batampos.co.id – Penurunan kasus positif Covid-19 di Kota Batam terus turun dalam beberapa hari belakangan ini.

Meski begitu, kebijakan untuk membuka belajar tatap muka di sekolah karena berkaca pada penurunan kasus ini, dinilai terburu-
buru.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Batam, Tumbur M Sihaloho, menyarankan agar pembelajaran siswa tetap dilaksanakan secara daring atau online.

Ia mengatakan, pendidikan merupakan hak setiap anak. Namun, kata dia, kasus positif Covid-19 yang terus menurun dalam beberapa hari ini, bukan jaminan kasus Covid-19 akan terus melandai ke depannya.

”Kita apresiasi kalau kasus Covid-19 menurun. Tapi, sebaiknya harus berjaga (mengamati) lebih dulu dan menunggu dalam beberapa bulan ini,” katanya, Senin (23/8/2021).

Sehingga, ia meminta agar pembelajaran tatap muka ditunda. Apalagi saat ini, pemerintah pusat telah memberi bantuan kuota belajar kepada siswa maupun guru.

Sehingga, ia meminta agar bantuan tersebut dapat dimaksimalkan dalam beberapa bulan ke depan.

Setidaknya, kata dia, sampai dipastikan kasus Covid-19 di Kota Batam benar-benar melandai.

”Kita paham jika anak-anak sudah bosan belajar di rumah, anak saya juga bosan. Tapi, akan lebih tenang rasanya jika mereka belajar daring dulu dari pada tatap muka sampai benar-benar aman (dari penularan),” tuturnya.

Selain itu, kata Tumbur, saat ini capaian vaksinasi di Kota Batam belum mencapai 70 persen untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity).

Sehingga, sebelum capaian vaksinasi 70 persen itu terpenuhi, pembelajaran secara daring masih menjadi solusi terbaik dalam masa pandemi Covid-19 saat ini.

”Parameter herd immunity itu penting. Kalau itu sudah terlaksana, silakan lakukan wacana yang berkembang dari masyarakat (belajar tatap muka, red),” tutup politikus PDI Perjuangan itu.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam lainnya, Mochamad Mustofa, mengakui bahwa proses pembelajaran melalui sistem daring yang
dilaksanakan saat ini tidak berjalan efektif.

Namun, terpaksa dilakukan karena situasi Covid-19 yang potensi penyebarannya masih berpotensi tinggi.

”Kalau sekolah boleh dibuka dan kemudian kalau ada orangtua yang tidak mau anaknya pergi, sekolah harus tetap menyediakan sistem pembelajaran daring,” katanya.

Sementara itu, jika proses belajar mengajar dengan sistem tatap muka dilakukan, ia mengharapkan penerapan protkes dapat dilakukan dengan ketat.

Pihak sekolah juga diharapkan untuk tidak memaksa siswanya menggunakan seragam sekolah.

Artinya, sekolah memberikan kebebasan kepada siswa menggunakan baju selain seragam agar pakaiannya bisa berganti-ganti.

Sebab, seragam sekolah atau baju yang digunakan itu harus
diganti setiap hari untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

”Kalau dipaksakan menggunakan seragam sekolah, berapa banyak seragam yang harus disiapkan. Seperti yang kita tahu saat ini, kondisi masyarakat sangat sulit akibat pandemi Covid-19 ini,” tuturnya.(jpg)