batampos.co.id – Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan akan datang lebih awal pada 2021. Salah satu penyebabnya karena Indonesia memiliki ratusan zona musim (zom).

Kepala BKG Dwikorita Karnawati mengatakan, tercatat ada sekitar 342 zom. Dari jumlah tersebut, 14,6 persen di antaranya diprediksi akan mengawali musim hujan pada September.

Menurut dia, musim hujan kali ini maju lebih awal dibanding pada 2020 dan tahun-tahun sebelumnya. ”Musim hujan maju ya. Zom maju dan sebagian besar wilayah di Indonesia mulai September sampai Oktober,” kata Dwikorita Karnawati, Kamis (26/8).

Kemudian, lanjut dia, 38,6 persen zom mengawali awal musim hujan yang sama atau sesuai rata-rata klimatologi pada 1981 sampai 2010. Lalu, 15,5 persen di antaranya mengalami musim hujan mundur.

Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat lebih waspada adanya bencana hidrometeorologi pada sebagian wilayah di Indonesia. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, dan Papua.

ejumlah wilayah tersebut mengalami musim hujan lebih basah dari hujan basah pada normalnya. Selain itu, masyarakat diharapkan bisa lebih peka dalam memperhatikan peluang terjadinya anomali iklim, seperti El Nino dan Indian Ocean Deapole (IOD).

”Sama-sama dalam keadaan netral, kondisinya (cuaca dan fenomena alam) saat ini masih netral. Iklim juga penting, karena mempengaruhi variabilitas curah hujan di Indonesia, terutama pada skala waktu antar tahun,” tutur Dwikorita Karnawati.

Namun, berdasar parameter anomali iklim global oleh BMKG, terdapat indikasi atau gejala bahwa kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) netral hendak berkembang menjadi El Nina. Prakiraannya, akan terjadi pada Desember.

”Diperkirakan, pada Desember, seperti pada tahun lalu. Karena, terjadinya peningkatan atau lonjakan aliran masa udara basah dari Samudra Pasifik menuju perairan di Indonesia,” terang Dwikorita Karnawati.

Dengan adanya peningkatan potensi hujan antara 40 sampai 80 persen yang berpeluang terjadi pada akhir 2021, BMKG memperkirakan ENSO akan netral pada Januari hingga Februari 2022. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk ekstra waspada terhadap kejadian cuaca ekstrem akibat majunya musim hujan yang lebih dari durasi normalnya di sejumlah wilayah.

”Semua berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat, petir, hujan es, dan lain sebagainya, terutama pada Agustus sampai September, bahkan cuaca tidak menentu,” ujar Dwikorita Karnawati.

Salah satu hal positif yang perlu dilakukan masyarakat ketika musim hujan maju adalah menambah luas tanam. ”Kemudian mengisi waduk atau danau yang berguna pada periode tahun depan,” ucap Dwikorita Karnawati.(jpg)