Sabtu, 9 Mei 2026

Rahasia di Balik Hutan Mangrove

Berita Terkait

HUTAN mangrove yang sering dikenal sebagai pohon bakau adalah salah satu aset alam yang masih belum sepenuhnya dipahami dan dihargai oleh masyarakat luas.

Padahal, ekosistem ini menyimpan segudang manfaat, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.

Di Indonesia sendiri, data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada tahun 2021, luas hutan mangrove mencapai 4,12 juta hektare. Namun, sangat disayangkan bahwa angka tersebut menurun menjadi 3,31 juta hektare pada tahun 2024.

Penurunan area hutan mangrove sangat merugikan ekosistem laut di Indonesia. Meski demikian, kita masih patut berbangga karena Indonesia tetap menjadi negara dengan hutan mangrove terluas di dunia.

Populasi mangrove kita terdiri dari berbagai jenis, diantaranya Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia. Masing-masing mangrove memiliki peran vital dalam menjaga kestabilan ekosistem pesisir dari mencegah abrasi hingga menjadi rumah bagi berbagai spesies laut.

Tapi, yang sering luput dari perhatian adalah mangrove juga punya potensi luar biasa di bidang kuliner. Buah dan daunnya bisa diolah menjadi makanan unik.

Mangrove bisa diolah menjadi brownies mangrove, cookies mangrove, hingga keripik jeruju. Ini jelas membuka peluang ekonomi yang bagus seperti UMKM lokal.

Sayangnya, aktivitas seperti penebangan liar terus mengancam keberlangsungan ekosistem ini.

Sudah saatnya kita memandang mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di pinggir pantai, tapi sebagai sumber daya strategis yang bisa memberikan manfaat besar, asalkan dikelola dengan bijak dan berkelanjutan.

Kekayaan hayati Indonesia memang tidak ada habisnya untuk dibahas terutama jika kita melihat keanekaragaman tanaman mangrove yang dimiliki negeri ini.

Aneka jenis bakau. (istimewa)

Bayangkan saja, ada sekitar 200 jenis mangrove tumbuh di wilayah pesisir Indonesia, menjadikan negara kita sebagai salah satu yang memiliki keanekaragaman mangrove tertinggi di dunia.

Ini bukan sekadar angka, tapi bukti bahwa Indonesia punya peran besar dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir global. Dari sekian banyak jenis, ada tiga yang paling dikenal dan saya ketahui manfaat nya seperti Rhizophora mucronata, Avicennia officinalis, dan Nypa fruticans.

Masing-masing mangrove menempati zona yang berbeda dan menjalankan fungsi ekologis yang sangat spesifik. Rhizophora mucronate yang biasa disebut bakau hitam bertugas sebagai benteng pertama melawan abrasi laut.

Ia tumbuh kokoh di zona terluar dan berperan penting dalam menyaring air laut yang masuk ke daratan.

Di belakangnya, Avicennia officinalis atau bakau api-api tumbuh di zona tengah, membantu menstabilkan tanah dan mempersiapkan kondisi untuk kehidupan lainnya.

Sementara itu, di zona terdalam, Nypa fruticans atau pohon nipah menjadi tempat tinggal bagi berbagai spesies laut, sekaligus pengikat tanah yang sangat efektif.

Keragaman dan fungsi dari setiap jenis mangrove ini adalah cerminan bagaimana alam bekerja secara harmonis. Setiap spesies punya peran dan kontribusi masing-masing dan semuanya saling melengkapi.

Sayangnya, nilai penting ini sering diabaikan. Padahal jika kita bisa memahami dan mengelola ekosistem mangrove secara lebih bijaksana seperti yang saya pernah pelajari, manfaatnya akan sangat besar, baik untuk keberlanjutan lingkungan maupun kehidupan masyarakat pesisir.

Baca juga: Pajak dan Kewajiban Melakukan Pelaporan

Mangrove adalah salah satu contoh sempurna bagaimana alam merancang sistem yang saling melengkapi. Setiap jenis tanaman mangrove memiliki peran ekologisnya sendiri. Namun ketika semuanya bekerja bersama, tercipta keseimbangan yang luar biasa.

Yang menarik mangrove mampu menyerap karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis. Ini artinya, mangrove bukan hanya penting untuk wilayah pesisir, tapi juga memainkan peran vital dalam mitigasi perubahan iklim secara global.

Lebih dari itu, ekosistem mangrove juga menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan, kepiting, burung, dan biota laut lainnya.

Dengan kata lain, mangrove adalah rumah bagi kehidupan pesisir. Tak heran jika ekosistem ini sering disebut sebagai salah satu yang paling produktif di dunia.

Namun, sekuat dan sepenting apa pun mangrove, kenyataannya mereka sedang berada di ujung tanduk.

Dalam tiga tahun terakhir saja, kita sudah kehilangan sekitar 800 ribu hektare hutan mangrove akibat penebangan liar, alih fungsi lahan menjadi tambak, permukiman, dan kawasan industri.

Ditambah lagi, pencemaran air dan perubahan iklim adalah dalang utama yang memperparah kerusakan ini. Wilayah pesisir yang dulu rindang dan terlindungi kini banyak yang berubah menjadi lahan terbuka rawan abrasi dan kehilangan daya dukung ekologisnya.

Memang, ada berbagai upaya rehabilitasi yang telah digerakkan oleh pemerintah dan komunitas lokal. Tapi harus diakui, tantangan masih cukup besar. Salah satunya seperti minimnya kesadaran masyarakat, lemahnya pengawasan, dan kurangnya insentif untuk pelestarian membuat langkah-langkah tersebut belum optimal.

Menariknya, potensi mangrove tidak berhenti pada fungsi ekologis saja. Banyak orang belum tahu bahwa mangrove juga bisa dinikmati dalam bentuk olahan kuliner yang lezat dan bernilai ekonomi.

Misalnya, seperti daun mangrove jeruju yang bisa diolah menjadi keripik. Ada juga buah pohon mangrove yang disebut tumu, bisa diolah menjadi brownies. Bahkan, baru-baru ini muncul inovasi baru seperti cookies dan dodol berbahan dasar tepung mangrove yang berasal dari buah tumu.

Mengolah mangrove adalah salah satu contoh langkah yang bagus sebagai pendekatan ekonomi kreatif. Hal ini bisa berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.

Produk-produk kuliner berbasis mangrove tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga menjadi alat edukasi yang efektif.

Lewat makanan, orang bisa mengenal mangrove dan mulai peduli terhadap pentingnya menjaga kelestarian mangrove. (*)

Oleh:
Safila Zelfi Afrianti
NIM : 2303050051

Artikel Rahasia di Balik Hutan Mangrove pertama kali tampil pada News.

Update