batampos.co.id – Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam yang dikelola oleh PT Moya Indonesia kembali dikeluhkan masyarakat.

Keluhan tersebut mulai dari naiknya tagihan air masyarakat, kondisi air yang keruh hingga pendistribusian air yang tidak lancar.

Seperti, puluhan perwakilan warga RW 15 dan RW 22 Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji yang mendatangi kantor DPRD Batam untuk mengadukan tersendatnya pasokan air ke wilayah tempat tinggal mereka, Jumat (1/10).

Mereka mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPRD Batam dan instansi terkait tentang pasokan air bersih yang kurang begitu lancar selama ini.

Warga berharap ada perubahan ke depan sehingga pasokan air bersih bisa mengalir lancar seperti di permukiman lain.

Batam Pos yang menjumpai sejumlah warga di wilayah yang terjadi krisis air bersih ini menuturkan, sudah lebih dari dua tahun menderita akibat pasokan air yang kurang lancar.

Air hanya mengalir di malam hari dan itupun tidak stabil. Jika musim hujan, air mengalir lebih cepat, namun musim kemarau dini hari baru mengalir.

”Sudah dua tahun begitu terus kondisinya. Tak ada namanya stabil mengalir air seperti di perumahan lain. Kami di sini harus sistem menampung, itupun harus begadang sampai pagi,” ujar Edi, warga perumahan Putera Jaya cluster A.

Ilustrasi. Air menetes. Foto: JawaPos.com

Begitu juga dengan Raimundus, warga lainnya yang mengatakan bahwa belakangan krisis air bersih ini semakin parah sebab air bersih nyaris tak mengalir sama sekali.

Dalam satu hari, air hanya mengalir satu jam saja dan itupun saat dini hari.

”Susah memang kami kalau bahas masalah air ini. Tak seperti perumahan lain, di sini harus berkutat keras dulu baru dapat air. Kadang harus beli air galon kalau tak sempat tampung karena ketiduran,” ujarnya.

Salah seorang warga Perumahan Putra Jaya Residence, Sri Ningsih, menyampaikan bahwa dirinya bersama dengan warga lain harus menunggu hingga tengah malam baru bisa mendapatkan air.

Sebab, air baru mengalir ke perumahan mereka pada pukul 22.00, bahkan kadang hingga pukul 24.00 WIB.

”Kalau pagi sampai sore sama sekali tidak mengalir,” katanya.

Padahal, pada pagi hari mereka sangat membutuhkan air untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, dan sebagainya.

Sementara itu, seluruh perusahaan yang ada di sekitar Perumahan Putra Jaya masih dapat pasokan air selama 24 jam nonstop.

”Tolong permalasahan ini ada solusinya. Soalnya kalau (air) pagi tak hidup, bagaimana kami mau mandi dan mau pergi kerja, anak pergi sekolah, memasak,” katanya.

Sementara itu, dalam RDP di DPRD Batam, juga dihadiri oleh Badan Pengusahaan Batam selaku pengelola SPAM Batam dan PT Moya Indonesia selaku operator SPAM Batam.

Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Muhammad Rudi, mendesak PT Moya Indonesia untuk segera menyelesaikan keluhan masyarakat ini.

Kata dia, saat ini masih ada 21 wilayah yang masih kesulitan mendapatkan pendistribusian air bersih. Sehingga, jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan, akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat Kota Batam.

”Saya harap PT Moya dan BP Batam bisa langsung menurunkan tenaga teknisinya untuk menyelesaikan permasalahan ini di rumah-rumah warga,” tegas Rudi.

Hal senada juga disampaikan pimpinan RDP, Arlon Veristo. Ia mengatakan, masyarakat hanya mendapatkan air mulai pukul 22.00 sampai pukul 03.00 WIB.

Sehingga, ia mendesak PT Moya Indonesia untuk segera meningkatkan pelayanannya dalam pendistribusian air agar keluhan masyarakat bisa teratasi.

Ia meminta keadilan dalam pendistribusian air di Kota Batam, terutama untuk masyarakat Perumahan Putra Jaya Tanjunguncang.

Sebab, permasalahan air ini sudah berlangsung sejak lama atau sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun.

”Salah satunya dengan pengaturan pendistribusian airnya. Karena di situ ada perusahaan yang juga dialiri 24 jam. Seharusnya bisa dibagi dengan perumahan. Intinya, kita berharap SPAM Batam meningkatkan kinerja mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Moya SPAM Batam, Sutedi Raharjo, menyampaikan, masih tersendatnya pendistribusian air bersih di Batam dikarenakan produksi air masih terbatas.

Sementara, permintaan masyarakat untuk air semakin meningkat. Dalam mengatasi permasalahan ini, pihaknya akan meningkatkan kapasitas air dengan membangun water treatment plant (WTP) di wilayah Mukakuning yang dapat menghasilkan sekitar 350 liter air per detik.

Lelang pembangunan WTP ini akan dimulai pada tahun ini, kemudian berlanjut pengerjaan sampai tahun 2022.

Setelah lelang dan proyek selesai, nantinya penyaluran air tambahan dari Mukakuning
dapat dimulai di 2023. Selain itu, beberapa jaringan perpipaan juga akan mengalami revitalisasi, berupa pelebaran diameter dan perbaikan pipa dari korosi.

Hal ini dilakukan agar suplai air bertambah dan penyaluran ke daerah-daerah dapat berjalan lancar.

”Insya allah, jika sudah diperbaiki nantinya daerah Tanjunguncang dan sekitarnya bisa terlayani. Sehari bisa sampai 10-18 jam, syukursyukur 24 jam,” ujar Tedi.

Selain itu, BP Batam juga berencana melakukan kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Rencana ke depannya akan dibangun jaringan pipa dari Rempang dan Sei Gong untuk mengalirkan air ke Kota Batam.

”Kami bukannya tidak mau melayani, memang kondisi saat ini kapasitas sudah maksimal dan belum bisa ditingkatkan lagi,” tambah Tedi.

Meski demikian, warga Perumahan Putra Jaya meminta secepatnya ada solusi terkait permasalahan air ini.

Sehingga, satu tahun lagi permasalahan pendistribusian air ke perumahan mereka teratasi.

”Masak kami harus menunggu setahun lagi?” ujar warga.(jpg)