Kamis, 16 April 2026

Melihat Perjuangan Pedagang Air Bersih di Wilayah Pesisir

Berita Terkait

Man sedang menarik selang air dari rumah pelanggan beberapa waktu lalu di Pelantar II, Tanjungpinang. F. Faradilla/batampos.co.id

batampos.co.id – Air laut surut adalah tantangan sekaligus persoalan serius bagi penjual air keliling di wilayah pesisir.

Man telah menjalani profesi yang sama sejak 1980an silam. Kala itu, ia masih remaja. Menarik selang sebesar lengan pria dewasa, yang bermeter-meter panjangnya diakui Man bukanlah hal yang mudah.

“Lumayan beratlah. Apalagi kami tarek dari pompong ni masuk ke rumah-rumah orang,” sembari kembali menggulung lengan bajunya yang tak panjang.

Man merupakan salah satu, penjual air bersih bagi warga yang tinggal di pesisir laut. Keberadaan rumah warga yang sulit ditembus melalui darat. Menjadi kendala tersendiri jika sedang membutuhkan air bersih. Para penjual air seperti Man inilah, yang lantas mampu memberikan solusi.

Rumah-rumah panggung yang berada di atas laut. Pemukiman padat yang menjorok ke arah laut, hingga ruko-ruko yang lebih mudah diakses via laut. Menjadi para pelanggan para penjual air tersebut.

Menggunakan pompong berukuran besar, dengan bagian depann yang dipenuhi oleh tangki-tangki berwarna orange. Seperti pompong yang dinahkodai, bagian depannya telah dipenuhi lima buah tangki. Berisikan air bersih yang siap disalurkan ke rumah pembeli.

Tak hanya tangki, pompong pun dilengkapi dengan mesin penyedot air beserta selang. Semua perkakas ini, menjadi barang wajib ada. Sehingga tiap kali menerima panggilan dari para pelanggan, Man harus memastikan dulu semua perkakas ini. Stok air terpenuhi, mesin air dapat digunakan, hingga selang yang sudah tergelung rapi di atas pompong. Man pun siap mengendarai pompong menuju rumah pelanggan. Tak bertemankan orang yang membantunya, Man mengaku terbiasa melakukannya sendiri.

“Memang semua dikerjain kami sendiri. Tinggal tarek aja selang ni rumah orang, trus hidupkan mesin,” ujar Man.

Namun pekerjaan yang ia jalani tentu tidak semudah yang ia katakan. Utamanya bagi yang awam. Jika dibandingkan dengan penjual air di daratan, tentu para penjual air di laut membutuhkan tenaga dua kali lipat. Namun tantangan sebenarnya bukanlah di tenaga yang diperlukan. “Kalau tantangannya pasti pas air laut surut,” ujarnya.

Saat air laut tengah surut inilah, pompong yang membawa air bersih tentu tidak dapat merapat ke rumah pelanggan. Pilihannya hanya dua, bekerja ekstra dari jarak yang terbilang jauh. Atau balik arah dan menanti pasang datang.

Seringkali, menurut Man, pilihan kedua menjadi pilihannya. “Pelanggan kami tak banyak, makanya harapannya selalu air laut tengah pasang kalau pas pelanggan minta datang,” ujarnya lalu melompati pompong lain sebelum tiba di pompongnya. (aya)

Update