Kantor Palapa Ring Barat di Natuna. (F.Soleh/Batampos)

Perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi tak hanya menembus hutan belantara seantero Indonesia, tapi juga hingga ke pulau-pulau terluar Indonesia, yang berbatasan langsung dengan negara lain. Salah satunya di wilayah Natuna, Kepulauan Riau.

Reporter : FISKA JUANDA

“NUMPANG lapak ya min. Jual ikan iko iko dan ikan kopek. Harge 15 rb/kg. Yg minat langsung dtg ke jalan sihotang ye”.

Begitulah isi salah satu unggahan warga Natuna di grup Facebook Jual Beli Natuna. Untuk melengkapi keterangan mengenai ikan yang dijualnya, anggota grup Jual Beli Natuna itu juga memperlihatkan foto ikan di grup tersebut.

Grup Facebook berisikan 4.301 anggota ini cukup aktif. Setiap hari selalu ada masyarakat yang menjual dagangannya. Grup ini baru dibuat 4 tahun silam, tepatnya 15 Januari 2017.

Memang rata-rata berbagai grup jual beli Natuna dibuat di rentang tahun 2015 hingga 2017. Sejak sinyal internet mulai lancar di kawasan itu, arus jual beli secara online semakin deras.

Seperti diketahui, Natuna merupakan salah satu kabupatan terluar di Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten Natuna di sebelah utara berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, sebelah timur berbatasan dengan Malaysia bagian timur (Serawak) dan Kalimantan, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, dan sebelah barat berbatasan dengan Semenanjung Malaysia dan Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.

Ketua Koperasi Nelayan Indonesia Hijau Natuna, Nurohman mengamini lancarnya jaringan internet memberikan dampak terhadap sistem penjualan ikan nelayan Natuna. Ia mengatakan ikan yang dikonsumsi masyarakat sehari-sehari, biasanya dipasarkan di grup WhatsApp atau Facebook.

“Oh iya, Alhamdulillah. Sudah banyak yang menggunakan cara-cara seperti itu (menjual secara online). Jadi kami nelayan menunggu saja pembeli, atau ada kurir yang antar ikannya,” ungkapnya, Rabu (19/8).

Namun, belum semua nelayan menggunakan sistem ini. Karena beberapa nelayan masih belum akrab dengan penggunaan aplikasi jejaring media sosial tersebut.

“Kami harap pemerintah terus memberikan edukasi ke masyarakat,” tuturnya.

Selain menjual ikan mentah. Nurohman mengatakan para nelayan juga mengolah ikan menjadi berbagai penganan seperti kerupuk.

“Kerupuk ini pun kami jual lewat grup (WhatsApp maupun Facebook),” ujarnya.

Nurohman mengatakan ikan-ikan yang dijual nelayan Natuna itu seperti angoli, tenggiri, kue dan manyuk. Ada juga jenis ikan bernilai ekspor seperti kerapu merah, krisi Bali dan kakap merah.

Salah seorang warga Ranai, Ibu Kota Natuna, Soleh mengatakan, dulunya sebelum internet dapat dinikmati seperti sekarang, jual beli hanya dilakukan manual. Pemasaran barang hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.

“Kini semua serba terbuka. Masyarakat cukup mencantumkan foto, mendeskripsikan rasa atau bentuk dagangannya. Semua terbuka dan bisa dilihat. Ini menambah keyakinan para pembeli,” ujarnya.

Kini, nelayan yang sedang membawa ikan di laut pun bisa mempromosikan dagangannya melalui berbagai aplikasi media sosial.

“Proses jual beli ini jadi lebih ringkas. Dulu ikan sampai ke konsumen membutuhkan waktu panjang. Sehingga kualitasnya kurang baik,” tuturnya.

Soleh juga membeberkan, dulunya masyarakat mendambakan sinyal untuk telepon lancar. Tapi kini masyarakat menuntut pemerintah, agar jaringan internet lancar di semua daerah.

“Memang sejak Palapa Ring Barat dibangun, jaringan sudah baik. Tapi kan pulau-pulau kecil dan jauh dari Ranai masih kurang bagus sinyalnya,” ujarnya.

Kegiatan pasar digital di Natuna, tidak hanya ditopang grup-grup di WhatsApp atau Facebook saja. Tapi juga sudah ada start-up lokal, yang merintis aplikasi bernama NatunaMart.

NatunaMart ini dikembangkan oleh para pemuda di Natuna. Didirikan di bawah naungan CV Karya Putra Natuna. Direktur CV Karya Putra Natuna, Parizal mengatakan, pembangunan NatunaMart bermula dari penerapan ilmu pemrograman yang mereka miliki.

“Saat terbentuk, NatunaMart ini masih berupa website, www.natunamart.com pada 19 Juli 2019 silam. Namun berkat dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, kini NatunaMart hadir dalam bentuk aplikasi android sehingga lebih mudah digunakan,” ucapnya.

