batampos.co.id – Pemerintah Singapura sedang mencoba untuk hidup dengan Covid-19 dan melihat tidak perlu memperketat pembatasan untuk mengatasi lonjakan kasus. Namun, akan menunda lebih banyak langkah pembukaan kembali sambil memantau peningkatan kasus yang parah.

Infeksi harian baru Singapura telah meningkat tajam baru-baru ini. “Peningkatan infeksi harian yang cepat dan eksponensial yang kita alami sekarang ini adalah apa yang harus dilalui oleh setiap negara yang ingin hidup dengan Covid-19 di beberapa titik,” kata Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung.

Untuk mendukung sistem perawatan kesehatan, Singapura akan membiarkan lebih banyak pasien yang divaksin pulih di rumah dan akan memulai program suntikan penguat (booster) vaksin untuk kelompok rentan.

Pihak berwenang juga telah memutuskan untuk mengurangi karantina dari 14 hari menjadi 10 hari untuk kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Indikator utama dalam menentukan langkah pembukaan kembali adalah jumlah pasien di unit perawatan intensif (ICU) selama 2-4 minggu ke depan menurut Lawrence Wong, Menteri Keuangan dan Ketua Bersama Gugus Tugas Covid-19

Saat ini ada tujuh pasien ICU dan 300 tempat tidur yang tersedia, yang dapat ditingkatkan menjadi 1.000 tempat tidur. Jika jumlahnya tetap dapat dikelola, otoritas akan melanjutkan rencana pembukaan kembali.

“Jumlah ICU kami masih rendah sekarang, tetapi kami tidak boleh berpuas diri,” kata Wong.

“Penyakit parah biasanya datang dua minggu atau lebih setelah seseorang tertular virus,” kata Wong. Dia menambahkan mungkin sembrono untuk membuka kembali pembatasan secara penuh sekarang.

Singapura juga mencatat lebih banyak anak terinfeksi, tetapi tidak ada yang sakit parah menurut Kenneth Mak, Direktur Layanan Medis. (antara)