batampos.co.id – Sepekan peralihan ke sistem digital pemeriksaan syarat perjalanan polymerase chain reaction (PCR) atau rapid tes antigen di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang berjalan dengan baik.

Persentase penggunaan aplikasi peduli lindungi oleh calon penumpang pesawat pada Minggu (29/8) mencapai 89 persen sedangkan 11 persen validasi dilakukan secara manual.

Eksekutif General Manager (EGM) RHF Tanjungpinang, Ngatimin K Murtono menjelaskan secara umum calon penumpang yang akan berangkat sudah beralih menggunakan aplikasi peduli lindungi saat pemeriksaan PCR atau antigen.

Belum bisa berjalan 100 persen, karena beberapa penumpang yang masih manual karena beberapa alasan seperti secara kesehatan belum bisa divaksin, anak usia di bawah 12 tahun dan Warga Negara Asing (WNA).

”Karena untuk WNA belum ada aturannya, bisa jadi sudah mendapat vaksin di negaranya tapi belum terintegrasi dengan peduli lindungi,” kata Armin, Senin (30/8).

Sementara untuk masyarakat umum, lanjut Armin sudah wajib beralih ke aplikasi tersebut, pada Minggu (29/8) kemarin dari total 158 penumpang 140 diantaranya sudah beralih ke aplikasi, sedangkan 18 sisanya dilakukan pemeriksaan secara manual.

”Hasil scan ada juga yang tidak layak terbang karena berbagai kendala tapi yang bersangkutan tetap bisa terbang ke daerah tujuan,” terangnya.

Di Bandara RHF Tanjungpinang saat ini penerbangan yang paling banyak masih Tanjungpinang tujuan Jakarta dan sebaliknya menggunakan pesawat Citilink dan Garuda sedangkan untuk perjalanan dalam Provinsi Kepri dilayani pesawat Susi Air.

Sebelumnya Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Agus Jamaludin menyebutkan di Tanjungpinang tidak semua laboratorium yang menyediakan layanan antigen dan PCR terdaftar di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Beberapa Faskes yang sudah terintegrasi adalah faskes di Bandara RHF, RSUD Kota Tanjungpinang, RSAL dr. Midiyato Suratani dan Klinik Adilab.

”Sementara RSUD Raja Ahmad Tabib belum melayani untuk pelaku perjalanan karena masih fokus testing untuk tracing,” ungkapnya.

Sedangkan faskes yang belum terintegrasi dengan Aplikasi Peduli Lindungi, lanjut Agus secara otomatis akan ditolak oleh sistem saat di bandara.(*/jpg)