batampos.co.id – Pelaku usaha menanggapi positif pembukaan kembali Bali dan Kepri untuk wisatawan mancanegara (wisman). Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, pembukaan Bali ditunggu-tunggu sektor perhotelan dan restoran. Sebab, Bali merupakan destinasi yang kontribusi wismannya sangat signifikan.

”Biasanya sebelum Covid-19 bisa 6–7 juta wisman per tahun. Bisa menyumbangkan 70 persen okupansi pada hotel-hotel di Bali,” ujar Maulana kepada Jawa Pos kemarin (13/10).

Dia membenarkan, meskipun Bali dibuka per hari ini (14/10), dampak terhadap demand tidak akan langsung terjadi secara instan. ”Karena perjalanan wisman ini kan jauh. Mereka butuh travel plan, butuh melengkapi persyaratan, biaya, dan segala macam,” katanya.

Sejauh ini, lanjut dia, okupansi hotel di Bali cukup terpuruk. Pelonggaran mobilitas domestik memang cukup membantu mengangkat okupansi perhotelan di Bali. ”Tapi, hanya bisa maksimal 30 persen. Dengan pelonggaran wisman, kita berharap bisa nambah 10 persen okupansi. Itu sudah lumayan,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengamini bahwa kembali dibukanya Bali untuk wisman bisa menjadi momentum yang baik bagi dunia pariwisata. Astindo ingin menegaskan bahwa pembukaan bandara harus dibarengi dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan stakeholder lain, termasuk dengan travel agent dan industri airlines.

”Supaya kita bisa maksimal mendukung pembukaan Bali dengan sales dan marketing effort. Untuk airlines, mereka kan perlu waktu buat atur skedul, jualan tiket, dan sebagainya,” beber Pauline kepada Jawa Pos.

Dia menyebutkan, idealnya 1–2 minggu sebelum Bali dibuka, pemerintah mengumumkan peraturan-peraturan yang sudah tetap. Dengan begitu, stakeholder-stakeholder bisa promosi dan menawarkan paket wisata. ”Sampai saat ini banyak (wisman, Red) yang menunjukkan minat untuk atur travel plan ke Indonesia. Tapi, kita belum berani jualan karena juknis belum jelas,” urainya. (jpg)