

Disebalik pagebluk Covid-19 ada sisi positif, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Karena pandemi Covid-19 telah memaksa mereka untuk bertransformasi lebih cepat. Meskipun tidak meninggalkan cara-cara konvensional, namun mereka sudah bisa melompat lebih cepat ke dalam dunia digital.
JAILANI, Bintan
Jarum jam ditangan menunjukan pukul 13.30 WIB. Dua wanita paruh baya terlihat sedang bercengkrama di sebuah bangunan kecil di Pantai Dinda, Tanjunguban, Bintan, Jumat siang (22/10) lalu. Di dalam ruangan berukuran sekitar 2 meter persegi tersebut, terlihat aneka bunga berbagai warna yang dibentuk seperti bonsai.
Hari itu, kondisi cuaca sangat bersahabat, bayu berhembus sepoi-sepoi dan deburan ombak memberikan irama tersendiri. Terlihat sejumlah pengujung yang datang untuk sekedar melepas lelah atau bermain-main di bibir pantai. Untuk urusan wisata pantai, Kabupaten Bintan tak diragukan lagi. Mulai dari pantai rakyat hingga pantai privasi tersedia di Bintan. Banyak orang menilai, Bintan cocok untuk menjadi Bali kedua di Indonesia.
Sebelum pandemi Covid-19, ekonomi daerah Bintan bergairah. Wisatawan mancanegera (wisman) terus berdatangan melalui pelabuhan internasional Bandar Bintan Telani (BBT) yang berada di pusat wisata Lagoi. Namun pandemi Covid-19 telah merenggut pundi-pundi pendapatan bagi sejumlah pelaku UMKM di Bintan. Bagi sebagian UMKM, pandemi Covid-19 persis seperti naik roller coaster.
Tak begitu jauh dari kawasan wisata internasional Lagoi, tepatnya di Tanjunguban juga ada pantai rakyat yang dikelola oleh kelompok masyarakat. Letaknya menghadap langsung ke Selat Malaka yang menjadi lintasan ribuan kapal dari berbagai negara. Di sinilah terlahir pengerajin sisik ikan. Mereka menamakan diri kelompok pengerajin Manggar Abadi, terbentuk pada 2017 dan terus menggeliat sampai 2019. Namun pandemi Covid-19 di 2020 mengakibatkan mereka tiarap. Asa untuk menembus pasar ekspor juga tertunda.
“Semua sendi-sendi kehidupan terguncang disebabkan pandemi Covid-19. Termasuk kami sebagai kelompok pengerajin sisik ikan, kondisinya benar-benar tiarap,” ujar Suriyati, Ketua Pengerajin Sisik Ikan Manggar Abadi kepada Batam Pos.
Tatapannya kosong, menembus laut biru yang membentang luas di hadapannya. Sambil menghela napas panjang, Suriyati mengisahkan tidak pernah membayangkan usaha yang sedang mereka bangun tiba-tiba terhenti oleh Covid-19. Bagi Suriyati, kondisi tersebut seperti mimpi buruk.
“Pandemi Covid-19 ini benar-benar seperti mimpi buruk. Yang biasanya kami sibuk mengerjakan pesanan, kondisinya sekarang seperti mati suri,” keluh Suriyati.
Perempuan paruh baya tersebut menceritakan usaha mengolah limbah sisik ikan menjadi barang bernilai ini dimulainya pada 2017. Awalnya ia hanya mencoba-coba. Hasil karyanya mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Tanjunguban Utara. Oleh pihak keluarahan, ia dipercaya menjadi Ketua Pengerajin Sisik Ikan Manggar Abadi. Setelah kelompok terbentuk dengan 10 orang anggota, mereka pantungan Rp20.000 per orang sebagai modal awal usaha.
Dipilihnya nama Manggar Abadi filosofinya Manggar adalah nama jalan yang ada di Kampung Bugis ini. Sedangkan Abadi berarti kekal. Sehingga harapannya atas usaha yang dijalakan dirinya dan kawan-kawan tetap jalan dan sukses sampai kapanpun. Atas usaha yang sudah dilakukan, dia juga sudah dapat membawa nama besar Bintan dan Provinsi Kepri ke pentas nasional.
“Pada 2017 itu ada lomba kreativitas yang dilaksanakan oleh Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bintan. Kami membuat bunga sakura dari sisik ikan. Dari sanalah awal mulanya, jalan produksi kami meningkat dan banyak pesanan,” kenangnya.
Suriyanti memaparkan dia mendapatkan pasokan bahan baku dari pasar Tanjunguban. Awalnya harga sisik ikan hanya setara dengan uang rokok, namun karena belakangan punya nilai jual, 1 kilogram sisik ikan dihargai hingga Rp50.000 bahkan Rp80.000 tergantung besar dan kecilnya. Jenis ikannya tidak masalah, apakah itu ikan jabung, ikan merah, maupun ikan tokok. Bahkan ketika kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku di Tanjunguban, dia kemudian mencarinya sampai ke Batam.
“Bahan baku yang sedikit sulit didapat adalah sisik ikan. Sedangkan bahan pendukung lainnya didapat di lingkungan sekitar, seperti akar kayu,” ungkapnya.
