batampos.co.id – Indonesia dipuji para ahli dan negara tetangga karena berhasil menurunkan kasus Covid-19 dan selamat dari ganasnya Covid-19 varian Delta. Hal itu terlihat dari angka positivity rate yang terus menurun di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 5 persen. Dalam sepekan terakhir, angka positivity rate selalu stabil di angka 1-3 persen.

Menilai hal ini, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman memuji efektivitas dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Ia mengapresiasi dalam sepekan terakhir semua provinsi menunjukkan rapor baik.

“PPKM efektif untuk Indonesia. Ini sekali lagi menunjukkan pendekatan berbasis sains akan sangat membantu arah pemulihan atau arah pengendalian dari Covid-19. PPKM berlevel juga kan sesuai rekomendasi WHO. Harus ada pendekatan bergradasi, dan bisa mencegah gelombang ketiga, semoga semakin kecil. Kita apresiasi ini. Untuk pertama kalinya dalam 1 minggu lebih ini semua provinsi mencapai benchmark. Level 1 sudah bisa diraih oleh Jawa Timur,” katanya kepada JawaPos.com, Senin (20/9).

“Kabar baiknya lagi dari PPKM ini bahwa penerapan pembukaan dari beberapa sektor, sekolah dilakukan bertahap dengan indikator yang sudah dilakukan di Jawa relatif sangat disiplin. Belum menemukan klaster di sekolah,” sambungnya.

Dicky juga menyambut baik adanya penurunan angka reproduksi efektif dan juga tes positivity rate yang berlaku secara nasional. Kritiknya, walaupun kasus menurun, namun testing dalam pandangannya masih belum memadai.

“Kita harus melihat Indonesia negara kepulauan, ini tak bisa serta merta diperlakukan untuk seluruh provinsi. Kita bukan daratan. Kalau bicara angka reproduksi efektif, pertumbuhan kasus itu akan dipengaruhi oleh data,” ungkapnya.

Ada catatan yang serius menurut Dicky. Yakni angka fatality rate Indonesia masih menduduki peringkat tertinggi di ASEAN. Angka kematian masih rata-rata 200-an jiwa sehari.

“Berarti masih ada masalah kebobolan kasus-kasus yang tak teridentifikasi. Ini masih dalam status level community transmission. Walaupun sudah membaik, masih ada kasus belum terdeteksi. Makanya kalau kasus fatality rate kita tinggi masih ada masalah di 3T,” ungkapnya.

Catatan lainnya, kata dia, cakupan vaksinasi masih jadi pekerjaan rumah. Sebab bicara varian baru, laju vaksinasi harus dikejar.“Ini harus dikejar. Kalau tidak kita tempatkan kondisi rawan potensi gelombang berikut,” ungkapnya.

“Kesimpulannya, kita belum bisa mengatakan bahwa Indonesia dalam status terkendali. Karena bicara Indonesia, satu luas di banyak pulau. Kedua, cakupan keberhasilan penurunan tes positivity rate. Tunggu sebulan, positivity rate harus stabil ya bukan naik turun, dan menetap paling tinggi 5 persen,” jelasnya. (jpg)