
batampos.co.id – Tender pengelolaan Dam Tembesi akan segera dibuka. Market Soundingnya akan segera dimulai pada April ini. 18 perusahaan lokal maupun asing berminat, termasuk Adhya Tirta Batam (ATB).
“Kami masih berkonsentrasi untuk lelang di Tembesi. Dengan sistem kerjasamanya adalah kerjasama pemanfaatan aset (KSP). Siapa saja bisa ikut baik swasta, BUMN dan lainnya. Siapa yang menang adalah siapa yang terbaik,” kata Deputi IV BP Batam Eko Budi Soepriyanto, Kamis (5/4) di Gedung BP Batam.
Dalam proses lelang kali ini, pemenang tender akan menangani enam kegiatan dari proses hulu produksi air baku di Dam Tembesi.”Dari waduk ke transmisi, lalu dari transmisi ke Water Treatment Plant (WTP), dari WTP ke reservoir, dari reservoir ke titik distribusi. Termasuk juga pemeliharaan pipa dan pemeliharaan waduknya,” jelas Eko.
Sedangkan proses hilirnya dimana air baku akan dikelola menjadi air bersih menjadi hak dari ATB yang masih terikat konsesi pengelolaan air hingga tahun 2020.
Setelah konsesi selesai, maka akan menjadi tanggungjawab dari si pemenang tender untuk pengelolaan air di Batam.”Prosesnya masih kita serahkan kepada ATB untuk bisa terima air di Tembesi agar bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Dalam menentukan pemenang lelang nanti, BP Batam akan melihat kepada kapabilitas dan kemampuan finansialnya. Kapabilitas akan diprioritaskan kepada perusahaan yang mempunyai banyak pengalaman dalam membangun infrastruktur air seperti WTP.
“Keuangan yang mencukupi dan pengalaman kelola air ini yang sangat penting. Kami akan prioritaskan untuk perusahaan yang buat WTP,” katanya.
Selain itu, BP Batam akan prioritaskan kepada perusahaan lokal. Untuk perusahaan asing yang berminat, maka harus menjalin kerjasama dengan rekan lokal. Penyertaan modalnya harus lebih banyak lokal dengan perbandingan paling kecil adalah 51 banding 49.
“Siapapun dia, mudah-mudahan dapat perusahaan terbaik. Pengalaman yang kita perlukan terutama yang bisa melakukan konstruksi instalasi pengelolaan air (IPA),” ujarnya.
Untuk sistem kerjasamanya akan menganut sistem KSP. Dalam hal ini Mitra KSP harus membayar kontribusi tetap setiap tahun selama jangka waktu pengoperasian yang telah ditetapkan dan menyetor pembagian keuntungan hasil KSP ke rekening Kas Umum Daerah.
Perhitungan besaran kontribusi pembagian keuntungan yang merupakan bagian pemerintah daerah, harus memperhatikan perbandingan nilai barang milik daerah yang dijadikan objek KSP dan manfaat lain yang diterima pemerintah daerah dengan nilai investasi mitra dalam KSP.
Terpisah, Presiden Direktur ATB Benny Andrianto mengatakan perusahaan air minum ini akan ikut lelang pengelolaan Dam Tembesi. “Yes makanya saya bilang seharusnya ikut, karena kalau secara teoritis tidak ada hal yang menyebabkan kami tak ikut,” katanya belum lama ini.
ATB sudah terbukti bisa mengelola dengan baik distribusi air di Batam. Benny mengilustrasikan ATB ini sudah membangun sistem, infrastruktur dan jaringan utilitas yang rapi dan tersusun dengan profesional.
Batam kata Benny punya potensi sedemikian dahsyat sebagai ladang investasi dalam bidang pengelolaan air.”Batam sudah dikelola dengna baik, siapa yang tak pengen,” jelasnya.(leo)
