
batampos.co.id – Aktifitas reklamasi yang berdampak buruk bagi lingkungan sekitar masih marak terjadi di wilayah Tanjunguncang. Salah satunya adalah aktivitas pemotongan bukit di lahan kosong samping Rusunawa Tanjungncang dan penimbunan hutan bakau yang berada di belakang lokasi perumahan Putera Jaya, Tanjunguncang, Batuaji.
Akibat aktifitas tersebut warga yang berdiam di sekitar lokasi proyek jadi tak nyaman. Pasalnya badai debu dan ancaman banjir menjadi kekuatiran serius warga di sana saat ini.
Rusli, warga perumahan Putra Jaya yang mengaku sudah resah dengan aktifitas pemotongan bukit dan penimbunan hutan bakau itu menuturkan, ancaman serius yang dihadapi warga akibat proyek tersebut saat ini adalah badai debu. Aktifitas alat berat dan truk pengangkut tanah yang memotong bukit dan memindahkan material tanah untuk menimbun hutan bakau membuat warga di tempat tinggalnya diserang badai debu setiap saat.
“Sudah sebulan ini proyek itu berjalan dan hari-hari kami diserang debu. Rumah tak pernah bersih. Sampai ke dalam kamarpun berdebuh karena proyek itu,” ujarnya, kemarin.
Handoko, warga lainnya menambahkan yang lebih mengkuatirkan adalah imbas dari penimbunan hutan bakau di belakang perumahan mereka itu. Jika hutan bakau yang menjadi daerah resapan air itu ditimbun semua maka perumahan-perumahan yang ada di dekatnya akan menjadi lokasi langganan banjir nantinya.
“Tahulah daerah di sini bagaimana. Satu-satunya alur air mengalir ke arah hutan bakau yang mereka timbun itu, jadi kalau itu ditutup jadi kolam nanti rumah kami di sini,” tuturnya.
Warga menyesalkan kebijakan pemerintah dalam hal memberikan izin pemotongan lahan dan penimbunan hutan bakau tersebut yang tanpa mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Kami tak melarang kegiatan seperti itu, tapi setidaknya ya pertimbangkanlah dampaknya. Jangan pihak proyek yang enak, kami warga yang sengsara karena dampaknya,” tutur Rusli.
Pantauan dilapangan, aktifitas pemotongan bukit tersebut masih terus berjalan hingga siang kemarin. Tanah-tanah dari pemotongan lahan perbukitan itu diangkut oleh puluhan truk pengakut tanah ke lokasi hutan bakau di belakang perumahan Putera Jaya.
Pihak proyek saat dikonfirmasi belum bisa memberikan keterangan pasti terkait kegiatan mereka itu. Pengawas proyek Eduard di lokasi penimbunan hutan bakau tidak bisa memberikan komentar yang pasti terkait keluhan warga tersebut.
“Waduh kami hanya pekerja, kalau konfirmasi yang jelas ke pihak perusahaan saja ya. Kami hanya pekerja di sini,” ujarnya singkat tanpa memberitahukan perusahaan apa dan siapa yang bertanggung jawab atas kegiatan proyek tersebut. (eja)
