batampos – Bank sentral Malaysia (BNM) secara tak terduga mempertahankan suku bunga acuannya (MYINTR=ECI) sore ini.Ini menandakan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi setelah kenaikan suku bunga empat kali berturut-turut tahun lalu tak terbukti.

Bank negara ini sebelumnya mencatat, kebijakan suku bunga berada di angka 22,75 persen. Para ahli ekonom negara itu sebelumnya memprediksi akan ada kenaikan suku bunga menjadi 3 persen.
BACA JUGA:
Lawatan ke Indonesia, PM Malaysia Anwar Ibrahim Akui Sentimentil
“Keputusan hari ini memungkinkan komite kebijakan moneter untuk menilai dampak penyesuaian suku bunga kebijakan semalam kumulatif (OPR), mengingat efek keterlambatan kebijakan moneter terhadap perekonomian,” ujar BNM dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Kamis (19/1/2023).
Mereka menyebutkan, pergerakan kebijakan moneter di masa depan akan bergantung pada inflasi domestik dan prospek pertumbuhan.
Bank sentral menandai risiko penurunan ekonomi, termasuk ketegangan geopolitik, pertumbuhan yang lebih lemah di negara maju dan pengetatan tajam kondisi pasar keuangan. “Inflasi utama telah mencapai puncaknya,” ujar Juru Bicara bank sentral negara itu.
Bank sentral telah menaikkan suku bunga dengan total 100 basis poin sejak Mei 2022 lalu dari level terendah bersejarah 1,75 persen, karena tampaknya akan mengendalikan inflasi.
“Langkah BNM menunjukkan bahwa mereka semakin khawatir tentang risiko penurunan jangka pendek terhadap pertumbuhan yang berasal dari perlambatan ekonomi maju,” ujar Khoon Goh, kepala penelitian Asia di ANZ.
Dia menyebutkan, perekonomian Malaysia telah pulih dengan kuat dari kemerosotan akibat pandemi covid-19. Namun, diperkirakan akan turut melambat tahun ini di tengah perlambatan ekonomi global.
Bank sentral mengatakan pertumbuhan pada tahun 2022 kemungkinan melampaui perkiraan pemerintah 6,5% -7%, tetapi akan turun menjadi 4% -5% tahun ini.
Capital Economics mengatakan, Malaysia tetap mempertahankan suku bunganya, diprediksi akan ada perubahan di 2024 mendatang.
“Dengan pertumbuhan melambat dan tekanan inflasi mereda, kami pikir penahanan hari ini mewakili akhir, bukan hanya jeda, dari siklus pengetatan,” kata Shivaan Tandon, ekonom Asia yang baru muncul di Capital Economics. (*)
Reporter: Chahaya Simanjuntak
