Kamis, 23 April 2026

Belajar Sambil Berkisah, Memotivasi Anak Menjadi Lebih Islami

Berita Terkait

Kak Aam saat berkisah di sakah satu sekolah di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. F.Amri untuk Batam Pos

batampos.co.idBelajar sambil bermain, apalagi belajar sambil mendengarkan cerita atau kisah inspirasi yang disampaikan pencerita atau juru kisah dan disampaikan dengan cara yang menyenangkan serta dapat dinikmati, menjadi cara belajar yang paling disukai anak-anak. Itulah yang dilakukan seorang juru kisah yaitu Amrie Poerbha Yogya Sayektie,33 atau akrab disapa Kak Aam.

Kak Aam menceritakan, dirinya mulai menjadi juru kisah saat berada di kampung halamannya Yogyakarta. saat itu, ia bergabung dengan komunitas Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) yang mengajar anak-anak mengaji sambil bercerita atau berkisah.

Alhamdulillah sejak datang ke Tanjungpinang tujuh bulan lalu, saya langsung melakukan kegiatan bercerita ini dengan berkeliling ke sekolah-sekolah,” kata Pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Tanjungpinang ini.

Bercerita atau berkisah dengan kisah-kisah Islami seperti kisah nabi, kisah di Alquran serta cerita fiksi Islami, menurutnya dapat memotivasi anak-anak membentuk karakter dan menjadi motivasi utuk menyiapkan masa depan.  Bahkan kisah kisah yang diceritakan dapat dicontoh anak anak dan mengubah perilakunya secara positif dalam keseharian.

Insya Allah dengan berkisah dapat mengubah perilaku anak yang mendengarkan menjadi lebih baik,” kata Ayah dua anak tersebut.

Selain itu juga dapat meningkatkan keimanan anak-anak dan menjadi sarana komunikasi yang positif bagi orangtua untuk menyampaikan pesan moral dan akhlak yang ingin ditanamkan kepada anak.

“Dengan cerita dengan nilai nilai islami, membuat anak-anak merasa tidak digurui dengan nasehat yang diberikan, anak-anak ini bisa menerima pesan secara menyenangkan,” paparnya.

Berkisah, sambung Kak Aam membutuhkan keterampilan tersendiri, improvisasi dan keterampilan orang seperti meniru suara-suara. Selain itu juga membutuhkan jam terbang dan pengalaman bercerita serta berdakwah di depan khalayak.

“Menjadi juru kisah butuh pengalaman tampil di depan umum, selain itu keterampilan menggunakan oral atau mulut untuk meniru suara suara agar anak merasa terhibur dengan kisah yang disampaikan,” kata lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurutnya, saat ini banyak permintaan untuk juru kisah.  karena semakin banyak orangtua dan guru guru menyadari pentingnya kisah Islami untuk anak dan remaja. “Banyak orang tua dan guru yang ingin memberi pendidikan dengan menceritakan kisah-kisah di Alquran dan kisah nabi untuk mendidik anak anak,” ujar lelaki yang mahir berbahasa arab ini.

Selain menadi juru kisah, Kak Aam juga aktif memberi pelatihan bagi siapapun yang ingin menjadi juru kisah. “Tidak hanya memberikan pelatihan bagi masyarakat, saya juga memberikan kajian Parenting bagi orang tua untuk mendidik anak,” pungkasnya. (odi)

Update