batampos.co.id – Masyarakat bakal membutuhkan vaksin dosis ketiga (booster) Covid-19 cepat atau lambat. Hal tersebut dikarenakan daya perlindungan vaksin dua dosis yang sejauh ini diterima bakal memudar seiring waktu.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkmann, Prof Amin Subandrio, mengungkapkan penurunan daya lindung vaksin ini sudah alamiah dan pasti terjadi. Hanya saja, ia menyebut kecepatannya berbeda-beda tergantung berbagai faktor. “Ada yang cepat turun, ada yang bertahan cukup lama,” jelas Amin kepada Jawa Pos, kemarin.

Ia menambahkan, sudah disepakati bahwa dosis ketiga tetap dibutuhkan. Namun sejauh ini belum disepakati kapan rentang waktu yang tepat untuk memberikan dosis ketiga setelah penyuntikan dosis kedua. “Mungkin bisa 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan lebih,” katanya.

Sejauh ini pemerintah belum menegaskan kebijakan pemberian vaksin dosis ketiga pada masyarakat umum. Dalam pernyataan terakhirnya, Jubir pemerintah yakni Menkominfo Johnny G. Plate menyebut bahwa pemberian vaksin dosis ketiga atau booster tetap khusus bagi tenaga kesehatan (nakes) sebagai populasi yang berisiko.

”Pemerintah belum melakukan perubahan kebijakan terkait hal ini, sehingga vaksin booster belum boleh diberikan untuk masyarakat umum, jelas Johnny.

Hingga kemarin, pemberian vaksin dosis ketiga bagi nakes sudah mencapai 917.545 suntikan. Meski demikian, Johnny menyebut bahwa pemerintah masih terus mengkaji rencana program vaksin ketiga untuk masyarakat umum pada tahun depan.
Kebijakan tersebut masih memerlukan pertimbangan dan pembahasan yang lebih dalam. Apalagi saat ini, jumlah penerima vaksin Covid-19 untuk dosis pertama belum mencapai 50 persen dari total penduduk Indonesia.

Untuk mengantisipasi risiko lonjakan kasus Covid-19 seperti yang terjadi di negara-negara tetangga, pemerintah bakal terus menggencarkan vaksinasi untuk lansia. Hal ini belajar dari lonjakan kasus di beberapa negara tetangga dimana kematian terjadi paling banyak pada kelompok lansia.

Pemerintah menyebut kematian pertama yang dilaporkan adalah seorang wanita Singapura berusia 97 tahun yang dites positif terinfeksi Covid-19 pada 18 September 2021 dan meninggal karena komplikasi akibat penyakit tersebut pada 25 September 2021.

Kematian kedua adalah seorang wanita Singapura berusia 69 tahun yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 pada hari 24 September 2021 dan meninggal karena komplikasi akibat penyakit pada hari yang sama.

Menkominfo Johnny menjelaskan pelajaran dari kasus ini bahwa lansia menjadi kelompok dengan tingkat risiko kematian paling tinggi akibat Covid-19. Oleh karena itu, Johnny mengajak semua kelompok lansia untuk segera melakukan vaksinasi.

Dia juga meminta pihak keluarga untuk membantu dan mendorong para lansia untuk segera divaksinasi. ”Mari kita antar dan kawal orangtua atau saudara kita yang sudah lanjut usia ke tempat vaksinasi,” ujarnya. (*/jpg)