Selasa, 7 April 2026

Tradisi Membangun Gerbang Lampu Colok Menjelang Malam Tujuh Likur, Semangat Bergotong Royong Dalam Kebersamaan

Berita Terkait

batampos– Kabupaten Lingga yang memiliki julukan Negeri Bunda Tanah Melayu memiliki beraneka ragam tradisi dan kebudayaan. Apalagi pada saat Bulan Suci Ramadan, mulai dari menyambut bulan puasa hingga perayaan Idul Fitri masyarakat Kabupaten Lingga melakukan banyak aktifitas atau kegiatan yang menjadi tradisi dan kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Suasana Pembangunan Gerbang Lampu Colok oleh Pemuda Kelurahan Sungai Lumpur di Lapangan Bola Bukit Kabung, Senin (3/3). F. Vatawari/BATAM POS

Gerbang lampu colok salah satunya, setiap momen menyambut malam ke 27 Ramadan atau biasa masyarakat kabupaten lingga menyebutnya malam 7 likor, seluruh pemuda di desa-desa yang ada di kabupaten lingga bergotong royong membangun gerbang lampu colok.

Pantauan Batampos, terlihat kebersamaan dan kekompakan para pemuda Kelurahan Sungai saat membangun gerbang lampu colok pada saat malam hari mulai dari setelah shalat tarawih hingga larut malam.

BACA JUGA: Pemuda Gang Nuri, Kundur Antusias Persiapkan Gerbang Lampu Colok Sambut Malam Tujuh Likur

Lurah Sungai Lumpur, Raja Roni, menyampaikan bahwa kegiatan pembuatan gerbang lampu colok merupakan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang ketika menyambut malam tujuh Likur atau malam ke 27 di bulan Ramadan.

“Tradisi pembuatan gerbang lampu colok menyambut malam tujuh Likur atau malam ke 27 di bulan Ramadan merupakan tradisi masyarakat kabupaten lingga yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi oleh nenek moyang kita terdahulu,” ujar Raja Roni saat dikonfirmasi, Selasa (4/3).

Untuk di kelurahan Sungai Lumpur sendiri, pembangunan gerbang lampu colok ini merupakan inisiatif dari Pemuda Kelurahan Sungai Lumpur serta mendapatkan dukungan penuh dari seluruh Masyarakat Kelurahan Sungai Lumpur.

“Untuk di Kelurahan Sungai Lumpur, pembuatan gerbang ini adalah hasil inisiatif dari para pemuda. Dari kegiatan pembangunan gerbang ini, terlihat kebersamaan bergotong royong yang masih ada pada diri pemuda kekurahan sungai lumpur yang patut kita apresiasi,” ujar Raja Roni.

Selanjutnya, Raja Roni mengungkapkan, adapun tujuan dari pembangunan ini adalah dalam rangka melestarikan tradisi dan kebudayaan masyarakat kabupaten lingga yang telah diwariskan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi.

“Tujuan dari pembuatan gerbang ini adalah masyarakat melalui para pemuda ingin melestarikan kembali tradisi tersebut, selain itu juga, gerbang lampu colok ini InsyaAllaah akan menarik masyarakat lokal dari luar Kelurahan Sungai Lumpur untuk datang melihat keindahan dari gerbang lampu colok yang akan dibangun tersebut,” ungkapnya.

Lurah Sungai Lumpur menambahkn bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya, kebersamaan dan semangat kegotong royongan antar pemuda dan masyarakat di Kelurahan Sungai Lumpur.

“Kami menganggap bahwa nilai tradisi pada pembuatan gerbang tujuh likur ini mempunyai nilai yang positif seperti menjalin silaturrahmi, gotong royong, kebersamaan, kekompakan, kerjasama, bersyukur atas segala rizki yang didapat, berbagi atau sedekah kue untuk yang bekerja, sehingga kami mempunyai keyakinan untuk mempertahankan budaya tersebut” tutup Raja Roni

Kita doakan agar pembuatan gerbang tujuh likur menggunakan lampuk colok ini dapat dilaksanakan secara lancar sebelum malam tujuh likur. Pesan saya untuk Pemuda dan Masyarakat agar terus menjalin silaturrahmi, tetap semangat untuk membangun kampung kite tercinta. (*)

Reporter: Vatawari

Artikel Tradisi Membangun Gerbang Lampu Colok Menjelang Malam Tujuh Likur, Semangat Bergotong Royong Dalam Kebersamaan pertama kali tampil pada Kepri.

Update