Minggu, 5 April 2026

Pawai Obor hingga Khatam Al-Quran Warnai Malam Tujuh Likur di Tarempa

Berita Terkait

Camat Siantan, Syamsir menyalakan obor untuk pawai malam tujuh likur di Tarempa sebelum prosesi khatam Al-Qur’an di Masjid Jami Baiturrahim Tarempa. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Suasana berbeda terlihat di Masjid Jami Baiturrahim Tarempa pada malam ke-27 Ramadan, Senin (16/3) malam. Puluhan anak mengikuti prosesi khatam Al-Quran setelah menuntaskan bacaan 30 juz, dari Surah Al-Fatihah hingga An-Nas.

Malam tersebut dikenal masyarakat Melayu sebagai malam “tujuh likur”, momen istimewa yang sarat nilai spiritual menjelang akhir Ramadan.

Dalam tradisi Melayu, malam tujuh likur dipercaya sebagai waktu penuh keberkahan yang mendekati datangnya Lailatul Qadar. Masyarakat memanfaatkannya untuk meningkatkan ibadah, mempererat silaturahmi, serta memakmurkan masjid dengan kegiatan keagamaan.

Sebelum prosesi khataman, para peserta mengikuti pawai obor mengelilingi kawasan Tarempa. Cahaya obor yang berkelip di malam hari menciptakan suasana khidmat sekaligus menyentuh.

Dalam filosofi Melayu, api melambangkan cahaya kehidupan dan petunjuk. Obor yang dibawa anak-anak menjadi simbol bahwa Al-Quran adalah penerang jalan hidup manusia.

Langkah anak-anak yang berjalan beriringan menggambarkan perjalanan iman menuju kebaikan yang hakiki.

Usai pawai, peserta memasuki masjid dengan tertib. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar menggema, dibacakan dengan tartil oleh para peserta.

Prosesi ini dipimpin Camat Siantan, Syamsir, yang hadir bersama Ketua Lembaga Adat Melayu Kepulauan Anambas, Ardhan.

Anak-anak tampil dengan busana terbaik, didominasi warna putih sebagai simbol kesucian. Anak laki-laki mengenakan jubah dan kopiah, sementara anak perempuan memakai mukena.

Di bagian depan, terlihat hiasan telur merah yang menjadi ciri khas tradisi Melayu dalam khataman Al-Quran. Simbol ini melambangkan kehidupan, harapan, dan keberkahan.

Setelah prosesi khatam, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang diikuti peserta dan masyarakat. Momen ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Camat Siantan, Syamsir, mengapresiasi semangat anak-anak dalam mengikuti khataman.

“Ini bukan akhir, tapi awal perjalanan anak-anak untuk terus dekat dengan Al-Quran,” ujarnya.

Ia berharap kebiasaan membaca Al-Quran terus dijaga, tidak hanya selama Ramadan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi malam tujuh likur ini dinilai tidak hanya melestarikan budaya Melayu, tetapi juga menanamkan nilai keimanan sejak dini kepada generasi muda. (*)

Artikel Pawai Obor hingga Khatam Al-Quran Warnai Malam Tujuh Likur di Tarempa pertama kali tampil pada Kepri.

Update