batampos.co.id – Kasus kematian akibat Covid-19 masih tinggi di Batam meski jumlah kasus harian covid-19 terus menurun beberapa hari belakangan ini. Terkait hal itu, Ketua IDI Kepri, dr Rusdani mengatakan, kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Gugus Tugas Batam, tingkat kematian mencapai 2,968 persen. Jumlah kematian tertinggi tercatat pada Rabu (11/8) sebanyak 22 orang dalam seharinya.

”Termasuk tinggi, melampui standar yang dibolehkan oleh WHO 2,5 persen,” kata Rusdani, Kamis (12/8).

Rusdani mengatakan, berdasarkan pantauannya dan penyampaian dari para dokter, BOR (Bed Occupancy Rate) sudah melandai. Sehingga tentunya setiap pasien yang datang ke rumah sakit, dapat teratasi dengan baik. Tanpa ada antrian lagi seperti beberapa waktu sebelumnya.

”Beberapa waktu lalu saya meeting dengan dokter spesialis paru. Beliau ini mengatakan tingkat kematian meningkat ini, disebabkan terlambat datang ke rumah sakit.

Saat saturasi sudah jauh menurun, baru datang ke rumah sakit. Saturasi jauh menurun itu, susah menstabilkannya kembali,” ungkap Rusdani.

Ia mengatakan, kebanyakan masyarakat datang mendadak ke rumah sakit, saat saturasinya sudah dibawa 90-an. ”Sudah agak repot. Tapi apabila datang saat saturasi masih di atas 90, datang ke rumah sakit masih aman (Segera teratasi),” ujarnya.

Rusdani mengatakan, beberapa kasus yang terlambat datang ke rumah sakit ini, adalah orang-orang menjalani isolasi mandiri di rumah.

”Tapi dapat dibedakan, ada yang tercatat (melaporkan diri) dan ada juga yang tidak tercatat. Biasanya yang tercatat ini, sudah paham dan mengerti prosedur isoman. Nah yang menjadi masalah itu adalah isoman yang tidak tercatat,” ungkap Rusdani.

Isoman yang tidak tercatat, kata Rusdani adalah orang-orang yang menjalani isolasi mandiri, karena merasa memiliki gejala Covid-19 atau merasa tidak sehat.

”Jadi mereka ini memilih di rumah, dan takut ke rumah sakit. Biasanya merasa takut dibilang Covid. Padahal orang-orang seperti ini beresiko. Karena begitu sudah gejala berat, sesak napas, baru lari ke rumah sakit. Saat hasil antigen positif, keluarganya tidak terima,” ujar Rusdani.

Rusdani berharap ada kesadaran, apabila memiliki gejala agar segera melapor ke puskesmas. (*/jpg)