Para pengrajin membuat produknya dengan menyesuaikan pesanan para pembeli. Menurut Suriyanti, produk kerajinan sisik ikan yang paling diminati pemesan adalah bunga bentuk bonsai. Kemampuan produksi satu orang pengrajin dalam sepekan mencapai 4 pot bunga.
“Yang jelas ketika kondisi normal kami bisa membuat puluhan pot bunga dalam sepekan. Ukuran dan bentuk tentunya bergantung pada pesanan,” sebutnya.
Putus Kontrak Dengan Hotel
Sembari membuka buku catatan usaha, Suriyati melihat detail halaman per halaman. Menurutnya, sejak 2017 sampai 2020, ia dan kawan-kawan sudah sukses menjual 1.000 pot bunga sisik ikan dengan berbagi ukuran. Untuk untuk ukuran kecil dibanderol Rp50.000, ukuran sedang Rp150.000 dan besar Rp300.000.
Pada 2019 lalu, Suriyanti bersama teman-temannya berhasil mendapatkan kontrak kerja dengan Hotel Natra untuk menyediakan cinderamata bagi turis yang menginap di sana. Karena Manggar Abadi tidak hanya menyediakan produk dari sisik ikan, tetapi juga mengubah kulit kerang dan sabut kelapa menjadi cinderamata.
“Kontrak kerja sama pertama kami adalah dari Hotel Natra. Sebenarnya pada awal 2020 kontrak akan berlanjut, namun karena Covid-19, hal itu urung terlaksana. Apalagi wisatawan mancanegara dilarang berkunjung. Inilah penyebab tiarapnya usaha kami,” ujar Suriyati.
Manggar Abadi juga memasok cinderamata untuk Hotel Sancaya. Bahkan mereka juga memiliki program melayani turis untuk belajar tentang kerajinan daerah. Para turis langsung datang ke galeri Manggar Abadi untuk belajar langsung. “Ini sesuatu yang baru bagi kami, meskipun terhalang dengan komunikasi, kami coba berinteraksi dan memberikan pelayanan yang prima kepada setiap wisatawan yang datang,” jelasnya.
Selain kedua hotel tersebut, Manggar Abadi juga mendapat kepercayaan dari Kintamani Travel yang datang membawa tamu 80-100 setiap dua pekan sekali. Selain datang untuk menikmati kelapa muda, para turis juga dikenalkan dengan kerajinan-kerajinan yang dibuat Manggar Abadi.
“Pada kondisi normal, dengan melayani wisatawan untuk belajar tentang kerajinan yang kami buat, kami bisa mendapatkan pendapatan tambahan belasan juta. Satu orang pengrajin bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp4 juta. Ditambah dengan mengisi kegiatan di luar,” Suriyanti menjelaskan.
Pada 2020 lalu, Manggar Abadi turut menjadi kelompok UMKM yang mendapatkan Program Bantuan Usaha Mikro (PBUM) dari pemerintah pusat. Bantuan yang didapat tersebut dijadikan sebagai tambahan modal, apabila kondisi sudah kembali normal. Sebab hasil usaha yang didapat selama ini juga disimpan jadi modal.
“Alhamdulillah dari awal kami hanya mengguna alat seadanya, perlahan kita sudah bisa melengkapi dengan alat pemotong kerang, gerinda dan lainnya. Aset-aset itu didapat dari jerih payah kami dalam berusaha,” ungkap Suriyati.
Belum Optimal Go Digital
Dalam hal pemasaran, Suriyati dan kawan-kawannya sudah menggunakan memanfaatkan new media seperti laman media sosial masing-masing anggota. Meski begitu sampai saat ini, belum dibuat nama khusus pengrajin Manggar Abadi di media sosial, baik itu di Facebook maupun Instagram. “Ke depan pihaknya akan membuat laman khusus tentunya,” ujarnya.
Sebagai pelaku UMKM, Suriyanti juga sudah mendapatkan pelatihan untuk terjun ke dunia digital. Namun sampai saat ini dia belum berani maksimal terjun ke dunia tersebut. “Banyak yang menyarankan untuk memanfaat platfom digital yang sudah ada untuk memasarkan produk. Namun kami masih mempertimbangkan saran tersebut,” ujarnya.
Kendala yang dialami Suriyanti karena masih kesulitan mengemas produk kerajinan sisik ikannya dengan aman. Sehingga sulit memastikan produk tersebut akan sampai ke tangan pembeli dengan aman. Dia berharap, persoalan ini bisa terpecahkan nantinya. Apalagi banyak pihak menilai produk-produk hasil kerajinan tangan yang mereka buat punya kualitas ekspor.
“Masalahnya butuh banyak kelompok pengerajin. Sehingga produk yang dijual atau dipasarkan bisa diekspor. Karena ini kerajinan yang dihasilkan dari limbah, jadi hanya terbatas untuk pasar wilayah Asia. Sebab pasar Eropa tidak menerima produk berbahan baku limbah,” jelasnya.