Awalnya, NatunaMart tak banyak direspon masyarakat. Namun seiring perjalanan waktu, semakin banyak masyarakat yang merespon dan mendukung hadirnya aplikasi tersebut. NatunaMart akhirnya diluncurkan dan dapat dipakai masyarakat pada 11 April 2021.

“Tanda khas partner kami adalah jaket berwarna oranye,” ujarnya.

Parizal mengatakan, NatunaMart merupakan bentuk inovasi yang sangat berarti bagi daerah seperti Natuna. Aplikasi NatunaMart terinspirasi dari aplikasi-aplikasi lain yang sudah berkembang terlebih dahulu seperti Gojek atau Grab.

Inovasi ini juga terpicu dari niat untuk membangun Natuna, sehingga bisa seperti daerah-daerah lainnya yang sudah maju dan berkembang.

“Saat ini NatunaMart telah memiliki beberapa fitur pilihan bagi pelanggannya. Kami memiliki ojek online, kurir, taksi online, kuliner, toko, pasar dan toko obat. Saat ini kami sedang dalam pengembangan fitur pembayaran PDAM, PBB, hotel, lapak Natuna, dan iklan,” ungkap Parizal.

NatunaMart baru tersedia dalam versi android. Parizal mengatakan untuk versi iPhone sedang dalam tahap pengembangan. Parizal mengatakan, perjalanan NatunaMart bukan tanpa halangan. Ada beberapa hambatan yang pernah terjadi, seperti driver dan customer yang masih kurang memahami cara kerja aplikasi NatunaMart.

Selain itu, permasalahan terbesar adalah jaringan internet yang masih belum stabil. Sehingga sering terjadi masalah orderan atau keterlambatan orderan. Kendala lain adalah Google Maps, sehingga detail lokasi rumah atau alamat konsumen kadang masih belum terdeteksi secara baik.

Parizal mengatakan, pihaknya terus berbenah demi mengoptimalkan aplikasi ini. Sehingga menjadi lebih baik dan mudah digunakan masyarakat Natuna.

“Kami sudah memiliki 23 driver motor, 5 driver taksi. Mitra merchant (penjual) NatunaMart berjumlah 218 dan customer atau user terdaftar database NatunaMart berjumlah 4.124. Pergerakan oderan per hari untuk jasa terfavorit yaitu layanan kuliner yang rata-rata 60 orderan per hari,” sebut Parizal.

Parizal mengaku jaringan internet di Natuna saat ini sudah jauh lebih baik, sejak adanya proyek Palapa Ring Barat. Namun, ia berharap Pemerintah Kabupaten Natuna bisa meningkatkan lagi infrastrukturnya. Sehingga nantinya jaringan internet dapat dinikmati hingga pelosok Natuna.

Kepala Dinas Kominfo (Komunikasi dan Informatika) Kabupaten Natuna, Raja Darmika mengakui arus digitalisasi Natuna berkembang pesat sejak pembangunan Palapa Ring Barat.

“Proyek (Palapa Ring Barat) ini dirintis 2016 dan rampung tahun 2018,” ungkapnya.

Kehadiran Palapa Ring Barat ini diharapkannya dapat dimaksimalkan manfaatnya oleh seluruh operator yang ada. Jika dulu buka YouTube saja butuh kesabaran ekstra, kini bisa lebih lancar.

“Kalau kata anak-anak zaman sekarang, 3G-nya dulu kaleng-kaleng. Kini sudah 4G dan tidak lagi lelet,” tutur Raja.

Sejak pembukaan Palapa Ring Barat, perkembangan jumlah tower atau menara Base Transceiver Station (BTS) telekomunikasi dari tahun ke tahun di Natuna berkembang pesat. Awal 2016 tercatat hanya ada 62 tower, tapi di 2020 tercatat sudah ada 96 tower yang tersebar di 15 kecamatan yang ada di Natuna.

“Di 2021 ini kami dapat bantuan dari Kominfo, sebanyak 17 BTS. Lalu dari operator juga akan membangun 10 BTS lagi. Kami harap pembangunan ini semakin memudahkan masyarakat Natuna dalam menggunakan internet. Kami yakin kemudahan akses digital ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, pendidikan dan sektor lainnya,” ujarnya.

Raja juga mengatakan, peningkatan jumlah BTS ini tentu menambah daya jangkau sinyal internet di daerah-daerah yang jauh dari pusat Kabupaten Natuna. Raja mengklaim, kini hampir sekitar 70 persen masyarakat Natuna telah menggunakan 4G.

“Tapi saya akui, masih belum mencapai setiap kelurahan bahkan desa. Oleh sebab itu, kami terus berupaya agar ada penambahan BTS. Sehingga menambah daya jangkau sinyal 4G,” tuturnya.

Jaringan internet ini sudah ada juga di Pulau Laut, yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Di sana terdapat tiga BTS yang tersebar di Desa Air Payang dan Desa Tanjung Pala.

Untuk sinyal telepon sudah bisa digunakan di seluruh wilayah Natuna. Ia mengatakan tidak ada daerah, yang tidak memiliki sinyal untuk telepon.

