
batampos – Kasus dugaan pungutan liar (pungli) yang melibatkan oknum imigrasi di Batam masih menuai sorotan publik. Praktik yang menyasar wisatawan asing itu dinilai berpotensi mencoreng citra Batam sebagai kota pariwisata, terlebih daerah ini berada di garis depan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Aktivis kemanusiaan, Chrisanctus Paschalis Saturnus, yang biasa disapa Romo Paschal itu, menegaskan bahwa kasus seperti ini memang memiliki dampak serius terhadap persepsi publik, terutama wisatawan mancanegara yang berkunjung.
“Kalau ditanya mencoreng atau tidak, jawabannya ya, tentu berpotensi. Batam adalah wajah Indonesia di perbatasan, berhadapan langsung dengan negara-negara seperti Singapura dan Malaysia,” tegasnya, Rabu (1/4) siang.
Menurutnya, setiap kasus yang menyangkut keamanan, kekerasan, maupun pelanggaran hukum—terlebih yang viral—dapat dengan cepat membentuk opini publik. Namun, ia menekankan bahwa citra sebuah kota tidak semata ditentukan oleh satu peristiwa.
“Citra kota tidak ditentukan oleh satu kasus, melainkan oleh bagaimana negara merespons kasus tersebut. Transparansi, penegakan hukum yang tegas, dan perlindungan terhadap korban justru bisa memperkuat kepercayaan wisatawan,” ujarnya.
Ia menilai, faktor keamanan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Jika kasus serupa terus berulang tanpa penanganan yang jelas, maka kepercayaan publik bisa tergerus.
“Wisatawan pasti mempertimbangkan keamanan. Kalau dianggap berulang dan tidak tertangani dengan baik, tentu menimbulkan kekhawatiran,” katanya.
Namun demikian, Romo Paschal melihat peluang pemulihan kepercayaan tetap terbuka, selama aparat bergerak cepat dan tegas dalam menangani kasus.
“Kalau aparat bekerja cepat, pelaku ditindak tanpa pandang bulu, dan sistem diperbaiki, kepercayaan bisa pulih,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, banyak kota wisata dunia pernah menghadapi persoalan serupa, tetapi tetap dipercaya karena memiliki sistem hukum yang kuat dan responsif.
“Yang berbahaya bukan semata-mata kasusnya, tapi jika ada kesan pembiaran. Itu yang tidak boleh terjadi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Khusus TPI Kelas I Batam, Hajar Aswad, menyampaikan bahwa proses investigasi terhadap kasus tersebut masih berjalan dan menunggu hasil dari pemerintah pusat.
“Kami masih menunggu hasil dari kementerian. Sanksinya bisa ringan sampai berat,” ujar Hajar saat ditemui, Selasa (31/3) siang.
Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya sanksi tegas, termasuk pemecatan, apabila terbukti terjadi pelanggaran berat. “Kalau pelanggaran berat, bisa sampai dipecat,” tegasnya.
Kasus ini sebelumnya menyeret pegawai imigrasi yang berinisial JS yang diduga bekerja sama dengan calo berinisial AC dalam praktik pungli terhadap wisatawan asing.
Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi sektor pariwisata Batam yang tengah menggenjot kunjungan wisatawan sebagai salah satu program prioritas daerah.
Di tengah upaya meningkatkan daya tarik wisata, persoalan integritas layanan di pintu masuk negara menjadi krusial. Penanganan yang cepat, transparan, dan tegas kini menjadi kunci untuk menjaga wajah Batam tetap ramah di mata dunia.(*)
Artikel Romo Paschal Sebut Pungli di Pintu Masuk Negara jadi Alarm Serius untuk Batam pertama kali tampil pada Metropolis.
