batampos.co.id – Setelah beberapa bulan tidak beroprasi akibat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level 4 di Kota Batam, beberapa waktu lalu, kini sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) kembali beroperasi.

Termasuk, THM di Kampung Bule, Nagoya, Lubukbaja. Namun, THM tersebut menolak aturan yang mengharuskan pengunjung
memindai kode batang atau barcode untuk aplikasi PeduliLindungi seperti yang dicanangkan pemerintah pusat.

Ketua Forum Pengusaha Kampung Bule Famili, Ruslan Kasbulatov, mengaku sangat tidak setuju dengan pemberlakuan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk ke tempat keramaian.

Sebab, pemberlakuan aplikasi tersebut juga belum sejalan dengan capaian vaksinasi yang dilaksanakan saat ini.

“Pemerintah melakukan vaksin saja masih lambat. Selain itu, contohnya saya yang punya (penyakit) tiroid. Saya harus mengurus surat izin lagi ke dokter, siapa yang mau bayar,” tegasnya saat ditemui di wilayah Batam Center, Kamis (23/9/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Untuk itu, ia meminta penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk masuk ke tempat hiburan tidak dilaksanakan di Batam dan cukup dengan menerapkan protokol kesehatan seperti yang sudah dijalankan selama ini.

Sebab, selain banyak masyarakat yang tidak bisa divaksin, ia juga mempertanyakan bagaimana masyarakat yang belum mempunyai ponsel pintar.

“Sanggup pemerintah menyiapkan handphone (telepon genggam) Android ke seluruh masyarakat? Makanya, jangan suka-suka buat kebijakan itu. Kalau tidak sanggup, cari solusi yang lain,” katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini seluruh tempat hiburan di Kampung Bule sudah kembali beroperasi dengan mene rapkan protokol kesehatan yang ketat.

Dirinya bahkan hampir setiap malam memantau aktivitas di Kampung Bule agar protokol kesehatan benar-benar bisa dijalankan.

“Saya setiap malam keliling di sana. Mana yang tidak menerapkan protokol kesehatan, akan langsung ditegur,” ujarnya.

Meski sudah diperbolehkan kembali beroperasi, untuk kunjungan tamu ke tempat hiburan juga masih sepi.

Ia mengungkapkan, saat ini kunjungan hanya didominasi oleh tamu lokal yang jumlahnya hanya 10 persen.

Sementara, untuk tamu asing saat ini hanya dua sampai tiga orang saja tiap malamnya.

“Singapura dan Malaysia belum buka juga, itu salah satu faktor sepinya,” tuturnya.

Ia berharap, dari Pemerintah Kota Batam bisa mengeluarkan kebijakan yang dapat membantu tempat hiburan malam, seperti diadakannya event yang dapat menggairahkan kembali hiburan di Kampung Bule.

“Bagaimana caranya Dinas Pariwisata dalam hal ini Pemko Batam, dirangsang seperti diadakan event di situ,” imbuhnya.