batampos.co.id – Sejumlah negara mulai memberikan vaksin booster Covid-19 bagi para lansia dan tenaga kesehatan karena kekhawatiran mengganasnya varian Delta. Sebab penelitian terbaru menunjukkan kemanjuran vaksin Sinovac yang menurun terhadap varian Delta.

Spesialis penyakit menular dr. Rontgene Solante dari Filipina berbagi penelitian baru-baru ini di Thailand. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sementara kemanjuran vaksin Sinovac terhadap jenis virus Korona asli adalah 98,33 persen. Lalu turun menjadi 75 persen untuk varian Alpha dan 70 persen untuk varian Beta.

Tingkat perlindungan vaksin terhadap varian Delta turun separuhnya menjadi 48,33 persen enam bulan setelah menerima dosis kedua. Ini lebih rendah dari kemanjuran 93,33 persen dari antibodi penawar yang melindungi seseorang dari virus setelah infeksi Covid-19 baru-baru ini.

“Ada antibodi infeksi alami yang lebih efektif melawan varian Delta. Itu mengkhawatirkan kami karena jika itu terjadi pada Sinovac, mengapa tidak mampu menghasilkan cukup antibodi untuk melindungi,” kata dr. Rontgene Solante seperti dilansir dari CNN, Senin (6/9).

Solante mengatakan ini berarti mereka yang belum menerima suntikan Sinovac masih dapat memperoleh manfaat dari perlindungan yang ditawarkannya terhadap penyakit parah. Tetapi suntikan penguat (booster) mungkin diperlukan enam bulan setelah menerima vaksin. Mereka yang tidak divaksinasi sekarang, Sinovac masih dapat melindungi dari varian kekhawatiran.

“Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan mereka yang divaksinasi enam bulan lalu? Sudah ada kekebalan yang berkurang dan kekebalan yang berkurang menurunkan efektivitas vaksin untuk melindungi kita dari Covid-19,” katanya.

Meskipun terpapar, kata dia, ada perlindungan tinggi terhadap penyakit parah. Faktanya para petugas nakes yang divaksinasi lengkap dan terpapar Covid-19 terhindar dari sakit parah. Kasus yang parah adalah mereka yang berada dalam kelompok usia 70-85 dengan perlindungan batas.

Solante juga mempertimbangkan merek vaksin yang harus digunakan sebagai suntikan booster karena varian Delta lebih menular. Ia menilai Sinovac mungkin bukan yang terbaik untuk dijadikan booster. Dia juga menekankan perlunya mengkalibrasi ulang jenis suntikan booster yang akan diberikan kepada petugas kesehatan yang paling terpapar virus dan warga lanjut usia yang lebih rentan.

“Jika mayoritas orang Filipina memiliki varian Delta, maka kami tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hanya mendapatkan Sinovac pada saat ini,” katanya.

“Mungkin kita membutuhkan vaksin lain dengan kemanjuran yang lebih tinggi daripada Sinovac, dan kita harus memberikannya kepada lansia” tuturnya.(jpg)