Rindu ketemu kakeknya di Bintan tapi tak punya uang, ide kreatifnya muncul. Bagaimana caranya, mengajak orang lain, sewa mobil ramai-ramai dan bisa nebeng gratis? Memanfaatkan media sosial, ia kaget respons orang luar biasa. Sejak itu, ia kini menjadi selebgram influencer dan food vlogger dengan follower 414.000 orang. Inilah kisahnya.
Namanya Yusi Fadila. Usia-nya 26 tahun. Lahir di Tanjungbatu, Karimun. Kakeknya dari Kijang, Bintan. Logat melayunya kental. Tamat SMA di Palembang, Yusi kuliah jurusan akuntansi di Universitas Riau Kepulauan. Hobinya makan dan jalan-jalan.
”Saya dulu kuliah di Unrika Batam sambil bekerja jadi honorer di SD Sagulung. Tahun 2016, saya mau jumpa kakek di Bintan. Duit tak ade. Saya mau ajak 5 sampai 6 orang, sewa mobil saya yang nyetir, biar bisa gratis. Saya posting di FJB namanya Tour Bintan, karena orang Batam jarang ke Lagoi. Tau tak berapa yang daftar? Ratusan orang. Akhirnya, yang ikut 250 orang dan banyak yang kami tolak,’’ cerita Yusi Fadila.
Yusi dan teman-temannya nekad mengajak orang sebanyak itu. Padahal, mereka tak punya pengalaman soal tour travel. Apalagi, Lagoi indentik dengan turis asing dan mahal. ”Kami pelopor one day tour yang kami namakan Tour Bintan. Paket hemat hanya Rp 300 ribu. Ternyata, viral dan travel lain pun ikut,’’ kata Yusi yang saat itu hanya hanya posting di Facebook.
”Macam manalah Bang. Aku kuliah. Gaji aku Rp 800 ribu. Niatnya mau nengok kakek. Gara-gara itu, aku diteror travel agen. Kamu nggak punya badan hukum. Aku ketakutan, Bang,’’ kata Yusi Fadila.
Karena peminat tour Bintan membeludak, Yusi minta bantuan teman-teman sekampus. Transaksi pun dilakukan di kantin kampus. Ia sibuk cari bus, telpon sana-sini dan mencatat semua rencana perjalanan. ”Malam itu aku tak tidur, Bang,’’ kata Yusi, tertawa. Sejak itu, Yusi membawa ratusan orang jalan-jalan dari Batam ke Bintan.
Setelah itu, Yusi belajar soal tour dan travel. Setelah uang mereka cukup, lalu mendirikan perusahaan perjalanan wisata. Namanya Yusi Travel dan lebih dikenal dengan Traveler Kepri. Lantaran sibuk mengurus tamu, Yusi saat itu malah tak sempat menjumpai kakeknya.
”Mana bisa lagi? Kami dah sebok,’’ katanya. Sampai saat ini, tour and travel itu masih jalan. Namun, sejak Covid-19 melanda dunia, aktivitasnya menurun.
Gurun pasir yang kini menjelma jadi obyek wisata di Bintan, ternyata Yusi dan kawan-kawannya yang bikin viral.
”Dulu mana ada yang mau foto-foto di situ. Dulu semak-semak. Tamu-tamu kami bawa ke situ dan suruh terabas. Tamunya menurut karena kami bilang, mau dapat spot foto yang bagus nggak? Fotonya viral karena di share ribuan orang. Sejak itu, tamu selalu minta bawa ke situ,’’ cerita Yusi.
Sejak itu, warga setempat menyadari, lokasi bekas galian pasir yang mirip gurun itu, punya potensi wisata. Lokasi itu dibersihkan jadi spot foto yang menarik, ada yang jual air kelapa sampai disediakan gambar unta dan danau buatan.
Sejak 2016, Yusi dan kawan-kawannya sibuk menjalankan tour and travel. Tidak hanya ke Bintan, tapi merambah ke negeri jiran seperti Singa-pura, Malaysia dan Thailand. ”Dulu, orang Batam selalu menganggap ke Lagoi itu mahal karena harus menginap. Kami bikin tur sehari, naik roro, makanya murah,” katanya.
Jalan-jalan identik dengan makan-makan. Pada 2018, Yusi mulai posting makanan unik di Instagram. Makanan yang di-review Yusi, viewer-nya melonjak dengan cepat. ”Saya memang hobi makan. Awalnya, follower aku hanya 20 ribuan. Kalau postingan-nya viral, bisa tembus 30 ribuan follower,” cerita Yusi.
Naiknya follower Instagram dan food vlogger pemilik akun @yusifadila96 ini, bukan hanya karena makanan yang ditampilkan, tapi juga karena cara Yusi makan. ‘’Kayaknya karena makanan dan cara aku makan. Tengoklah video-video lama aku. Malu aku..ihhh.. ha..ha..ha,’’ Yusi ngakak sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
Yusi bikin heboh jagat maya. Ia makan mangga dengan kulit-kulitnya. Percobaan pertama gagal. Yang kedua, berhasil setelah mangga dikupas setelah dilumuri garam dan makan cabai. Video yang diunggahnya bulan Mei 2018 di media sosial itu, viral. Postingan-nya berhasil menarik 126.305 viewers dari seluruh penjuru Indonesia.

