batampos.co.id – Uji terbang dengan rute Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung–Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, kemarin (6/10) menandai keberhasilan penggunaan bahan bakar nabati untuk dunia aviasi.

Pesawat CN235-200 FTB mengudara dengan campuran bahan bakar bioavtur 2,4 persen atau J2.4. Itulah sejarah baru bagi Indonesia. J2.4 merupakan bahan bakar campuran bioavtur yang dihasilkan dari bahan baku 2 persen dan 2,4 persen minyak inti sawit atau refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO) dengan menggunakan katalis Merah Putih.

’’Hari ini (kemarin, Red) sejarah telah tercipta,’’ ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam seremoni uji terbang pesawat CN235-200 FTB di hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMF), Tangerang, kemarin.

”Berkat dukungan dan kerja sama seluruh stakeholder yang terlibat, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati campuran bioavtur 2,4 persen yang telah dinanti bangsa Indonesia akhirnya terlaksana menempuh jarak Bandung–Jakarta dengan pesawat CN235,’’ lanjutnya.

Pesawat melakukan penerbangan di ketinggian 10.000 dan 16.000 kaki. Hasilnya, performance engine dan indikator-indikator di kokpit menunjukkan kesamaan antara penggunaan bahan bakar avtur atau Jet A1 dengan J2.4. ’’Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan keamanan energi nasional,’’ papar Arifin.

Perjalanan panjang dilalui untuk sampai di tahap keberhasilan uji terbang kemarin. Dimulai dengan sinergi penelitian antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB). Yakni, pengembangan katalis Merah Putih untuk mengonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur pada 2012.

Berbagai kerja sama kemudian diperluas. Proses pengujian juga telah dilalui. Arifin menjelaskan, serangkaian uji teknis dilakukan pada 8–10 September 2021. Lantas, dilakukan penerbangan perdana dengan menggunakan bahan bakar nabati (BBN) bioavtur J2.4 kemarin.

Berdasar Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015, pencampuran BBN pada avtur ditargetkan mencapai persentase 3 persen pada 2020. Lalu, pada 2025 ditingkatkan lagi menjadi 5 persen.

Keberhasilan itu sekaligus mencerminkan upaya pemerintah dalam mendorong percepatan energi baru terbarukan (EBT) dan pengurangan emisi gas rumah kaca pada transportasi udara. ”Tentu, kita tidak akan berhenti dan berpuas diri di tahapan ini. Penelitian dan pengembangan akan terus dilakukan untuk dapat menghasilkan produk J100 dan penggunaan bioavtur dilakukan di seluruh maskapai Indonesia, bahkan mancanegara,’’ jelas mantan Dubes RI untuk Jepang itu.

Pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, konsep triple helix yang merupakan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dilaksanakan secara baik dalam kegiatan uji terbang menggunakan bioavtur. Ke depan, momentum itu diyakini menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berbasis riset dan inovasi.

Inovasi tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan impor energi. Agar hal itu terealisasi, Airlangga menargetkan nilai keekonomian bioavtur J2.4 harus terpenuhi. Itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan pemerintah. Baik terkait perpajakan seperti super tax deduction untuk riset maupun insentif nonfiskal.

Airlangga memerinci, dengan perkiraan konsumsi avtur harian sekitar 14 ribu kl, potensi pasar bioavtur J2.4 akan mencapai Rp 1,1 triliun per tahun. ’’Pangsa pasar J2.4 diperkirakan Rp 1,1 triliun,’’ ungkapnya. (jpg)