Minggu, 8 Maret 2026

Tolak Wajib Militer, Pelajar Rusia Rela Terdampar di Bandara Incheon

Berita Terkait

batampos – Vladimir Maraktayev, 23, lebih memilih terdampar di bandara internasional Incheon, Korea Selatan daripada ikut wajib militer dikirim ke perang Ukraina oleh pemerintah negaranya, Rusia.

Maraktayev, pelajar Rusia yang terdampar di Bandara Incheon, Korea Selatan. Foto diambil Kamis, 19/1/2023. F Maraktayev handout via Reuters

“Saya sudah dua bulan, sebenarnya menjalani tiga bulan tinggal terkatung-katung di sini, setelah melarikan diri dari Rusia karena tak mau ikut wajib militer seperti yang diperintahkan Presiden Putin (Vladimir Putin, red),” ujar Maraktayev lewat video yang dibagikan via Reuters, Jumat (20/1/2023).

BACA JUGA:
Serangan di Donetsk, 63 Tentara Rusia Tewas

Kementerian Hukum Korea Selatan memperbolehkan Maraktayev dan beberapa pengungsi lainnya tinggal di terminal bandara tersebut. Mereka juga dikasih makan. “Tidak ada aktivitas berarti yang saya lakukan. Aku hanya bangun, makan, kadang berjalan, dan mulai membaca buku. Aku juga mulai belajar Bahasa Korea,” ujarnya.

Dia mengishkan, setelah menerima draf yang memanggilnya untuk dinas militer ke Ukraina lewat mobilisasi sebagian sebagai bagian dari program perang Putin pada September 2022 lalu, ia memilih melarikan diri, meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar jurusan sastra dan linguistik dari kampung halamannya di Ulan-Ude, Siberia. dia kabur ke Mongolia.

Dari Mongolia,perjalanannya berlanjut ke Filipina, dan kemudian terbang ke Korea Selatan, 12 November 2022 lalu. Di Korsel, dia berharap diterima sebagai pengungsi. “Saya memilih ke Korea karena menganggap negara ini sebagai negara demokrasi paling stabil di dunia,” ungkapnya.

Namun ternyata, otoritas Korea Selatan menolak permohohannya untuk status pengungsi menetap di sana. Alasannya, melarikan diri dari wajib militer bukanlah alasan yang sah untuk diberikan suaka.

Ia pun sempat dikirim ke rumah detensi. Setelah enam hari, dia dikembalikan ke bandara Incheon. Dan sejak itu, ia terdampar di sana.

Maraktayev telah mengajukan banding atas putusan otorita Korsel tersebut, yang berarti dia belum bisa dideportasi dari Korea Selatan dan harus tetap berada di dalam gedung terminal sambil menunggu hasilnya.

Selain Maraktayev, ada juga lima warga Rusia yang saat ini terdampar di bandara. Mereka juga menunggu hasil kasus banding permohonan pemberian suaka. “Hidupku kini seperti gelandangan,” ungkapnya.

Terlepas dari keadaannya, Maraktayev menyebutkan, tinggal di Incheon adalah “kejahatan yang lebih rendah” dibandingkan dengan kembali ke Rusia, di mana dia yakin akan ditangkap pada saat kedatangan.

“Kalau saya pulang, saya akan ditangkap polisi, diserahkan ke militer, lalu militer akan mengirimkanku ke garis depan perang,” ungkapya.

Maraktayev berasal dari Buryatia, Siberia. Dia mengaku sempat menyaksikan mobilisasi paling agresif di Rusia. Salah satu teman dekatnya di sekolah yang dikirim ke Ukraina, terbunuh. “Baru dua minggu lalu saya menerima kabar, bahwa teman SMAku telah terbunuh di Ukraina, saat musim gugur. Keluarga bahkan tak tahu apa jenazahnya bisa diambil atau tidak. Ini hal dalam hidup yang tak mau saya bayangkan. Ini mimpi buruk,” ungkapnya.

Rusia menginvasi Ukraina sejak Februari 2022. Ratusan ribu korban tewas baik dari pihak Ukraina maupun Rusia. Bukan hanya warga sipil, puluhan ribu tentara kedua negara juga tewas dalam perang yang belum ada ujungnya ini. (*)

Reporter: Chahaya Simanjuntak

Update