Rabu, 8 April 2026

Kelola Sampah Jadi Bernilai Ekonomis

Berita Terkait

DIRJEN Cipta Karya dan Dirjen PPLP saat mengkampanyekan pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis di TPS3R Tanjungunggat, Senin (27/11). F. Cipi Ckandina/Batam Pos

batampos.co.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PPLP) mengkampanyekan pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman (PSPLP) Kepri, Fery Erawan menjelaskan, pihaknya telah menyediakan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Reduce (mengurangi, Reuse (menggunakan), Recycle daur ulang) (TPS 3R) di Tanjungunggat. “Reduce itu artinya upaya mengurangi timbunan sampah. Reuse, memanfaatkan kembali bahan atau barang agar tidak menjadi sampah. Dan Recycle adalah menggunakan kembali bahan setelah melalui proses pengolahan,” jelasnya.

Kegiatan tersebut kata Fery, merupakan gerakan peduli mitigasi bencana dalam melindungi dan optimalisasi fungsi situ, danau, waduk, embung, dan sumber air permukiman lainnya.

Tidak hanya mengenalkan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang berguna seperti pupuk dan lainnya, melalui kegiatan ini juga PSPLP Kepri juga melakukan penanaman pohon di wilayah Dompak.”Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat agar peduli terkait sampah. Karena dengan sampah bisa mendapatkan berkah, juga bisa menimbulkan bencana,” ungkapnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya, Rina Agustin mengatakan gerakan peduli sampah ini difokuskan di wilayah perkotaan, karena lebih dari 52 persen penduduk ada di perkotaan.”Dalam sehari, setiap orang menghasilkan sekitar dua liter sampah. Dapat dibayangkan jika ini (sampah) tidak dikelola dengan baik. Akan menimbulkan bencana seperti banjir,” terangnya.

Tetapi sebaliknya lanjut Rina, jika dikelola dengan baik maka akan menghasilkan nilai ekonomis yang luar biasa. Hingga saat ini pengolahan sampah di TPS3R ini mampu memproduksi pupuk kompos sebanyak 50 bungkus setiap hari. “Bayangkan, dari sampah bisa menghasilkan 50 bungkus sehari dikali Rp 50 ribu perbungkus. Ini menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis,” ujar Rina.

Sekda Pemko Tanjungpinang, Riono menyambut baik program yang diluncurkan Kementerian PUPR. Permasalahan sampah di Tanjungpiang ada di wilayah pesisir pantai atau warga yang bermukim di sekitar pelantar.”Mungkin yang harus dirubah adalah mindset atau pola pikirnya di daerah pesisir. Karena selama ini warga yang tinggal di pelantar menjadikan laut sebagai tempat sampah. Alhasil, puluhan ton sampah memenuhi pesisir pantai,” ungkapnya. (cca)

Update