batampos.co.id – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan rekening mencurigakan yang diduga dimiliki sindikat narkoba. Jumlahnya fantastis, Rp 120 triliun.

Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bareskrim pun segera menindaklanjutinya. Rekening jumbo itu akan dibekukan. Pemiliknya juga dicegah kabur ke luar negeri.

Kabaghumas BNN Brigjen Sulistyo Pudjo menyatakan, temuan tersebut murni berasal dari PPATK. Berbeda dengan temuan rekening mencurigakan bandar lainnya yang biasanya merupakan permintaan dari BNN.

”Saat rapat dengar pendapat dengan DPR, BNN mendengar informasi itu dari kepala PPATK,” ujarnya kemarin (5/10).

BNN bakal berkoordinasi serta meminta informasi dugaan rekening mencurigakan tersebut. ”Kami segera datang ke PPATK,” katanya.

Dari informasi PPATK, nanti diketahui jumlah transaksi dan kelompok yang memiliki rekening tersebut. Entah kelompok yang beranggota banyak orang atau hanya perseorangan. ”Kalau transaksi besar, koordinasi dengan kelembagaan lain penting,” jelasnya.

BNN juga bisa memastikan kebenaran rekening itu terkait dengan bandar narkotika atau tidak. Atau, malah terhubung dengan kejahatan transnasional lainnya. ”Ini informasi awal,” kata Sulistyo.

Pihaknya menyadari, diperlukan kerja cepat untuk bisa mencegah bandar pemilik rekening itu kabur. Juga membekukan rekening. Dengan begitu, dana tidak dikirimkan ke luar negeri yang akhirnya menyulitkan penerapan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). ”Tapi, dalam kasus semacam ini, prosesnya panjang,” jelasnya.

Contohnya, kerja sama BNN dengan KPK yang mampu melacak aliran dana dalam rekening bandar. Koordinasi antara BNN dan KPK sangat bagus sehingga mampu mendapat jaringan besar. ”Kasus semacam ini kompleks. Karena itu, akan kami lihat mana yang bisa ditindaklanjuti dari temuan PPATK itu,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipid Narkoba) Bareskrim Brigjen Krisno H. Siregar menyatakan telah mendapat instruksi dari Kabareskrim Komjen Agus Andrianto untuk segera menindaklanjuti temuan PPATK berupa rekening bandar Rp 120 triliun. ”Kami akan aktif meminta informasi,” katanya.

Kendati telah menangani berbagai kasus TPPU bandar narkotika, dia menjelaskan, sebelum temuan rekening jumbo Rp 120 triliun mencuat di media massa, pihaknya belum mendapatkan informasi dari PPATK. ”Beda kalau itu merupakan permintaan kami. Kalau kami yang mencurigai, kami berikan ke PPATK. Lalu, PPATK kasih perkembangannya ke kami,” paparnya.

Terpisah, Kepala PPATK Dian Ediana belum berkomentar banyak tentang temuan rekening jumbo Rp 120 triliun yang ditengarai milik sindikat narkoba. Saat dimintai konfirmasi Jawa Pos, pria yang menjabat sejak Mei 2020 itu berjanji menjelaskan lebih terperinci hari ini. ”Besok (hari ini, Red) saya infokan ya,” kata Dian.

Dalam paparan national risk assessment (NRA) 2021, Dian sempat menyebut narkotika sebagai jenis pidana asal yang berkategori ancaman tinggi tindak pidana pencucian uang (TPPU) ke luar negeri (outward risk). Secara umum, selama periode 2016–2020, terdapat 336 putusan perkara TPPU yang berkekuatan hukum tetap dan telah teridentifikasi dalam kajian NRA tersebut. Estimasi akumulasi nilai hasil kejahatan TPPU itu mencapai Rp 44,2 triliun.

Dari jumlah tersebut, nilai kejahatan terbesar adalah tindak pidana narkotika Rp 21,5 triliun (48,67 persen). Kemudian, tindak pidana penipuan Rp 14,2 triliun (32,08 persen); tindak pidana korupsi Rp 5,05 triliun (11,4 persen); tindak pidana penggelapan (2,94 persen); tindak pidana di bidang perbankan (1,36 persen); tindak pidana transfer dana (1,07 persen); dan tindak pidana di bidang perpajakan (1,05 persen).(jpg)