batampos.co.id – Anomali cuaca mulai mewarnai tanah air menjelang paro akhir September 2021. Bencana hidrometeorologi pun membayangi. Pemerintah daerah diharapkan bisa menyiapkan sistem peringatan dini yang efektif.

Menurut Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi, komponen peringatan dini berbasis struktur maupun kultur. Struktur meliputi alat dan metode ilmiah pemantauan sebagaimana yang telah dilakukan oleh BMKG, PVMBG, maupun lembaga lain selama ini.

Kemudian, ada komponen kultur yang berbicara soal bagaimana peringatan tersebut sampai kepada masyarakat, kemudian mereka tahu respons apa yang diperlukan. Prasinta menekankan bahwa peran badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) melalui pusat pengendalian operasi atau pusdalops menjadi sangat penting.

”Upaya para pemangku kepentingan untuk dapat menyampaikan informasi maupun melakukan koordinasi yang dibutuhkan untuk aksi dini atau early action di tingkat masyarakat,” jelasnya kemarin (15/9).

Direktur Peringatan Dini BNPB Afrial Rosya menyampaikan bahwa peringatan dini berbasis masyarakat salah satunya menitikberatkan pada kemampuan merespons. Informasi sebagai suatu peringatan dini itu harus memenuhi parameter, antara lain, informasi dipastikan sampai dan dipahami oleh masyarakat.

’’Masyarakat merespons informasi dengan evakuasi ke tempat yang aman,” ujar Afrial mengenai parameter peringatan dini berbasis komponen kultur.

Anomali cuaca terjadi menjelang akhir September ini. BMKG memperingatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Pada periode 13–20 September, BMKG mencatat tiga fenomena cuaca aktif secara bersamaan, yakni Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuatorial. Hal itu memicu terjadinya hujan lebat di daratan serta gelombang tinggi di perairan.

Hujan lebat bisa disertai petir dan angin kencang serta berpotensi memicu bencana hidrometeorologis seperti tanah longsor dan banjir. Di perairan, gelombang bisa bervariasi, mulai 2,5; 4; hingga 6 meter. Tiga fenomena tersebut memengaruhi dinamika atmosfer yang berkaitan dengan potensi pembentukan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengungkapkan, dalam sepekan ke depan, cuaca akan dipengaruhi dua faktor. Salah satunya 14,6 persen wilayah yang sudah memasuki musim hujan bulan ini. ”Selebihnya dipengaruhi oleh gangguan atmosfer (MJO, Rossby, dan Kelvin), terutama di Jawa,” ujarnya kemarin (15/9).

Dari total 342 zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 14,6 persen akan mengawali musim hujan yang lebih maju, yakni mulai September. Meliputi Sumatera bagian tengah dan sebagian Kalimantan. Kemudian, 39,1 persen wilayah mulai memasuki musim hujan pada Oktober. Meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali. Wilayah lainnya akan mulai hujan pada November, yakni sebagian Lampung, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Dalam penjelasan di laman BMKG, fenomena MJO dan gelombang Kelvin bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia dengan siklus 30–40 hari. Sebaliknya, fenomena gelombang Rossby bergerak dari arah Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia dengan melewati wilayah Indonesia.(jpg)