batampos.co.id – Penurunan kasus positif Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ternyata diragukan. Penyebabnya, angka tracing dari setiap kasus positif Covid-19 yang minim, sehingga status Kepri tetap Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat PPKM level tiga.

”Proses tracing yang lemah, hanya Kabupaten Karimun yang masuk kategori sedang. Sedangkan lainnya laporannya terbatas,” ujar Tjetjep Yudiana, wakil Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri kepada Batam Pos, Selasa (21/9).

Idealnya, kata Tjetjep, untuk tracing sesuai dengan standar lembaga kesehatan dunia (WHO). Setiap satu kasus terkonfirmasi positif Covid-19, maka harus dilakukan tracing terhadap 15 orang yang pernah kontak dengan yang positif tadi.

Disebutkannya, dari tujuh kabupaten/kota, hanya Kabupaten Karimun yang dalam kategori sedang. Artinya, melakukan tracing terhadap semua kontak erat, meski angkanya tidak mencapai 15 orang. Sementara daerah lainnya dilaporkan terbatas atau hanya sedikit kontak erat di-tracing. Bahkan, di Natuna, Anambas, dan Lingga tidak ada dilakukan tracing.

“Meskipun kita melaporkan positif rate rendah, namun tidak diikuti dengan laporan tracing. Ini yang menyebabkan penurunan kasus di Provinsi Kepri diragukan,” ungkap Tjetjep.

Ia menyebutkan, ada beberapa kreteria yang menjadi paramater untuk menentukan level di setiap daerah. Pertama, transmisi komunitas, di dalamnya ada kasus konfirmasi, rawat inap rumah sakit, dan angka kematian. Kedua, kapasitas respons 3T (testing, tracing, dan treatment).

Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri tersebut menjelaskan, untuk kasus konfirmasi positif Covid-19 memang dilaporkan melandai. Namun, hal itu belum cukup untuk merevisi status daerah dari level 3 ke level 2, karena masih dipengaruhi kapasitas respons.

Disebutkannya, untuk testing hanya Kabupaten Bintan yang dalam kategori sedang. Sedangkan enam kabupaten/kota lainnya memadai. “Begitu juga dengan treatment semua kabupaten/kota di Provinsi Kepri kategorinya sangat memadai. Hanya saja, itu tadi, tracing yang lemah,” ujar Tjetjep, lagi.

Ditanya apa yang menyebabkan proses tracing di Provinsi Kepri rendah? Mengenai hal itu, Tjetjep belum bisa menyimpulkan. Menurutnya, ada beberapa persoalan yang mempengaruhi hal ini. Pertama bisa disebabkan petugas mengalami kelehan. Kedua, masyarakat yang kontak enggan untuk mendukung proses tracing.

“Kita berharap petugas di Puskesmas di daerah untuk rajin melakukan tracing. Selain itu, saya juga meminta masyarakat untuk mendukung proses bagi mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas,” harap Tjetjep.

Namun ia punya keyakinan, menurunnya kasus konfirmasi positif Covid-19 turut dipengaruhi vaksinasi Covid-19. Ia mengajak masyarakat yang belum vaksin untuk segera mendapatkan vaksinasi yang sudah disediakan.

“Vaksin ini adalah upaya kita untuk membentuk pertahanan komunal atau kelompok. Tentu ini harus sama-sama kita dukung, sehingga kasus konfirmasi positif terus turun. Dan situasi daerah kembali normal,” tutup Tjejtep. (jpg)