batampos.co.id – Ternyata mengisi teka teki silang (TTS) menjadi salah satu cara sederhana untuk melatih kerja otak dan menghambat kepikunan atau demensia.

”Mengisi TTS dapat melatih otak kita dan menghambat kepikunan. Mengisi TTS merupakan salah satu cara yang mudah dan sederhana,” kata dokter Untung Gunarto seperti dilansir dari Antara.

Dokter yang praktik di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto tersebut menjelaskan, saat mengisi TTS seseorang menstimulasi otak dengan cara mengingat, mengepaskan huruf dengan kotak yang tersedia, mengambil keputusan benar atau tidak, menyesuaikan huruf yang sudah ada dan memilih kata.

Tapi yang dimaksud ini adalah TTS dalam bentuk kertas atau buku ya, bukan TTS virtual. Karena saat mengisi TTS tangan harus dipergunakan untuk menulis,” ujar Untung Gunarto.

Selain mengisi TTS, tambah dia, menulis surat dengan media kertas juga dapat membantu menstimulasi otak dan menghambat kepikunan.

”Mengisi TTS atau menulis surat memerlukan kerja otak yang komprehensif di mana sirkuit kerja otak akan saling bersinergi. Contohnya saat mengingat, memilih, menyesuaikan, merangkai, mengatur tata bahasa, mengatur emosi, menyiapkan dan mengatur gerak motorik, dan lain sebagainya,” terang Untung Gunarto.

Dia menambahkan, kepikunan merupakan salah satu penyakit yang kerap dialami usia lanjut. Kendati demikian, gejala kepikunan dapat dicegah atau diperlambat salah satunya dengan mengisi TTS dan menulis surat.

Selain menstimulasi otak, lanjut dia, seseorang yang sudah masuk fase usia lanjut juga harus tetap beraktivitas, mengkonsumsi makanan sehat, dan melakukan olahraga.

”Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang untuk mencegah berbagai penyakit termasuk kepikunan,” papar Untung Gunarto.

Menurut dia, pada kondisi tertentu, seseorang dapat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan guna memastikan kesehatan.

Selain itu, salah satu upaya untuk menjaga kesehatan adalah dengan membangkitkan rasa gembira.

”Rasa gembira dapat menimbulkan relaksasi pada otot dan kerja saraf tepi dan mencegah terjadinya penyakit seperti stroke. Karena pada saat gembira atau merasa senang akan membuat keseimbangan hormon-hormon dan neurotransmiter otak,” tutur Untung Gunarto.

Dia menambahkan, dengan adanya keseimbangan tersebut akan mempengaruhi kerja organ-organ di tubuh agar lebih aktif dan seimbang.

”Sehingga selalu timbul energi baru dan suasana relaksasi pada otot dan kerja saraf tepi. Hal tersebut juga memicu perbaikan motorik dan sensorik khususnya pada pasien pascastroke,” ucap Untung Gunarto.(jpg)