batampos.co.id – Epidemiolog memberikan peringatan keras menyusul ditemukannya 29 orang yang positif terinfeksi Covid-19 dalam pergelaran PON XX di Papua. Siapa pun yang terlibat dalam event olahraga tersebut harus diskrining ketat sebelum kembali ke daerah masing-masing. Jika hal itu tidak dilakukan, ada potensi menularkan kasus-kasus baru ke daerah tujuan kepulangan para atlet, ofisial, manajer, pejabat, maupun tenaga pendukung PON XX Papua.

Satgas Covid-19 Papua pada Senin (4/10) lalu mencatat ada 29 atlet, ofisial, dan panitia PON XX Papua yang terpapar Covid-19.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyatakan, semua yang terlibat dalam PON XX harus dites antigen sebelum pulang. Jika hasilnya negatif, yang bersangkutan boleh pulang. Meski demikian, saat tiba di provinsi masing-masing, mereka harus dikarantina.

”Begitu sampai di lokasi (provinsi tujuan, Red), dia harus dikarantina minimal tujuh hari, apa pun hasilnya. Meskipun saat itu dia dites lagi atau tidak, tetap harus tujuh hari karantina,” jelasnya kemarin (6/10).

Jika hasil tes antigen sebelum kepulangan menunjukkan positif, yang bersangkutan tidak boleh berangkat. Harus menetap di Papua untuk menjalani isolasi setidaknya selama 14 hari. Dicky menyebutkan, kemunculan kasus-kasus positif di Papua dalam PON memang sulit dihindari. Sebab, ada banyak kelemahan dalam sistem mitigasi.

Dalam berbagai kesempatan, Dicky mengaku sudah sering mengusulkan beberapa langkah mitigasi. Misalnya, sebelum pergi ke Papua, setiap peserta PON harus menjalani karantina di daerah masing-masing. Paling tidak tiga hari. Kemudian, sampai di lokasi PON Papua, mereka kembali harus menjalani karantina.

”Nggak usah lama-lama karena pada akhirnya juga sistem bubble. Tapi, entah mungkin sulit atau bagaimana, (usul ini, Red) tidak terlaksana,” jelas dia.

Sistem bubble sendiri, terang Dicky, adalah praktik yang cukup efektif untuk menekan penularan. Namun, pertanyaannya adalah apakah sistem tersebut sudah bisa diterapkan secara disiplin dan konsisten. Jika penerapan sistem bubble efektif, sebenarnya tidak semua orang harus dites. Cukup sampling saja.

”Intinya, bubble itu yang di luar tidak masuk, yang di dalam tidak keluar. Atau dengan kata lain tidak ada kontak. Ini yang sulit, apalagi kalau tinggalnya terpencar,” katanya.

Soal kedisiplinan, ungkap Dicky, ada pejabat yang berkunjung ke Papua, kemudian kembali ke daerah masing-masing. Itu juga dikhawatirkan lolos dari kedisiplinan penerapan protokol kesehatan (prokes). ”Seharusnya tanpa kecuali. Tidak boleh ditoleransi meskipun pejabat,” tegasnya.

Saat ini yang bisa dilakukan ialah terus menguatkan 3T (testing, tracing/tracking, dan treatment). Supaya persebaran virus bisa diputus secara tuntas, harus ada pelacakan kontak yang tidak main-main. Dicky menyatakan, tidak cukup hanya 15 orang per 1 kontak positif.

Untuk mencegah persebaran dan ledakan kasus, tracing harus dilakukan pada lapis pertama (kontak erat) hingga lapis kedua dan ketiga. ”Minimal 30 orang. Tapi, saya rasa itu bisa sampai ratusan. Lapisan pertama semua harus dites. Lapis kedua dan ketiga misalnya cukup dikarantina,” ujarnya.

Untuk kegiatan yang masih berlangsung, mobilitas harus diperketat. Pertemuan antar penonton, atlet, dan ofisial harus diminimalkan meskipun Dicky menyebut itu sulit dilakukan. ”Selain manajer, ada pejabat daerah yang ketemu makan di sana sini, maka itu jadi sulit. Dalam event sebesar ini tidak boleh ada relaksasi, toleransi, karena taruhannya kasus klaster. Tidak bisa mencegah,” tandasnya.

Prof Tjandra Yoga Aditama, guru besar Fakultas Kedokteran UI, mengatakan, mereka yang positif Covid-19 hampir dapat dipastikan tertular di Papua. Sebab, sebelum berangkat, semua atlet sudah dites PCR. Dalam kondisi seperti ini, senada dengan Dicky, 3T harus terus diperkuat agar situasi epidemiologi bisa terkendali.

Yoga menyatakan, meskipun para atlet dikatakan memiliki daya tahan tubuh bagus, nyatanya mereka tetap tertular dengan nilai CT value yang rendah. ”Maka, baik kalau semua yang 29 orang itu, atau nanti nambah lagi, semuanya diperiksa whole genome sequencing,” ucapnya.

Tracking harus dilakukan pada semua pihak yang kontak erat dengan 29 orang tersebut. Kalau selama ini targetnya 15 kontak, setidaknya harus diperiksa hingga 450 orang. ”Tentu ini mencakup sesama atlet, ofisial, petugas hotel, dan sebagainya. Kalau dulu pernah ditargetkan periksa 30 kontak, artinya yang harus diperiksa mencapai 900 orang. Termasuk masyarakat setempat yang mungkin kontak juga,” tuturnya. (jpg)