Mendorong UMKM Perbatasan Melek Digital
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau, Musni Hardi Kasuma Atmaja, mengatakan UMKM di Provinsi Kepri wajib untuk melek digital. Pasalnya, revolusi industri 4.0 merupakan transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet.
“Hal ini merupakan satu keniscayaan, karena apabila tidak berani berubah, tentu akan tertinggal,” ujarnya kepada Batam Pos belum lama ini.
Menurut Musni, di era digital saat ini, baik pelayanan maupun transaksi sudah mulai bergeser, dari cara-cara konvensional pindah ke digital dalam genggaman melalui ponsel atau gadget. Sehingga isu tentang strategsi pengembangan UMKM di era new normal adalah perubahan perilaku dan cara kerja UMKM. Ada tiga kunci persiapan menjalani adaptasi baru yang harus dipahami oleh pelaku UMKM. Ketiganya adalah be strong, be creative dan prepared for new civilization.
“Tantangan UMKM di era revolusi industri 4,0 ini adalah pola usaha dan pola pikir tradisional, keterbatasan pengetahuan, dan akses teknologi, serta kendala akses pembiayaan,” ungkapnya,
Musni menyatakan peluang bagi UMKM di era sekarang ini adalah dukungan luas dari platform digital, perubahan perilaku konsumen semakin digital, dan ketersediaan sistem pembayaran digital yang handal. Karena itu, pelaku UMKM didorong untuk melek digital dengan menggunakan semua sumber daya yang tersedia.
“Manfaat digitalisasi bagi UMKM diantaranya adalah meminimalkan asymmetric information dan mendekatkan UMKM pada bahan baku atau faktor produksi, pasar, akses pembiayaan, kanal pembayaran dan logistik tentunya,” Musni memaparkan.
BI Perwakilan Kepri juga melakukan pembinaan terhadap UMKM, salah satunya mendorong UMKM untuk membentuk kelompok lebih besar seperti koperasi, kelompok usaha bersama (KUB), kelompok pengolah pemasar (Poklahsar), kelompok tani (Poktan), persekutuan komanditer (CV) hingga perseroan terbatas (PT).
Musni memaparkan pengembangan UMKM di Provinsi Kepri dengan model korporatisasi. BI juga mendorong peningkatan akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan UMKM tersebut. Upaya yang dilakukan dimulai dari pembinaan terhadap pencatatan keuangan untuk kemudian dilakukan business matching antara lembaga keuangan (perbankan maupun non bank) dengan UMKM yang bersangkutan.
“Untuk menjadikan UMKM bankable atau feasible, kami terus memberikan edukasi melalui pelatihan kepada UMKM. Kami juga memperkenalkan ekosistem yang ada, yakni aplikasi pencatatan transaksi keuangan bagi UMKM (SI-APIK),” ungkapnya.
Tujuan BI ialah untuk mendorong gerakan non tunai, yakni menggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Ekosistem digital dengan standarisasi pembayaran menggunakan QR Code ini agar proses transaksi jadi lebih mudah, cepat dan terjaga keamanannya. Ini merupakan upaya agar UMKM memiliki rekam jejak transaksi. Maka dari itu, penggunaan QRIS ini didorong bukan hanya di UMKM, tetapi juga koperasi tani maupun pasar tradisional.
Penggunaan QRIS oleh UMKM juga akan membentuk credit profile sebagai bekal UMKM untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Melalui penggunaan QRIS, seluruh transaksi pembayaran akan tercatat pada rekening yang bisa dijadikan rujukan bagi bank dalam melakukan analisis penyaluran kredit.
“Dalam hal digitalisasi sistem pembayaran, jumlah merchant QRIS di wilayah Kota Batam pada akhir 2020 tercatat 41.624 merchant atau melonjak 172.8 persen dari 2019. Dari jumlah itu 35.098 merupakan UMK,” paparnya.
Karena itu, menurut Musni, perlu business matching dengan perbankan maupun non bank. BI juga memfasilitasi pelaku UMKM untuk business matching dengan bank-bank umum yang memiliki program pembiayaan UMKM. BI juga mendorong transaksi non tunai kepada para UMKM melalui kegiatan on-boarding UMKM yakni mempertemukan antara UMKM dan penyedia e-commerce.
“Selain itu pendampingan bisnis (business coaching) dalam hal pengelolaan dan laporan keuangan,” kata Musni.
Musni menegaskan peran strategis UMKM sebagai kekuatan baru perekonomian nasional agar produktif, inovatif dan resilien. Penerapan strategi bagi UMKM adalah dengan skema korporatisasi, kapasitas, pembiayaan dan digitalisasi mendorong UMKM naik kelas. Sedangkan pembiayaan UMKM dapat bersumber dari lembaga keuangan formal, dana sosial perusahaan (CSR), dan financial technology (fintech).
“Digitalisasi UMKM menjadi kunci, karena inovasi digital menghadirkan peluang mengitegrasikan inklusi ekonomi dan keuangan digital. Selain itu adalah penguatan sinergi program UMKM di sektor ekonomi prioritas. Kemudian program onboarding UMKM yakni e-commerce, e- financing dan e-payment,” tutupnya. (*)
