
batampos – Gejolak di Timur Tengah mulai merambat hingga ke sektor riil. Tidak hanya berdampak pada energi, krisis yang memanas di kawasan tersebut kini turut menekan harga bahan baku plastik global, yang imbasnya mulai dirasakan pelaku usaha di Batam.
Kenaikan harga bahan baku plastik impor membuat harga produk plastik di pasaran ikut terdorong naik. Hampir seluruh jenis kemasan plastik mengalami kenaikan.
Irman, salah seorang pemilik kios di kawasan Batam Center, mengaku kenaikan harga plastik sudah terasa signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, lonjakannya mencapai 30 hingga 80 persen, tergantung jenis plastik yang digunakan.
Ia menyebut, kenaikan paling terasa terjadi pada plastik kresek polos yang umum dipakai pedagang. “Harga plastik kresek per pak sekarang jadi Rp15 ribu, padahal sebelumnya sekitar Rp5 ribu saja,” kata dia, Selasa (7/4) siang.
Selain itu, plastik kemasan ukuran sedang, yang biasanya digunakan untuk membungkus makanan atau barang belanjaan, juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dijual di kisaran Rp30 ribu per kilogram, kini harganya naik menjadi sekitar Rp45 ribu per kilogram.
Menurut Irman, kenaikan juga terjadi pada beberapa jenis plastik lain seperti plastik bening (PP/PE) dan plastik tebal untuk kemasan, yang banyak digunakan pelaku usaha kecil.
Meski tidak semua merek mengalami kenaikan yang sama, sebagian besar produk dari distributor lokal maupun merek umum di pasaran mengalami penyesuaian harga.
“Kenaikannya memang beda-beda, tapi hampir semua jenis plastik naik. Mau tidak mau kami juga harus ikut menyesuaikan,” ujarnya.
Pakar Ekonom Batam, sekaligus Dosen Ekonomi, Suyono Saputra, menilai kondisi ini perlahan memberi tekanan, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.
Ia menjelaskan bahwa salah satu turunan minyak mentah yang menjadi bahan baku utama plastik adalah nafta.
“Itu bahan baku yang esensial untuk plastik. Nah sejak Selat Hormuz ini terganggu, maka pasokan global ini memang cenderung menurun, menjadi keresahan perusahaan plastik seluruh dunia termasuk Indonesia,” kata dia, Selasa (6/4) siang.
Menurutnya, selama ketegangan di kawasan tersebut belum mereda, dampaknya akan terus menjalar ke berbagai sektor yang menggunakan plastik sebagai komponen utama.
“Sehingga kondisi ini memang dikhawatirkan harga penjualan plastik di level retail itu akan naik,” ujarnya.
Di Batam sendiri, dampaknya mulai terasa. Sejumlah pelaku UMKM yang menggunakan plastik untuk kemasan mengaku sudah menghadapi kenaikan harga.
“Harganya sudah naik. Bisa kita cek di level distributor maupun ecer, itu sudah naik. Sehingga mau tidak mau pelaku UMKM akan menaikkan harga jualnya,” jelasnya.
Kenaikan ini bukan hanya soal biaya produksi, tetapi juga menyentuh daya beli masyarakat. Ketika harga kemasan naik, pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga produk.
Lebih jauh, Suyono mengingatkan potensi dampak yang lebih besar jika kondisi global tidak segera membaik. Bukan hanya harga yang naik, tetapi juga risiko terganggunya pasokan.
“Kalau kondisi ini tidak selesai dalam waktu cepat, bukan hanya harga plastik saja yang naik. Bisa-bisa pasokannya malah terputus, produksinya makin terbatas,” katanya.
Dalam situasi seperti itu, hukum pasar akan bekerja keras: ketika produksi terbatas sementara permintaan tetap tinggi, harga akan melonjak tajam.
“Kalau produksi terbatas, sementara kebutuhannya masih tinggi, maka harga akan naik gila-gilaan. Nah ini yang dikhawatirkan bisa menyebabkan harga di pelaku usaha juga naik,” tegas dia.(*)
Artikel Konflik di Timur Tengah Picu Kenaikan Plastik, akan Berdampak ke UMKM Batam pertama kali tampil pada Metropolis.