Ia mengatakan, sejak internet di Natuna lancar, semakin banyak masyarakat yang berbelanja online. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah paket yang diantarkan oleh jasa pengiriman barang ke Natuna.

Raja mengatakan masyarakat di pulau lebih mudah menjual ikan. Melalui beberapa grup WhatsApp, Facebook dan media lainnya, para nelayan menjual ikannya secara online.

“Jadi mereka tinggal foto, cantumkan harga. Hal-hal seperti itu banyak di grup (Facebook) jual beli Natuna. Masyarakat yang jual makanan juga begitu, jadi lebih gampang sekarang,” katanya

Menurut Raja, dulu sebelum Palapa Ring Barat ada, jarang kafe menawarkan WiFi publik. Kini, hampir setiap sudut daerah di Natuna bermunculan kafe dengan konsep mirip di kota-kota besar yang memberikan fasilitas WiFi bagi pelanggannya.

Lancarnya jaringan internet juga dimanfaatkan Pemerintah Natuna, dalam memberikan pelayanan ke masyarakat. Berbagai aplikasi dalam kemudahan layanan serta penginputan data, sudah dikembangkan di berbagai sektor pemerintahan.

Diskominfo Natuna juga berinisiatif untuk menerapkan Tanda Tangan Elektronik (TTE) yang bekerja sama dengan Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE), serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). TTE ini dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan layanan publik.

Di tengah gencarnya arus digitalisasi, Raja mengaku Diskominfo tetap mengimbau masyarakat agar selektif dan bijak berselancar di dunia maya. Ia menyadari kemudahan akses internet, tidak hanya memberikan dampak positif saja. Tapi juga memberikan dampak negatif.

Pembangunan Palapa Ring Barat menjadi sebuah berkah bagi Natuna. Raja mengatakan pandemi juga melanda Natuna, saat ini setiap hari selalu ada kasus baru Covid-19. Sehingga sekolah di Natuna pun dilaksanakan secara daring. Dengan jaringan internet yang berkualitas, sekolah daring berjalan lancar

“Tidak terlalu bermasalah di sektor pendidikan,” ujarnya.

Terkait pembelajaran online, salah seorang guru dari Desa Air Langit, Kecamatan Bunguran Tengah, Rohayatin mengatakan sistem pembelajaran secara online di Natuna, agak berbeda dengan daerah lain. Beberapa daerah di Kepri, seperti Batam menggunakan aplikasi zoom atau sejenisnya untuk menggelar pembelajaran secara online.

“Di sini sistemnya, kami mengajar seperti biasa di kelas per materi. Lalu videonya dikirim ke grup WhatsApp yang berisi peserta didik atau orangtua siswa,” ujarnya.

Sejauh ini tidak ada permasalahan sinyal di kawasan Bunguran. Ia mengatakan semua murid dapat mengikuti pembelajaran secara online.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri ada peningkatan jumlah lapangan pekerjaan dan kegiatan di bidang telekomunikasi di Natuna.

Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo mengatakan sektor Infokom memberikan dampak sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Natuna.

Walaupun di PDRB, sektor informasi dan komunikasi (Infokom) berada di posisi ke 6. Namun, sektor ini terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

“PDRB Natuna saat ini masih ditopang sektor pertanian, kehutanan, perikanan sebesar 39,95 persen. Tapi Infokom ini tetap memberikan dampak, walaupun intensitasnya kecil,” ungkap Agus.

Agus menjabarkan sektor Infokom di PDRB Natuna dari 2016 hingga 2020 terus mengalami kenaikan. Tercatat di 2016 Infokom hanya 2,02 persen, 2017 2,14 persen, 2018 2,15 persen, 2019 2,18 persen dan 2020 naik menjadi 2,40 persen.

Di tahun 2020, saat sektor lain mengalami penurunan, Infokom tetap menanjak. Salah satu sektor yang mengalami kemunduran di 2020 yakni perdagangan besar dan eceran di 2019 tercatat share-nya 11,80 persen. Di 2020 turun menjadi 11,66 persen.

PDRB Natuna atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha, terus mengalami peningkatan di sektor Infokom. Peningkatan ini terlihat jelas di 2020, saat pandemi melanda Indonesia. Saat sektor lain mengalami penurunan, Infokom tetap melaju naik.

Dari data BPS Kepri, 2016 sebesar Rp98,87 miliar, 2017 Rp115,70 miliar, 2018 Rp125,21 miliar, 2019 Rp137,67 miliar dan di 2020 Rp147,41 miliar.

“Melihat kondisi saat ini, dan apabila memang internet berkembang secara masif di Natuna. Sektor ini kemungkinan bisa naik lagi,” ungkap Agus.

Agus mengatakan bahwa kemungkinan ini bisa terjadi. Sebab saat ini, hampir semua penjualan sudah berorientasi pasar digital.

“Tergantung perkembangan di Natuna, apakah masif atau tidak. Jika naik, tentunya dapat menggeser sektor di atasnya,” ujarnya. ***