batampos.co.id – Meskipun sudah tiga kali gagal, Pemprov Kepri kembali mengusulkan proposal Pulau Penyengat, Tanjungpinang sebagai salah satu warisan budaya dunia atau world culture heritage ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Pemerintah Provinsi Kepri masih menunggu keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kita sudah lengkap data-data dan dokumen yang dibutuhkan untuk mewujudkan Pulau Penyengat sebagai salah satu warisan budaya dunia,” ujar Ketua Tim Penyusun, Penyengat Warisan Budaya Dunia, Abdul Malik, Kamis (12/8) di Tanjungpinang.

Menurutnya, saat ini tinggal lobi-lobi dari Pemprov Kepri ke Pemerintah Pusat. Karena saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menerima usalan dari sejumlah daerah. Seperti Jakarta, Jambi, Povinsi Riau, dan Semarang. Ditegaskannya, dari segi akademik sudah tidak diragukan lagi. Apalagi pada tahun ini saat ini. Karena usulan dari setiap negara ke Unesco hanya boleh satu.

“Kita harus serius, bukan sekadar mengirimkan proposal saja. Namun harus terus mengawal, dengan ikut serta pada kegiatan-kegiatan Unesco. Karena pada 2019 lalu saat pertemuan di Bogor, Perwakilan Unesco sangat respek dengan usulan yang kita sampaikan,” jelas Abdul Malik.

Mantan Dekan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) tersebut sangat mengharapkan kerja ekstra dari Pemerintah Provinsi Kepri. Karena Penyengat selain sebagai emas kawin juga menjadi pusat Kerajaan Riau Lingga.

Dari pulau yang kecil tersebut juga melahirkan bahasa nasional yang digunakan oleh sejumlah negara, seperti Singpura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Lebih lanjut katanya, dilihat dari sejarah dan perannya, Pulau Penyengat punya peluang sangat besar untuk dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Saat ini, pihaknya terus memperkuat data dan fakta sejarah. Tentu usulan tersebut perlu didukung dengan negara-negara serumpun yang pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Riau Lingga. Seperti Malaysia dan Singapura.

“Untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai salah satu warisan budaya dunia, perjuangan tidak boleh setengah-setengah. Artinya perlu pengorbanan dari sisi pemikiran dan keuangan. Kota Tua Semarang, Kota Tua Jakarta, mereka sangat serius untuk menyabet gelar warisan budaya dunia. Bahkan secara bertahap mereka terus berbenah. Sampai akhirnya masuk dalam daftar tunggu oleh Unesco,” jelasnya.

Lebih lanjut katanya, masih ada waktu bagi Pemprov Kepri untuk mewujudkan harapan ini. Ia berharap proposal yang sudah diperkuat kembali berbagai bukti berupa dokumen dan warisan tidak benda bisa menjadi pembeda.

Ia berharap Pemprov Kepri segera melakukan pendekatan-pendekatan ke Kemendikbud. Sehingga usulan dari Provinsi Kepri diputuskan oleh Kemendikbud untuk dikirim ke Unesco.

”Sayang tentunya jika tidak lanjutkan. Karena dari sisi historis, Penyengat sangat layak untuk menyandang status warisan budaya dunia,” tutup Malik, yang merupakan Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Provinsi Kepri tersebut.(*/jpg)