inflasi yang relatif terkendali dan pencairan THR (tunjangan hari raya) serta gaji ke-13 pada triwulan ini mendorong peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini dikuatkan hasil survei khusus konsumsi rumah tangga yang menunjukkan terjadinya peningkatan pada triwulan kedua,” jelasnya.

Terakhir, kurs ekspor rupiah yang menguat dari Rp 14.118 pada triwulan I 2021 menjadi Rp 14.337 pada triwulan II 2021. ”Nilai ekspor triwulan II 2021 mengalami peningkatan sebesar 54,93 persen dibanding triwulan II 2020, dengan kenaikan pada mesin/peralatan listrik sebesar 30,68 persen,” terangnya. (*/jpg)