
batampos – Kenaikan tajam harga bahan bakar nonsubsidi jenis Pertamina Dex dan Dexlite memicu tekanan serius di sektor logistik Kota Batam. Pelaku usaha memperingatkan, lonjakan biaya distribusi berpotensi merembet ke harga kebutuhan pokok dalam waktu dekat.
Harga Pertamina Dex dilaporkan naik dari Rp14.800 menjadi Rp24.000 per liter. Sementara Dexlite melonjak dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter.
Kenaikan hampir dua kali lipat ini dinilai sulit diserap oleh pelaku jasa pelayanan transportasi (JPT) yang selama ini berupaya menahan tarif.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan kenaikan harga bahan bakar membuat pelaku usaha tak lagi memiliki ruang untuk menahan biaya operasional.
“Kami sudah berusaha bertahan tidak menaikkan harga, karena setiap kenaikan di sektor transportasi pasti berdampak langsung ke masyarakat,” ujarnya, Sabtu,(18/4).
Menurut Yasser, struktur pasokan Batam yang sangat bergantung pada distribusi dari luar daerah memperparah dampak kenaikan ini. Sebagian besar komoditas, termasuk bahan pokok, didatangkan dari Jakarta, Belawan, hingga impor dari Singapura dan negara lain. Kondisi tersebut membuat biaya logistik di Batam sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar.
Berbagai langkah efisiensi, seperti optimalisasi rute distribusi dan pengaturan ulang jadwal pengiriman, disebut telah dilakukan. Namun lonjakan harga BBM dinilai terlalu tinggi untuk diimbangi dengan efisiensi semata. ALFI pun memberi kelonggaran kepada anggotanya untuk menyesuaikan tarif angkutan.
“Kami mempersilakan anggota untuk menaikkan biaya transportasi. Jangan sampai menahan beban ini justru mengorbankan keberlangsungan usaha,” kata Yasser.
Ia juga menyoroti disparitas kebijakan energi antara Batam dan wilayah lain. Di sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera, pelaku logistik masih dapat mengakses BBM bersubsidi dengan harga sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per liter.
Sementara di Batam, pelaku usaha diwajibkan menggunakan BBM nonsubsidi yang sebelumnya berada di kisaran Rp13.000–Rp14.000 per liter, dan kini melonjak ke atas Rp24.000.
“Kondisi ini membuat daya saing logistik Batam semakin tertekan,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, kenaikan harga bahan bakar dipastikan akan mendorong naiknya tarif distribusi barang. Dampak lanjutan yang dikhawatirkan adalah kenaikan harga sembako, mengingat seluruh rantai pasok kebutuhan pokok di Batam bergantung pada transportasi laut dan darat dari luar wilayah.
Tekanan biaya juga datang dari sektor pelayaran. Kenaikan tarif kapal pandu tunda disebut berpotensi menambah ongkos pengiriman laut, sehingga memperberat total biaya logistik.
ALFI memperingatkan, jika kondisi ini berlangsung tanpa intervensi kebijakan, sebagian pelaku usaha berisiko tidak mampu bertahan. “Yang kami khawatirkan, jika tidak kuat, ada perusahaan yang terpaksa gulung tikar,” kata Yasser.
Sebagai langkah lanjutan, ALFI Batam berencana mengirimkan surat resmi kepada Badan Pengusahaan Batam dan Pertamina pada awal pekan depan.
Mereka berharap dialog dapat segera dibuka untuk mencari solusi konkret, termasuk kemungkinan akses terhadap bahan bakar dengan harga lebih terjangkau bagi sektor logistik.(*)
Artikel Kenaikan Pertamina Dex dan Dexlite Hantam Bisnis di Sektor Logistik Batam pertama kali tampil pada Metropolis.
