batampos.co.id – Rokok menjadi salah satu indikator yang menunjukkan tingkat kemiskinan di tengah-tengah rakyat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri di Maret 2021, rokok berkontribusi sebanyak 15,17 persen terhadap garis kemiskinan di Kepri.

Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo, mengatakan, rokok menjadi indikator kemiskinan karena rokok yang tidak membantu kecukupan kalori per hari bagi tiap orang.

”Rokok ini bukan makanan, tapi dikelompokkan menjadi makanan. Kan mengukurnya berdasarkan konsumsi selama seminggu terakhir. Rokok ini kontribusinya kecil bagi kecukupan kalori,” katanya, Kamis (14/10).

Normalnya, manusia membutuhkan 2.100 kilokalori untuk bisa beraktivitas tiap harinya. Di sini, peran rokok sangat kecil bahkan tidak ada perannya sama sekali.

”Rokok berandil besar pada garis kemiskinan dilihat dari sudut pandang kalori. Kontribusinya kecil. Sedangkan dari sudut pandang pengeluaran, kontribusinya besar,” jelasnya.

”Misalnya, kebutuhan 2.100 kilokalori yang tadinya bisa dipenuhi dengan daging ayam, malah diganti dengan rokok sebungkus. Jadi kehilangan kesempatan cukupi kebutuhan kalori. Rokok ini pengeluaran besar, tapi perannya kecil, sehingga ada peluang besar bahwa kalori si perokok itu tidak terpenuhi,” tuturnya.

Rokok juga menjadi komoditas yang sering dibeli oleh masyarakat khususnya pria. Bahkan kebutuhan untuk rokok ini bisa mencapai 30 persen dari kebutuhan harian.

”Sebagai komoditi yang bisa menjadi penyebab inflasi, rokok ini unik karena bisa jadi indikator kemiskinan, karena banyak yang mentingin rokok dibanding makan. Kalau rokoknya bermerek, biasanya agak berduit, tapi kalau murah apalagi minta, sudah tahulah,” ungkapnya sembari bercanda.

Berdasarkan data profil kemiskinan terakhir dari BPS Kepri per Maret 2021, jumlah penduduk miskin yang memiliki pengeluaran per kapita per bulan di bawa garis kemiskinan di Kepri mencapai 144.642 orang atau 6,12 persen dari jumlah penduduk Kepri.

Jumlahnya bertambah sebanyak 1.850 orang dibandingkan dengan kondisi September 2020 yang sebesar 142.611 orang atau 6,13 persen. Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2020 tercatat sebesar 66,52 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Maret 2021 yaitu sebesar 66,82 persen. (*/jpg)