Jumat, 17 April 2026

”Joker” dan Cara Sederhana Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat

Berita Terkait

Ia dikenal lewat senyum dan candaan, bukan jarak dan ketegasan. Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus memori mendalam di benak banyak orang tentang jejak hangat seorang petugas kepolisian yang ramah, hangat dan dekat dengan masyarakat.

Ipda Supriadi. (F.Istimewa)

KAMIS dini hari itu, kabar duka bergerak pelan dari Jakarta menuju Batam. Waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB saat Ipda Supriadi dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Telepon berdering bersahutan. Pesan singkat berantai memenuhi layar ponsel. Nama yang selama ini akrab disapa “Joker” itu berulang kali disebut, dan kepergiannya menjadi kabar kehilangan yang sulit dipercaya.

Beberapa jam sebelumnya, suasana sunyi sempat menyelimuti kamar hotel tempat ia menginap. Rekannya, Bripda Adi, yang baru kembali dan hendak masuk kamar, merasa ada yang tidak biasa. Ia mengetuk pintu, memanggil nama Supriadi berulang kali. Namun tak ada jawaban.

Pintu akhirnya dibuka bersama petugas hotel. Di dalam kamar, Supriadi ditemukan terbaring lemah, tanpa respons. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, upaya itu berakhir pahit. Dokter menyatakan nyawanya tidak tertolong.

Bagi banyak orang di Batam, Supriadi bukan sekadar anggota polisi. Ia adalah wajah ramah di balik seragam. Sosok yang lebih sering hadir dengan senyum daripada nada tinggi.

Orang-orang mengenalnya dari hal-hal sederhana. Sapaan di pinggir jalan. Candaan kecil di tengah keramaian. Atau caranya mendengar tanpa terburu-buru menyela.

Baca Juga: Kasus Laka Lantas di Kepri Meningkat, Korban Didominasi Pelajar

Julukan “Joker” pun lahir dari kebiasaan itu. Bukan karena sosok menyeramkan seperti di film, melainkan karena kemampuannya mencairkan suasana. Di tengah tekanan tugas, ia justru menghadirkan tawa.

Nama itu tumbuh dan melekat. Bahkan, banyak orang lebih mengenalnya sebagai Joker ketimbang nama aslinya.

Selama berdinas di Polresta Barelang hingga bertugas di Bidang Humas Polda Kepri, Supriadi dikenal tak pernah membangun jarak. Baginya, seragam bukan tembok, melainkan jembatan.

Ia menyapa lebih dulu. Mengulurkan tangan. Mendengar cerita seperti sahabat lama.

Kenangan tentangnya tersebar dalam hal-hal kecil yang tak pernah tercatat dalam laporan resmi. Ada pedagang yang mengingat dirinya pernah berhenti sekadar membeli dagangan sambil menanyakan kabar keluarga. Ada anak muda yang masih mengingat nasihatnya saat kehilangan arah. Ada pula keluarga yang merasakan kehadirannya sebagai penenang.

Ia memang tidak selalu datang dengan solusi besar. Namun kehadirannya cukup membuat orang merasa tidak sendirian.

Di media sosial, sosok Joker tetap sama. Melalui akunnya, ia aktif merespons pesan warga dengan bahasa santai, jauh dari kesan kaku.

Bagi banyak orang, akun itu bukan sekadar milik seorang polisi, melainkan ruang kecil untuk didengar.

Ketika kabar wafatnya tersebar, media sosial pun berubah menjadi ruang duka. Ungkapan kehilangan datang dari berbagai arah.

“Saya bersaksi beliau orang baik. Pak polisi yang ramah dan tegas,” tulis Aldi, warganet dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook.

Kalimat sederhana itu seperti mewakili banyak perasaan yang sulit diucapkan. Ucapan serupa bermunculan, tidak hanya mengenang profesinya, tetapi juga kehangatan yang ia tinggalkan.

Di lingkungan kerja, kesan yang sama juga terasa. Agus, salah satu anggota kepolisian di Polda Kepri, menuliskan duka singkat namun dalam, “Kami kehilangan sosok yang rendah hati dan baik.”

Tak banyak kata, tetapi cukup menggambarkan seperti apa Supriadi di mata orang-orang terdekatnya, tenang, bersahaja, dan tetap hangat di tengah kerasnya tugas.

Bahkan, duka itu melampaui batas profesi. Sejumlah musisi nasional yang mengenalnya turut menyampaikan belasungkawa. Personel dari grup band Slank dan Sheila on 7, turut mengungkapkan rasa kehilangan.

Bagi mereka, Supriadi bukan sekadar polisi yang pernah dikenal. Ia adalah sosok yang tulus. Kehadiran doa dari para musisi itu menjadi gambaran bahwa kebaikan seseorang memang bisa menjangkau banyak lingkaran, bahkan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Di rumah duka kawasan Baloi, suasana haru terasa sejak pagi. Karangan bunga berjejer memenuhi halaman. Pelayat datang silih berganti—ada yang berseragam, ada pula warga biasa yang hanya ingin mengucapkan selamat jalan.

Isak tangis pecah di antara doa-doa yang dipanjatkan. Beberapa orang berdiri lama di dekat jenazah, seolah belum siap menerima kenyataan.

Bagi keluarga, Supriadi adalah tempat pulang. Di rumah, ia bukan Joker yang dikenal banyak orang. Ia adalah ayah, saudara, dan pribadi sederhana yang selalu berusaha hadir.
Di balik candaan yang sering ia lontarkan, tersimpan hati yang lembut—dan riwayat sakit yang tak banyak diketahui.

Sebelum berpulang, Ipda Supriadi mengikuti kegiatan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Fungsi Humas Polri di Jakarta Selatan. Seluruh rangkaian berjalan lancar.

“Bahkan pada siang harinya, Bidang Humas Polda Kepri mendapatkan penghargaan dari Divisi Humas Polri,” ujar Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Nona Pricillia Ohei.

Penghargaan itu meliputi keaktifan di SPIT Media Hub, e-Learning, serta produksi konten Humas TV. Supriadi turut mewakili dalam penerimaan tersebut.

Namun malam harinya, kondisi kesehatannya diduga menurun. Rekan satu kamarnya sempat berkomunikasi sekitar pukul 22.00 WIB.

“Sekitar pukul 23.00 WIB, rekannya satu kamar kembali dan mencoba masuk, namun pintu tidak bisa dibuka karena terkunci dari dalam,” jelasnya.

Saat pintu dibuka, Supriadi ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Setelah diperiksa, dinyatakan bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia,” kata Nona.

Dari informasi kedokteran, almarhum memiliki riwayat penyakit jantung.

“Selama kegiatan di Jakarta tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke kondisi serius. Namun memang ada riwayat sakit jantung,” tambahnya.

Jenazah telah dipulangkan ke Batam dan dimakamkan di TPU Seitamiang secara kedinasan.

“Karena almarhum merupakan anggota Polri, maka pemakaman dilakukan secara kedinasan,” tutup Nona.

Kini, Joker memang telah pergi. Namun jejaknya tak ikut hilang.

Ia dikenang bukan karena pangkat di pundaknya, tetapi karena caranya memperlakukan orang lain. Di tengah dunia yang sering terasa dingin, ia memilih menjadi hangat.

Dan di tengah tugas yang kerap menciptakan jarak, ia justru hadir, mendekat, dengan senyum. (*)

Artikel ”Joker” dan Cara Sederhana Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat pertama kali tampil pada Metropolis.

Update