batampos.co.id – Rencana penerapan pemindaian kode batang aplikasi PeduliLindungi di setiap pasar tradisional di Batam akhirnya ditunda.

Rencananya, kebijakan itu akan diterapkan Rabu (29/9) kemarin, namun diundur karena masih banyak pedagang di berbagai pasar yang belum divaksin.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, hampir setengah dari pedagang di pasar-pasar tradisional belum divaksin.

Alasannya, para pedagang tak punya waktu untuk divaksin karena sibuk berjualan.

”Memang sebagian dari pedagang tak mau meninggalkan dagangan mereka dalam waktu lama,” ujar Gustian, usai meninjau sejumlah pasar tradisional di Batam, kemarin.

Menurut dia, rencana awal turun ke pasar adalah untuk melakukan sosialisasi aplikasi PeduliLindungi.

Namun, ternyata banyak dari pedagang yang belum divaksin. Selain itu, rata-rata pedagang dan pembeli juga abai terhadap protokol kesehatan (protkes), dengan tidak memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan usai bersentuhan.

”Tadi kami turunkan tim yang berjumlah 110 orang untuk meninjau keseluruhan pasar. Hasilnya, rata-rata pedagang dan pembeli banyak abai protkes dan tak divaksin,” terang Gustian.

Karena itu, lanjut Gustian, dalam waktu dekat pihaknya akan memfasilitasi para pedagang untuk mendapatkan vaksin tak jauh dari pasar mereka berjualan. Lokasi vaksin nantinya akan disiapkan oleh pengelola masing-masing pasar.

Begitu juga dengan jadwal vaksin yang disesuaikan.

”Jadi, para pedagang bisa dengan mudah mendapatkan vaksin dan tak perlu mobile lagi. Alasannya, selama ini karena tak ingin meninggalkan jualan lama-lama. Nah, ini akan kita fasilitasi, jadi memang tak ada alasan lagi,” imbuh Gustian.

Sembari menunggu jadwal vaksin, pihaknya berharap para pedagang dapat membenahi protkes, yang kemudian akan diterapkan PeduliLindungi untuk masuk ke pasar.

”Sembari sosialisasi aturan ini, kami berharap pedagang bisa memperbaiki protkes, sebelum nantinya (pindai) PeduliLindungi diterapkan,” jelas Gustian.

Di Batam terdapat 46 pasar tradisional yang tersebar di berbagai titik. Rata-rata, aktivitas di pasar memang minim menerapkan protkes.

”Ini yang kami khawatirkan dapat kembali menaikkan angka Covid-19 di Batam,” pungkas Gustian.

Salah seorang pengunjung Pasar Toss 3000 Jodoh, Arofah, mengaku tak mempermasalahkan jika pemerintah mengharuskan pengunjung memindai kode batang aplikasi PeduliLindungi untuk masuk ke pasar.

”Karena kan tujuannya bagus, untuk memastikan yang ada di pasar sudah divaksin dan bebas Covid-19,” katanya.

Terkait masih banyaknya pedagang maupun pengunjung pasar yang abai protkes seperti tidak memakai masker, ia mengaku cemas.

Pasalnya, hal itu dikhawatirkan berpotensi menularkan Covid-19 dan menambah lagi jumlah kasus yang sudah menurun.

”Tolong di setiap pasar itu ada petugas yang mengawasi, jadi yang enggak patuh ditegur saja,” harapnya.(jpg)