batampos.co.id – Progres pembangunan rumah murah bersubsidi di Batam terus berjalan. Hingga saat ini, sudah 900 unit rumah tipe tersebut dibangun dari target 1.200 unit.

”Pembangunan rumah murah jalan terus. Rumah ini bagus untuk rumah pertama, karena konsumen hanya bayar bunga 5 persen, dan sisanya ditanggung pemerintah,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, Kamis (26/8), di Batam Center.

Achyar mengatakan, Batam mendapat target membangun 1.200 rumah murah subsidi. ”Hingga Agustus, sudah terealisasi sekitar 900 unit. Fokus pembangunan rumah tipe tersebut yakni di Marina, Piayu, dan Batubesar,” ujarnya.

Salah satu contoh perumahan yang memiliki rumah yang dilengkapi dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ini, yakni Perumahan Edova Gardenia di Marina, Sekupang. Harganya sesuai dengan regulasi FLPP dari pemerintah yakni Rp 156,5 juta per unitnya. ”Harga ini tidak naik dari tahun 2020.”

Tidak adanya kenaikan harga memang membuat pengembang rumah murah mendapatkan keuntungan pas-pasan karena harga besi terus naik. ”Kalau besi sudah naik, maka material lainnya yang juga dari besi ikut naik, seperti engsel pintu, kunci, dan lain-lain,” jelasnya.

Achyar mengatakan, kenaikan harga besi itu persentasenya mencapai 10 persen. Misalnya untuk besi 10 inchi, harga sebelumnya Rp 900 ribu per ton. Namun tahun ini, sudah menjadi Rp 1,1 juta per ton.

”Kenaikan ini agak aneh. Karena untuk infrastruktur, hanya pemerintah yang giat membangun dan memang menggunakan semen yang sangat banyak. Sementara swasta itu urung membangun,” tuturnya.

Selain itu, pasokan besi juga tidak terkendala, namun tetap saja harganya naik. ”Untuk sementara, saya perkirakan karena inflasi dan juga perubahan kurs rupiah,” ujarnya.

Achyar mengakui, pengembangan rumah murah memang tengah digesa karena didukung pemerintah. Achyar menyebut, anggaran pemerintah pusat lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun rumah murah ini mencapai Rp 18 triliun. Peningkatannya dibanding tahun lalu sekitar 50 persen.

”Pasarnya ini sangat cocok untuk kalangan pekerja di Batam,” katanya.

Sebelumnya, pengusaha properti Batam, Robinson Tan, mengungkapkan bahwa pengembang properti di Batam optimistis tahun ini pasar properti akan rebound. ”Menteri Keuangan sudah sampaikan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh lima persen. Sektor properti jadi salah satu prioritasnya,” kata Robinson.

Keyakinan tersebut ditunjukkan dari pagu anggaran untuk pembangunan rumah subsidi yang naik dari Rp 12 triliun menjadi Rp 18 triliun tahun ini.

Di Batam sendiri, industri properti sangat bergantung sekali dengan tiga sektor utama, yakni sektor industri pengolahan, industri konstruksi, dan kegiatan pariwisata. (*/jpg)