Selebgram dan food vlogger asal Batam, Yusi Fadila, menikmati pizza Marinara.
Yusi bahkan tak menyangka, ia diundang ke istana negara oleh Presiden Joko Widodo tanggal 5 Juni 2018 setelah aksi makan mangga dengan kulitnya. Ia diundang bersama 34 selebgram serta 128 artis, influencer dan YouTubers dari seluruh Indonesia, untuk mempromosikan Asean Games 2018.
Sejak itu, Yusi Fadila menjadi selebgram. Undangan, tiket pesawat dan fotonya berjabat tangan dengan Presiden Joko Widodo juga diunggah di Instagram-nya yang membuat nama Yusi Fadila melambung.
Video mukbang alias makan-makan, bukan hal baru bagi Yusi yang berkecimpung di bisnis perjalanan wisata. Sejak awal, ia konsisten me-review berbagai objek wisata dan traveling serta kuliner khas Batam. Bukan hanya makanannya, cara makan Yusi memang tidak biasa.
Ia tampak sangat menikmati apa yang dimakan, dan cara makannya pun menggugah selera.
Menurut Yusi Fadila, sebagai food vlogger, bisnis kuliner di Batam makin semarak dan potensial. ”Sebelum Covid-19 mencari makanan kampong yang unik-unik agak susah. Tapi, setelah Covid-19, kuliner betul-betul meledak. Mungkin karena pariwisata mati, orang susah cari kerja, banyak yang buka usaha dan kreatif,” papar Yusi Fadila.
Beberapa bulan lalu, makanan raja oles kerang tumpah yang di-review Yusi juga viral. ”Di Facebook tembus 6 juta pengunjung. Di TikTok juga ramai. Pengunjungnya selalu penuh. Sekarang, tak bisa lagi bisnis kuliner promosi dari mulut ke mulut. Manfaatkan media sosial. Makanannya juga harus enak dan murah, kecuali yang legend,’’ saran Yusi.
Yusi mengaku, lebih suka dan cinta makanan kampong. ”Menurut aku, makanan yang enak itu pedas, ada manisnya, ada asinnya dan gurih. Bumbunya harus seimbang,” katanya.
”Bisnis kuliner zaman sekarang, banyak yang ikut-ikutan. Bedanya sekarang dengan sebelum Covid, kalau tak kuat berpromosi, memaksimalkan media sosial, jangan harap pengunjung akan datang. Soalnya, sekarang, makanan banyak pilihan,” ujar Yusi.
Bazar kuliner yang belakangan marak, menurut Yusi, perlu persiapan dan waktu yang cukup.
”Saya berpikir dua kali kalau mau bikin bazar. Dulu pernah bikin di Mal Botania 2. Kecuali, ada sponsor yang kuat. Selama ini, tidak pernah ada dukungan dari Pemko Batam maupun Pemprov Kepri. Mana ada perhatian pemerintah,” katanya.
Meski sering diminta meng-endorse makanan di Batam, tidak selalu Yusi mempromosikan makanan itu enak, sesuai permintaan. ”Kalau tak enak, aku tak ngomong apa-apa. Kalau kita bilang enak banget, padahal tidak, itu berarti bohong. Saya biasanya memberi saran, apa yang harus diperbaiki,” katanya.
Dari aneka makanan yang di-review di akun Instagram-nya, menurut Yusi, makanan yang viral dan disukai memang makanan yang benar-benar dia suka. ”Kalau makanannya aku suka banget, follower aku cocok, dia juga akan share kepada yang lain,’’ katanya. Yusi senang sekali, makanan yang di-review-nya viral dan pengunjung membeludak. ”Aku senang banget dan suka bolak balik makan di situ. Cuma yang nggak enaknya, karena aku promosikan, aku nggak boleh bayar. Aku jadi segan datang lagi,” ujarnya.
Selain kini dikenal sebagai selebgram dan food vlogger, Yusi Fadila terus menjalankan usaha tour dan travel yang sudah dirintisnya sejak kuliah. Selain itu, ia memasarkan pakaian muslim ala Yusi dan perhiasan dari perak dan titanium yang dinamakan Yusi Jewelery. Tapi, ia belum tertarik terjun ke bisnis kuliner. ”Macam manalah, kita punya tempat makan, lalu kita tukang review makanan orang, ha..ha..ha.’’
Sering diundang sebagai food tester, Yusi menyarankan, makanan western seperti makanan Korea, tidak bisa mempertahankan rasa yang ada, tapi ada makanan pedas dan dicampur dengan bumbu dan menu lokal. ”Ini agar orang ketagihan.”
Di masa pandemi seperti saat ini, peran dan kegiatan Yusi Fadila sebagai content creator dan selegram me-review makanan, sangat membantu pengusaha UMKM yang terjun ke bisnis kuliner. Termasuk mendukung ibunya yang berbisnis kuliner dengan makanan khas Melayu yang dinamakan Kampung Sambal, di kawasan Botania I Batam Centre.
Ia ingin mempromosikan aneka makanan Melayu dari seluruh Kepulauan Riau, agar makin dikenal di seluruh Nusantara dan dunia. Tapi, tampaknya mulai sekarang, Yusi Fadila harus lebih berhati-hati mencoba dan mencicipi makanan. Seperti kebanyakan penyuka makanan pedas, risikonya adalah: asam lambung. (***)
Laporan: Socrates Editor : RYAN AGUNG
