batampos.co.id – Dinas Perhubungan (Dishub) memberikan keringanan kepada penumpang bus trans Batam yang menggunakan pembayaran non tunai. Keringanan ini merupakan upaya mendorong penggunaan uang non tunai dalam transaksi pembayaran bus trans Batam.

”Non tunai tarifnya lebih murah jika dibandingkan membayar tunai,” ujar Kepala UPT Pelayanan Jasa Transportasi Dinas Perhubungan Kota Batam, Bambang Sucipto, Selasa (28/9).

Ia menyebutkan, tarif bus trans Batam pembayaran tunai untuk umum Rp 6.000, sedangkan non tunai Rp 5.000. Kenaikan tarif mencapai 50 persen ini merupakan kebijakan yang diambil. Penyesuaian tarif sudah mengalami beberapa kali penundaan, namun karena melihat kondisi saat ini, kenaikan ini tetap mempertimbangkan keadaan yang masih pandemi.

”Tarif lama itu sebelumnya juga sudah disubsidi pemerintah. Tarif lama itu sebenarnya Rp 8.000, namun disubsidi pemerintah sehingga tarifnya menjadi lebih murah Rp 4.000,” ujarnya.

Pembayaran non tunai bisa menggunakan barcode, link-aja, ovo, gopay, shopee, Qris, Brizzi dan lainnya. Ia berharap, masyarakat bisa memilih pembayaran non tunai.

Penyesuaian tarif Bus Trans Batam sudah diterapkan mulai 27 September 2021 untuk semua rute. Saat ini ada 8 koridor dengan total bus 60 layak jalan.

Penerapan tarif baru ini mulai berlaku, Senin (27/9). Sebelumnya, Dishub juga sudah melakukan sosialisasi sejak Juli lalu. Operasional bus trans Batam dikelola oleh BLUD. Tarif ini sudah berlaku dari 2013 belum ada penyesuaian dan peninjauan.

”Kami berharap penyesuaian ini bisa diterima. Karena menurut kami tarif ini masih cukup terjangkau bagi penumpang. Karena kenaikan juga mempertimbangkan keadaan perekonomian masyarakat saat ini,” bebernya.

Ia menambahkan, dengan kenaikan tarif, juga akan dibarengi dengan peningkatan kualitas kendaraan. Menurutnya, kondisi bus akan segera dilakukan peremajaan dalam waktu dua tahun ke depan.

Saat ini, fasilitas di bus trans cukup baik. Setiap bus dilengkapi fasilitas pendingin atau AC, guna memberikan kenyamanan bagi penumpang.

”Dari Kementerian tak ada lagi bantuan bus. Terakhir 2019 lalu kita dapat bantuan bus. Jadi untuk yang ada saat ini perawatan bus sangat diperlukan,” imbuhnya.

Bambang menambahkan, pengajuan permintaan bus ke pusat selalu dilakukan. Namun, hingga kini belum ada proposal yang diterima, sehingga tidak ada tambahan armada.

”Yang ada saat ini yang kami rawat. Agar kondisi armada tetap layak beroperasi dalam melayani penumpang. Jangan sampai naik tarif namun fasilitas dan kondisi kendaraan tidak layak,” tutupnya. (*/jpg)