batampos.co.id – Pemerintah membuka peluang untuk penelitian dan uji klinis obat Covid-19. Akhir tahun ini diharapkan sudah dapat diketahui obat mana yang cocok, termasuk efektivitasnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan, Kementerian Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta rumah sakit vertikal tengah me-review dan melakukan uji klinis obat untuk Covid-19. ’’Sudah kami approach pabrikannya dan sudah dilaksanakan uji klinis,” kata Budi kemarin (4/10).

Obat-obatan yang tengah diteliti bersifat monoclonal antibody maupun antivirus. Dengan cara itu, ke depan diharapkan kebutuhan obat akan terpenuhi.

Yang tengah ramai adalah molnupiravir buatan Merc, perusahaan farmasi multinasional dari Amerika Serikat. Perusahaan tersebut telah mengajukan permohonan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) ke badan pengawas obat Amerika atau FDA.

Sebelumnya, BPOM menyatakan berkomitmen untuk melakukan percepatan dan perluasan akses penggunaan obat. Namun, syaratnya harus aman, berkhasiat, dan bermutu. BPOM akan memberikan EUA setelah terbukti khasiat dan keamanannya pada uji klinis yang baik.

BPOM telah menerbitkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK.02.02.1.2.07.21.288 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Prinsip Penggunaan Obat Melalui Skema Perluasan Penggunaan Khusus atau Expanded Access Program (EAP) pada Kondisi Darurat.

EAP merupakan skema yang memungkinkan perluasan penggunaan suatu obat yang masih berada dalam tahap uji klinis untuk dapat digunakan di luar uji klinis yang berjalan. Penggunaan itu diperbolehkan jika diperlukan dalam kondisi darurat. Izin tersebut berbeda dengan EUA. Sebab, izin diberikan kepada kementerian atau lembaga yang menyelenggarakan urusan kesehatan. Sementara itu, EUA diberikan kepada farmasi.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pada 1 Oktober lalu, perusahaan Merck dan Ridgeback mengumumkan hasil penelitian penggunaan obat molnupiravir. Hasil penelitian terhadap obat antiviral itu menunjukkan terjadi penurunan 50 persen angka perawatan di rumah sakit. Selain itu, mencegah kematian akibat Covid-19 pada pasien tingkat ringan sampai sedang.

Hasil penelitian juga menunjukkan data pada 40 persen sampelnya memiliki efikasi molnupiravir yang konsisten. Kondisi itu berlaku pada Covid-19 varian Gamma, Delta, dan Mu.

Tjandra mengatakan, publik harus mengetahui, pada April 2021 uji klinis obat molnupiravir pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sempat dihentikan. Alasannya karena tidak menunjukkan hasil yang baik pada pasien yang sudah masuk rumah sakit.

’’Waktu bulan April itu diputuskan penelitian diteruskan hanya pada mereka yang belum masuk rumah sakit. Yang hasilnya baru diumumkan 1 Oktober ini,’’ ungkapnya.

Tjandra mendapatkan informasi bahwa obat tersebut mungkin mengantongi izin edar dalam bentuk EUA. BPOM Amerika Serikat atau FDA akan menilai semua data dan kelayakan yang ada. (jpg)