batampos.co.id – Indonesia menempati ranking terbaik penanganan pandemi di antara negara-negara ASEAN. Dari hasil laporan Nikkei’s Covid-19 Recovery Index sampai September 2021, Indonesia menempati peringkat ke-54 dari 121 negara yang diteliti.

Peringkat Indonesia tersebut meningkat setelah sebelumnya, pada laporan Juli 2021, berada di peringkat ke-92. Peringkat tersebut sekaligus menjadikan Indonesia menempati ranking tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Indonesia mendapat skor 54,5. Skor tersebut sejajar dengan Korea Selatan, Meksiko, dan Jordania. Negara lain di ASEAN yang mengalami peningkatan adalah Malaysia, dari peringkat ke-115 naik ke peringkat ke-102.

Sementara itu, tiga negara ASEAN lainnya, yakni Filipina, Laos, dan Vietnam, menempati empat terbawah dalam daftar tersebut. ”Beberapa negara ASEAN naik peringkat karena jumlah kasus yang menurun dan progres vaksinasi yang pesat. Indonesia naik dari peringkat ke-54 dari 92 dan Malaysia naik ke 102 dari 115,” tulis laporan Nikkei’s Covid-19 Recovery Index dilansir Nikkei Asia kemarin (10/10).

Indeks yang dibuat oleh Nikkei Asia menilai negara dan wilayah dalam manajemen infeksi, peluncuran vaksin, dan mobilitas sosial. Peringkat Tiongkok sendiri merosot dari posisi pertama menjadi kesembilan dalam edisi terbaru Nikkei’s Covid-19 Recovery Index. Tiongkok berada di posisi teratas sejak indeks kali pertama diterbitkan pada Juli, berkat jumlah kasus rendah dan tingkat vaksinasi tinggi.

Namun, skor mobilitas Tiongkok relatif rendah karena negara tersebut mempertahankan kontrol perbatasan yang ketat dan pembatasan mobilitas. Aturan itu mengunci kota dan daerah pedesaan setiap kali ada kasus yang dikonfirmasi, membatasi jumlah penerbangan dari luar negeri, dan memberlakukan periode karantina yang panjang hingga tiga atau empat minggu kepada para pendatang.

Bicara mengenai peningkatan mobilitas di Indonesia, pelaku usaha pusat perbelanjaan mengonfirmasi bahwa pelonggaran mobilitas yang diterapkan pemerintah memang secara perlahan terlihat dampaknya. ”Sejak diberi pelonggaran, peningkatan kunjungan di pusat belanja terus naik secara bertahap, meski cenderung lambat,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Alphonsuz Wijaya.

Menurut Aplhonsuz, saat pembatasan ketat, tingkat kunjungan maksimal hanya berada di level 10 persen. Namun, saat ini tingkat kunjungan rata-rata nasional sudah berada di angka 30 persen. ”Peningkatannya memang sangat lambat karena kami di sini melihat pemerintah cukup berhati-hati dalam memberlakukan pelonggaran,” bebernya.

Meski demikian, masih ada kekhawatiran terjadi lonjakan kasus. Bahkan, tidak menutup kemungkinan gelombang ketiga Covid-19 muncul pada akhir 2021. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito.

Dia mengingatkan agar seluruh komponen satgas di daerah mewaspadai potensi gelombang ketiga. ’’Ancaman gelombang ketiga yang diprediksi oleh para ahli akan terjadi pada Desember,” sebut Ganip.

Akhir tahun atau Desember bertepatan dengan dua momen besar. Yakni, Natal dan pergantian tahun. Menurut Ganip, pada periode tersebut, ada potensi memicu keinginan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan. Di samping itu, akhir tahun masih masuk dalam periode pergantian cuaca. Hal tersebut bisa memengaruhi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. (jpg)