Indonesia tiba-tiba menjadi buah bibir di dunia internasional. Bagaimana tidak, dua warga negara Indonesia (WNI), Carina Joe dan Indra Rudiansyah, terlibat dalam pembuatan vaksin Oxford-AstraZeneca (AZ).
—
’’ADA senangnya, ada susahnya juga,” ujar Carina Joe saat menceritakan bagaimana perasaannya turut andil dalam terciptanya vaksin AZ. Sejak awal mendapat proyek itu, dia sadar punya tanggung jawab besar. Sebab, proyek tersebut akan memiliki pengaruh langsung ke masyarakat global.
Dia bersama timnya di bidang manufacturing pun bekerja keras untuk memastikan vaksin Covid-19 yang ditemukan bisa diproduksi dalam skala besar. Selama 1,5 tahun, mereka bekerja nonstop. Tujuh hari dalam seminggu. Lebih dari 12 jam sehari.
’’Tanpa libur, tanpa istirahat. Supaya vaksin bisa digunakan di seluruh dunia,” tutur pemilik nama lengkap Carina Citra Dewi Joe tersebut.
Kerja keras mereka terbayar lunas. Hingga Juli 2021, penggunaan vaksin AZ sudah disetujui di 178 negara. Tercatat pula, sudah lebih dari 700 juta dosis yang digunakan untuk vaksinasi dan telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa dari risiko kematian akibat SARS-CoV-2.
Selain itu, yang bikin bangga lagi, Carina merupakan salah satu pemegang hak paten vaksin AZ tersebut. Menurut dia, pemegang hak paten atas vaksin itu tidak hanya satu orang. Setidaknya, ada lebih dari enam orang yang memegang hak paten tersebut. Semuanya berasal dari berbagai bidang. Dia sendiri memegang hak paten tentang manufacturing scale-up. Sesuai dengan bidangnya.
Perjalanan Carina terlibat dalam pembuatan vaksin dimulai dari postdoc-nya di Institut Jenner, Oxford University, Inggris, dua tahun lalu. Dia awalnya memegang proyek optimasi manufaktur untuk vaksin rabies. Lalu, tiba-tiba pandemi Covid-19 muncul. Dia ditawari terlibat dalam proyek vaksin AZ. Tentu, tawaran tak datang tanpa alasan.
Keahlian dan pengalaman Carina yang mumpuni di bidang manufacturing skala besar untuk viral vector menjadi alasan utamanya. Sebelumnya, dia pernah magang di sebuah perusahaan besar Australia selama tujuh tahun. Perusahaan itu pula yang memboyong Carina ke Australia setelah dia lulus S-1 di Hongkong.
Termasuk tawaran melanjutkan pendidikan di bidang bioteknologi hingga meraih gelar Phd di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia. Kini dia menjadi lead scientist perempuan di proyek besar yang telah menyelamatkan jutaan orang itu.
Atas capaian tersebut, Carina merasa bahagia. Dia berharap bisa menginspirasi perempuan-perempuan lain di Indonesia. ’’Yang harus dilakukan itu kita harus siap. Harus membekali diri kita sendiri. Jadi, kalau kesempatan itu datang, kita sudah siap,” paparnya.
Bila Carina berada pada bidang manufaktur vaksin, Indra Rudiansyah terlibat langsung dalam uji klinis. Mahasiswa S-3 Oxford University itu berada di tim Prof Sarah Gilbert. Dia bertugas membantu monitoring antibody response pada responden uji klinis. Tak hanya di Oxford, tapi juga berbagai tempat di Inggris.
Tugas itu, menurut Indra, tidak mudah karena melibatkan banyak orang dengan sampel yang cukup banyak. ’’Tapi, orang-orang sangat profesional. Kalau ada kesalahan, oke ini salah,” katanya.
Sejak bergabung pada awal Mei 2020, setiap hari dia dan tim menghabiskan waktu sampai 10 jam di laboratorium. Hasilnya, mereka bisa menyelesaikan uji klinis fase pertama dalam waktu enam bulan. Padahal, pada kondisi normal bisa sampai beberapa tahun.
’’Rasanya senang dan bangga sih. Apalagi bisa belajar dari para profesional di bidang clinical trial ini. Seneng banget bisa belajar dari Sarah Gilbert,” ungkap alumnus ITB tersebut.
Indra awalnya tidak masuk grup emerging pathogen disease yang tengah meneliti vaksin Covid-19. Sesuai dengan materi penelitiannya, karyawan PT Bio Farma tersebut berada di grup malaria. Namun, tak disangka, pandemi Covid-19 begitu cepat meluas. Karena itu, dibutuhkan banyak peneliti Covid-19.
Indra pun mendaftar hingga akhirnya diterima bergabung. Pengalaman Indra tersebut tentu sangat dinantikan untuk bisa diaplikasikan dalam pengembangan vaksin dalam negeri. Indra mengakui, kendati berada di Inggris, dirinya kerap berdiskusi dengan tim Bio Farma mengenai perkembangan vaksin Covid-19 di tanah air.(*/jpg)
